Penggunaan Truk Listrik Diklaim Bantu Turunkan Biaya Operasional
21 Mei 2026, 07:00 WIB
Aturan ditetapkan untuk mengantisipasi tingginya limbah baterai kendaraan ramah lingkungan di masa depan
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Daur ulang komponen mobil listrik jadi salah satu hal yang patut disorot oleh manufaktur maupun pemangku kebijakan. Pasalnya limbah baterai justru dapat jadi sumber masalah baru yang mencemari lingkungan.
Menghadapi persoalan tersebut, belum lama ini pemerintah Cina memperketat aturan daur ulang baterai lithium dari Electric Vehicle (EV).
Ada standar baru yang ditetapkan. Proses daur ulangnya juga turut dimonitor agar sesuai dengan prosedur.
Dilansir dari Carnewschina, pemerintah mengarahkan produsen untuk bekerja sama dengan pihak ketiga yang melakukan daur ulang dan membangun gudang sementara buat menyimpan limbah baterai.
Aturan ini membuat seluruh produsen ikut terlibat dan bertanggung jawab secara langsung dalam penanganan limbah baterai.
Kemudian pihak berwenang menggunakan platform digital untuk memantau secara komprehensif sumber, kuantitas sampai tujuan penggunaan baterai di setiap tahapan daur ulang.
Dengan masifnya penggunaan kendaraan ramah lingkungan di Cina, aturan ketat soal daur ulang dapat membantu meminimalisir meledaknya jumlah limbah baterai pada akhir masa penggunaan setiap mobil hybrid maupun listrik di masa mendatang.
Mengingat penggunaan mobil hybrid dan listrik juga semakin populer di Indonesia, persoalan limbah baterai turut jadi perhatian.
Di 2025 silam, pihak pemerintah telah mengimbau para produsen untuk ikut ambil bagian dalam pengelolaan limbah baterai.
“Secara umum kita juga sudah minta teman-teman yang membuat (mobil listrik) itu bikin battery recycling,” kata Rachmat Kaimuddin, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI di Jakarta beberapa waktu lalu.
Baterai nantinya dapat digunakan untuk keperluan lain. Seperti energy storage system (ESS) atau sistem penyimpanan daya.
ESS yang dibuat dari limbah baterai nantinya dapat menyimpan energi listrik dari sumber terbarukan seperti matahari dan air dalam skala besar.
“Kalau oil (atau mobil bermesin bensin) tidak bisa CO2-nya kita tangkap lalu kembali dijadikan BBM (bahan bakar minyak),” tegas Rachmat.
Hanya saja disebutkan saat ini belum ada infrastruktur pengolahan limbah baterai di dalam negeri.
Namun pengembangannya harus mulai dilakukan, beriringan dengan target tinggi pemerintah soal adopsi kendaraan listrik per 2030.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
21 Mei 2026, 07:00 WIB
19 Mei 2026, 15:42 WIB
15 Mei 2026, 21:21 WIB
11 Mei 2026, 19:00 WIB
10 Mei 2026, 18:48 WIB
Terkini
21 Mei 2026, 19:21 WIB
Gencar elektrifikasi, Volvo luncurkan produk di kelas yang sama dengan BMW iX tetapi berkonfigurasi 7-seater
21 Mei 2026, 07:00 WIB
Salah satu konsumen Kalista yang merasakan dampak positif dari penggunaan truk listrik adalah Evershine Group
21 Mei 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Bandung hari ini beroperasi sejak pagi, jadi masyarakat jangan sampai terlambat mendatangi
21 Mei 2026, 06:00 WIB
Ganjil genap Jakarta hari ini kembali diberlakukan dengan bantuan sistem ETLE statis maupun Mobile terpadu
21 Mei 2026, 06:00 WIB
Lima lokasi SIM keliling Jakarta tersedia untuk perpanjangan masa berlaku SIM hari ini, simak informasinya
20 Mei 2026, 21:34 WIB
Mobil listrik 7-seater VinFast VF MPV 7 resmi diluncurkan di Indonesia, rakitan pabrik VinFast di Subang
20 Mei 2026, 20:09 WIB
Penjualan daihatsu selama empat bulan pertama tahun ini cukup positif sehingga tetap berada di posisi kedua
20 Mei 2026, 13:55 WIB
Hirohide Tagawa dipercaya untuk melakukan pengembangan kei car BYD demi mematangkan kehadiran Racco di Jepang