AHM Kejar Produksi 100 Juta Unit Motor Baru di Indonesia Tahun Ini
26 Februari 2026, 08:00 WIB
Nissan dikabarkan tengah dilanda badai PHK, mereka berencana merumahkan sampai 20 ribu karyawan secara global
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Badai PHK (Pemutusaan Hubungan Kerja) tidak hanya terjadi pada industri di Indonesia saja. Namun turut dialami oleh Nissan, produsen mobil asal Jepang.
Mengutip laporan NHK World Japan, Selasa (13/05) Nissan berencana melakukan pemecatan lebih dari 10 ribu pekerja di seluruh dunia.
Dengan angka di atas, maka jumlah karyawan Nissan yang akan dirumahkan mencapai 20 ribu orang atau sekitar 15 persen dari total tenaga kerja Nissan secara global.
"Sebuah sumber mengatakan perusahaan berencana melakukan pemutusan hubungan kerja tambahan karena penjualan unit telah menurun lebih dari yang diprediksi," tulis media asal Jepang tersebut.
Lebih jauh disebutkan kalau Nissan mencatatkan kerugian bersih sebesar 750 miliar yen atau setara Rp 84 triliun.
Jumlah tersebut berlangsung selama tahun fiskal 2024 atau sepanjang 1 April 2024 hingga 31 Maret 2025.
Padahal pada awal Maret lalu, kerugiaan Nissan diperkirakan hanya sekitar 80 miliar yen atau setara Rp 8,97 triliun.
Akan tetapi kondisi perusahaan semakin memburuk. Sehingga terpaksa untuk memangkas jumlah karyawan mereka.
"Selain itu mereka akan membatalkan rencana untuk membangun pabrik baterai kendaraan listrik di Kota Kitakyushu, Jepang bagian barat," lanjut media satu ini.
Tak berhenti sampai di situ, kondisi Nissan yang kian memburuk membuat mereka juga berencana menutup tiga fasilitas produksi di Thailand serta negara lain.
"Perusahaan diperkirakan akan mengumumkan rencana baru tersebut pada konferensi pers untuk merilis hasil bisnis pada Selasa," tegas media Jepang itu.
Sekadar mengingatkan, Nissan memang sedang berjuang melawan kondisi keuangan yang memburuk selama beberapa waktu.
Apalagi di tengah gempuran manufaktur asal Cina yang semakin membanjiri pasar otomotif di sejumlah negara.
Perlu diketahui, Nissan telah menempuh sejumlah langkah untuk mempertahankan kelangsungan perusahaan dalam dunia binis.
Seperti contoh dengan melakukan pembicaraan bersama Honda terkait merger. Hanya saja diskusi tersebut tidak menemukan titik terang.
Penyebabnya, Honda mau menjadikan Nissan sebuah subsidiari alih-alih perusahaan rekanan.
Lalu Nissan Motor Corporation dan Renault Group mengungkap bahwa mereka tengah melakukan restrukturisasi aliansi.
Hal ini dilakukan untuk menghindari kebangkrutan serta mempertahankan aliansi.
Nissan bahkan telah menyepakati menjual 51 persen sahamnya di Renault Nissan Automotive India Private Ltd (RNAIPL) pada Renault.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
26 Februari 2026, 08:00 WIB
18 Februari 2026, 19:00 WIB
12 Februari 2026, 15:00 WIB
06 Februari 2026, 21:58 WIB
29 Januari 2026, 20:00 WIB
Terkini
30 Maret 2026, 06:00 WIB
Pembatasan ganjil genap Jakarta kembali diterapkan di sejumlah lokasi yang kerap terjadi kemacetan lalu lintas
30 Maret 2026, 06:00 WIB
Jelang akhir bulan, SIM keliling Bandung tetap melayani masyarakat yang ingin mengurus dokumen berkendara
30 Maret 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Jakarta kembali dioperasikan seperti biasa di awal pekan, simak lokasi serta persyaratannya
30 Maret 2026, 03:55 WIB
Marco Bezzecchi memenangkan MotoGP Amerika 2026 ditemani rekan segarasinya, Jorge Martin di urutan kedua
29 Maret 2026, 16:08 WIB
Mobil listrik Denza Z bakal mengisi kelas yang sama dengan Porsche 911, gandeng Daniel Craig untuk promosinya
29 Maret 2026, 11:44 WIB
Kecelakaan arus mudik dan balik Lebaran 2026 diklaim mengalami penurunan cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya
29 Maret 2026, 04:07 WIB
Jorge Martin sukses menundukkan Francesco Bagnaia pada lap terakhir sprint race MotoGP Amerika 2026 di COTA
28 Maret 2026, 13:00 WIB
Geely berhasil mencatat angka penjualan yang tinggi di awal 2026 berkat kedua modelnya yaitu EX5 dan EX2