Hyundai Bawa Banyak Kejutan di GIIAS 2026, Ada Ioniq 3
03 Juli 2026, 07:58 WIB
Aturan ditetapkan untuk mengantisipasi tingginya limbah baterai kendaraan ramah lingkungan di masa depan
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Daur ulang komponen mobil listrik jadi salah satu hal yang patut disorot oleh manufaktur maupun pemangku kebijakan. Pasalnya limbah baterai justru dapat jadi sumber masalah baru yang mencemari lingkungan.
Menghadapi persoalan tersebut, belum lama ini pemerintah Cina memperketat aturan daur ulang baterai lithium dari Electric Vehicle (EV).
Ada standar baru yang ditetapkan. Proses daur ulangnya juga turut dimonitor agar sesuai dengan prosedur.
Dilansir dari Carnewschina, pemerintah mengarahkan produsen untuk bekerja sama dengan pihak ketiga yang melakukan daur ulang dan membangun gudang sementara buat menyimpan limbah baterai.
Aturan ini membuat seluruh produsen ikut terlibat dan bertanggung jawab secara langsung dalam penanganan limbah baterai.
Kemudian pihak berwenang menggunakan platform digital untuk memantau secara komprehensif sumber, kuantitas sampai tujuan penggunaan baterai di setiap tahapan daur ulang.
Dengan masifnya penggunaan kendaraan ramah lingkungan di Cina, aturan ketat soal daur ulang dapat membantu meminimalisir meledaknya jumlah limbah baterai pada akhir masa penggunaan setiap mobil hybrid maupun listrik di masa mendatang.
Mengingat penggunaan mobil hybrid dan listrik juga semakin populer di Indonesia, persoalan limbah baterai turut jadi perhatian.
Di 2025 silam, pihak pemerintah telah mengimbau para produsen untuk ikut ambil bagian dalam pengelolaan limbah baterai.
“Secara umum kita juga sudah minta teman-teman yang membuat (mobil listrik) itu bikin battery recycling,” kata Rachmat Kaimuddin, Deputi Bidang Koordinasi Infrastruktur Dasar Kemenko Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan RI di Jakarta beberapa waktu lalu.
Baterai nantinya dapat digunakan untuk keperluan lain. Seperti energy storage system (ESS) atau sistem penyimpanan daya.
ESS yang dibuat dari limbah baterai nantinya dapat menyimpan energi listrik dari sumber terbarukan seperti matahari dan air dalam skala besar.
“Kalau oil (atau mobil bermesin bensin) tidak bisa CO2-nya kita tangkap lalu kembali dijadikan BBM (bahan bakar minyak),” tegas Rachmat.
Hanya saja disebutkan saat ini belum ada infrastruktur pengolahan limbah baterai di dalam negeri.
Namun pengembangannya harus mulai dilakukan, beriringan dengan target tinggi pemerintah soal adopsi kendaraan listrik per 2030.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
03 Juli 2026, 07:58 WIB
02 Juli 2026, 20:00 WIB
29 Juni 2026, 07:00 WIB
28 Juni 2026, 07:15 WIB
25 Juni 2026, 20:58 WIB
Terkini
04 Juli 2026, 21:00 WIB
AHM memberikan sejumlah penyegaran pada Honda Monkey, meliputi sejumlah opsi kelir dan motif jok baru
04 Juli 2026, 19:15 WIB
Pertumbuhan penjualan Daihatsu kembali terlihat di Juni 2026, kendaraan komersial jadi kontributor utama
04 Juli 2026, 09:00 WIB
IMI Awards 2025 memberikan apresiasi kepada Andre Mulyadi yang konsisten dalam dunia modifikasi Indonesia
04 Juli 2026, 07:00 WIB
Sejumlah tim belum memberikan pengumuman mengenai susunan pembalap yang akan mereka usung di MotoGP 2027
03 Juli 2026, 21:55 WIB
Vinfast turut menawarkan Limo Green kepada konsumen individual, tidak hanya pembeli fleet atau pelaku usaha
03 Juli 2026, 17:00 WIB
Aletra dikatakan tengah mempersiapkan untuk menghadirkan produk terbaru di ajang pameran otomotif GIIAS 2026
03 Juli 2026, 15:00 WIB
Apresiasi Jurnalistik Pertamina 2026 diharapkan mempererat hubungan antara narasumber dan insan media.
03 Juli 2026, 13:41 WIB
Berikut adalah spesifikasi Toyota Hilux BEV, era baru pikap elektrifikasi Toyota untuk pasar Indonesia