Cara Pemerintah Cina Dorong Penjualan Mobil Ramah Lingkungan
03 Januari 2026, 19:00 WIB
Kebijakan dari pemerintah seperti insentif jadi perhatian utama pabrik otomotif China sebelum investasi di RI
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Banyak pabrik China mulai masuk dan berinvestasi di Indonesia karena melihat peluang pasar yang besar. Salah satu hal jadi pertimbangan untuk pabrikan adalah kebijakan pemerintah.
Saat ini regulasi berlaku berupa relaksasi pajak untuk mobil listrik murni alias BEV (Battery Electric Vehicle). Sedangkan kendaraan ramah lingkungan lain seperti hybrid dan Plug-In Hybrid belum mendapatkan keringanan.
Kelanjutan insentif mobil listrik juga jadi pertanyaan mengingat pergantian pemerintahan terjadi tidak lama lagi. Manufaktur asal China banyak menanamkan modal, sehingga mereka berharap subsidi masih tetap dilanjutkan guna mendukung elektrifikasi.
Seperti disampaikan oleh pihak BYD (Build Your Dreams). Raksasa otomotif dari Tiongkok itu sekarang memasarkan empat model yakni Dolphin, Atto 3, Seal dan M6.
Hanya saja masih berstatus CBU (Completely Built Up/impor utuh) dan memanfaatkan subsidi karena telah berkomitmen bakal membangun pabrik.
Ketika ditanya tanggapan terkait peluang insentif mobil listrik dihentikan di pemerintahan baru, perwakilan BYD berharap hal itu tidak terjadi.
“Salah satu yang saya lihat, kunci keberhasilan negara adalah konsistensi kebijakan,” kata Luther Panjaitan, Head of PR & Government Relations PT BYD Motor Indonesia di Bekasi, Jawa Barat belum lama ini.
Apalagi jika melihat adopsi kendaraan listrik yang dinilai membaik selama ini. Ia mendukung jika pemberian insentif mobil listrik tetap berlanjut.
“Keinginan kami adalah terus konsolidasi untuk pengembangan kebijakan lebih baik,” tegas dia.
Di lain sisi, PT CSI (Chery Sales Indonesia) juga berniat untuk terus mendukung transisi penggunaan kendaraan ramah lingkungan. Mereka berencana memperkenalkan mobil hybrid namun masih menunggu kebijakan pemerintah.
“Kita ada rencana coba bawa (Tiggo 8 PHEV) setir kanan di 2024, tetapi juga tergantung Policy dari pemerintah,” kata Zeng Shuo, Assistant President Director PT CSI di Jakarta Selatan, Selasa (8/10).
Model dipilih adalah SUV (Sport Utility Vehicle) karena melihat kebutuhan masyarakat saat ini yang dinilai membutuhkan kendaraan fungsional dengan kapasitas besar dan cocok untuk penggunaan keluarga.
Wacana pemberian insentif untuk mobil hybrid sejauh ini memang tidak dilanjutkan karena pemerintah fokus pada BEV. Namun masih banyak pabrikan menunggu insentif buat mobil hybrid karena berpeluang menarik konsumen beralih dari kendaraan konvensional.
Ditambah lagi mobil hybrid terbilang serupa mobil mesin bensin. Karena pemilik tidak perlu melakukan Charging, tetapi cukup mengisi bahan bakar bensin.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
03 Januari 2026, 19:00 WIB
03 Januari 2026, 09:00 WIB
02 Januari 2026, 16:00 WIB
02 Januari 2026, 15:00 WIB
02 Januari 2026, 14:16 WIB
Terkini
04 Januari 2026, 07:00 WIB
Toyota Veloz Hybrid mendapatkan tanggapan positif dari konsumen, terpesan ribuan unit dalam waktu singkat
03 Januari 2026, 19:00 WIB
Penjualan mobil dan adopsi NEV didorong melalui pemberian subsidi tukar tambah, berikut skema insentifnya
03 Januari 2026, 17:00 WIB
Dikta Wicaksono memiliki koleksi kendaraan yang cukup menarik digarasinya mulai dari mobil hingga motor klasik
03 Januari 2026, 15:00 WIB
TAM memutuskan mempertahankan harga Toyota Veloz Hybrid agar konsumen semakin tertarik membeli produk mereka
03 Januari 2026, 11:00 WIB
Setidaknya penundaan kebijakan opsen PKB dan BBNKB mampu memberikan dampak positif bagi pasar motor baru
03 Januari 2026, 09:00 WIB
Penjualan mobil listrik BYD di 2025 mencapai 2,26 juta unit lampaui Tesla yang hanya mampu melepas 1,64 juta unit
03 Januari 2026, 07:00 WIB
Mitsubishi Pajero generasi terbaru diyakini jadi bagian dari line up produk anyar pabrikan Jepang itu di 2026
02 Januari 2026, 20:22 WIB
Persaingan baru, rookie Diogo Moreira dan Toprak Razgatlioglu siap meramaikan ajang balap MotoGP 2026