BYD Atto 1 Versi Baru Meluncur, Ada Tambahan LiDAR
13 Mei 2026, 21:00 WIB
Di 2025 angka penjualan mobil Cina diprediksi tembus 27 juta unit, sementara pabrikan Jepang 25 juta unit
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Kendaraan roda empat produksi Jepang telah mendominasi pasar global selama lebih dari 20 tahun. Namun di 2025, mobil Cina diprediksi melampaui capaian tersebut untuk pertama kalinya.
Mengacu pada data dari S&P Global Mobility, penjualan mobil Cina yang dimaksud mencakup kendaraan niaga, kendaraan penumpang baik domestik maupun ekspor.
Secara spesifik angkanya diproyeksikan sekitar 27 juta unit buat mobil Cina. Sedangkan kendaraan bikinan Jepang sebanyak 25 juta unit.
Merebaknya tren mobil Cina sudah terjadi beberapa waktu belakangan. Berbagai merek berlomba menghadirkan model baru dengan fitur berlimpah namun harga terpaut lebih rendah.
Menariknya banyak mobil Cina sekarang merupakan kendaraan ramah lingkungan, baik itu hybrid maupun bertenaga listrik murni.
Di Tiongkok, pemberian insentif dari pemerintah provinsi berkontribusi mendorong penjualan kendaraan. Sebanyak 70 persen penjualan mobil di sana didominasi New Energy Vehicle (NEV) atau kendaraan energi terbarukan.
Namun kunci keberhasilan penjualan mobil Cina di pasar global justru berangkat dari oversupply. Di sana, banyak model memiliki stok berlimpah dan berimbas pada terjadinya perang harga.
Untuk mengatasi hal tersebut, banyak manufaktur kemudian melakukan ekspor kendaraan ke negara-negara potensial.
Apalagi berbagai negara terkhusus di Asia Tenggara mulai memberlakukan kebijakan yang menguntungkan manufaktur mobil ramah lingkungan.
Di Indonesia, merek seperti BYD mendapatkan keuntungan berupa insentif mobil listrik impor atau Completely Built Up (CBU).
Artinya seluruh produk BYD yang masuk Indonesia bisa dijual lebih kompetitif walaupun belum diproduksi secara lokal.
Sepanjang 2025, BYD mengimpor sebanyak 60 ribu unit mobil lintas model termasuk Seal, Sealion 7, Atto 3 sampai produk teranyar mereka Atto 1.
Insentif diberikan dengan syarat manufaktur harus melakukan perakitan lokal sesuai jumlah unit impor yang berhasil terjual ke konsumen di Indonesia alias penjualan retail.
Dominasi merek-merek otomotif Jepang saat ini mulai dibalap oleh Tiongkok. Padahal sebelumnya di 2018, penjualan mobil asal Negeri Sakura secara global berhasil tembus 30 juta unit.
Di Indonesia hal serupa turut terjadi. Merek Cina hadir menawarkan variasi model baru dengan harga kompetitif.
Pada November 2025 misalnya, empat merek Cina masuk ke dalam 10 besar merek mobil yang mencatatkan penjualan retail (distribusi dari diler ke konsumen) terbanyak.
BYD berada di posisi ketiga sebanyak 8.243 unit, berada tepat di belakang Daihatsu 12.750 unit.
Bahkan di bulan sebelumnya pada Oktober 2025, penjualan retail BYD tembus angka 9.732 unit.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
13 Mei 2026, 21:00 WIB
12 Mei 2026, 12:54 WIB
11 Mei 2026, 17:03 WIB
28 April 2026, 15:00 WIB
27 April 2026, 19:00 WIB
Terkini
14 Mei 2026, 20:18 WIB
Hyundai baru saja menggelar pengundian program FIFA World Cup 2026 Test Drive Campaign untuk periode April
14 Mei 2026, 14:52 WIB
Apresiasi Sung Kang di RI, Maxdecal dukung kolaborasinya dengan Kemenekraf dan hadirkan art print spesial
14 Mei 2026, 11:31 WIB
Omoway semakin siap meluncurkan produk pertamanya dengan subsidi mandiri untuk menggoda konsumen Indonesia
13 Mei 2026, 21:00 WIB
Di negara asalnya, BYD Atto 1 mendapatkan tambahan sensor LiDAR, jarak tempuh lebih jauh dan dua warna baru
13 Mei 2026, 20:00 WIB
Mobil listrik Chery QQ 3 EV makin dekat ke Indonesia, konsumen cukup menyiapkan booking fee Rp 5 juta
13 Mei 2026, 19:15 WIB
Changan yakin mobil hybrid REEV atau Range Extender Electric Vehicle banyak peminatnya di luar Jakarta
13 Mei 2026, 14:45 WIB
Suzuki menggelar Burgman Fun Rally 2026 untuk mendekatkan diri kepada para konsumen kendaraan roda dua mereka
13 Mei 2026, 14:44 WIB
Maxi Tour Boemi Nusantara 2026 di Pulau Sumatera resmi berakhir setelah JMC diajak menjelajah ke Lampung