Pengiriman Jaecoo J5 EV Tembus 20.000 Unit, Terlaris di Mei 2026
29 Juni 2026, 07:00 WIB
Di 2025 angka penjualan mobil Cina diprediksi tembus 27 juta unit, sementara pabrikan Jepang 25 juta unit
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Kendaraan roda empat produksi Jepang telah mendominasi pasar global selama lebih dari 20 tahun. Namun di 2025, mobil Cina diprediksi melampaui capaian tersebut untuk pertama kalinya.
Mengacu pada data dari S&P Global Mobility, penjualan mobil Cina yang dimaksud mencakup kendaraan niaga, kendaraan penumpang baik domestik maupun ekspor.
Secara spesifik angkanya diproyeksikan sekitar 27 juta unit buat mobil Cina. Sedangkan kendaraan bikinan Jepang sebanyak 25 juta unit.
Merebaknya tren mobil Cina sudah terjadi beberapa waktu belakangan. Berbagai merek berlomba menghadirkan model baru dengan fitur berlimpah namun harga terpaut lebih rendah.
Menariknya banyak mobil Cina sekarang merupakan kendaraan ramah lingkungan, baik itu hybrid maupun bertenaga listrik murni.
Di Tiongkok, pemberian insentif dari pemerintah provinsi berkontribusi mendorong penjualan kendaraan. Sebanyak 70 persen penjualan mobil di sana didominasi New Energy Vehicle (NEV) atau kendaraan energi terbarukan.
Namun kunci keberhasilan penjualan mobil Cina di pasar global justru berangkat dari oversupply. Di sana, banyak model memiliki stok berlimpah dan berimbas pada terjadinya perang harga.
Untuk mengatasi hal tersebut, banyak manufaktur kemudian melakukan ekspor kendaraan ke negara-negara potensial.
Apalagi berbagai negara terkhusus di Asia Tenggara mulai memberlakukan kebijakan yang menguntungkan manufaktur mobil ramah lingkungan.
Di Indonesia, merek seperti BYD mendapatkan keuntungan berupa insentif mobil listrik impor atau Completely Built Up (CBU).
Artinya seluruh produk BYD yang masuk Indonesia bisa dijual lebih kompetitif walaupun belum diproduksi secara lokal.
Sepanjang 2025, BYD mengimpor sebanyak 60 ribu unit mobil lintas model termasuk Seal, Sealion 7, Atto 3 sampai produk teranyar mereka Atto 1.
Insentif diberikan dengan syarat manufaktur harus melakukan perakitan lokal sesuai jumlah unit impor yang berhasil terjual ke konsumen di Indonesia alias penjualan retail.
Dominasi merek-merek otomotif Jepang saat ini mulai dibalap oleh Tiongkok. Padahal sebelumnya di 2018, penjualan mobil asal Negeri Sakura secara global berhasil tembus 30 juta unit.
Di Indonesia hal serupa turut terjadi. Merek Cina hadir menawarkan variasi model baru dengan harga kompetitif.
Pada November 2025 misalnya, empat merek Cina masuk ke dalam 10 besar merek mobil yang mencatatkan penjualan retail (distribusi dari diler ke konsumen) terbanyak.
BYD berada di posisi ketiga sebanyak 8.243 unit, berada tepat di belakang Daihatsu 12.750 unit.
Bahkan di bulan sebelumnya pada Oktober 2025, penjualan retail BYD tembus angka 9.732 unit.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
29 Juni 2026, 07:00 WIB
24 Juni 2026, 23:00 WIB
24 Juni 2026, 11:00 WIB
17 Juni 2026, 11:00 WIB
16 Juni 2026, 10:00 WIB
Terkini
30 Juni 2026, 21:00 WIB
BMW iX3 dijadwalkan meluncur di pameran otomotif GIIAS 2026, meskipun penjualan EV BMW diklaim masih datar
30 Juni 2026, 20:28 WIB
Dua model baru Changan yakni S05 EV dan REEV bisa dipesan, CBU Thailand dengan estimasi harga Rp 500 jutaan
30 Juni 2026, 15:00 WIB
Gaikindo menilai stimulus yang diberikan pemerintah dapat menggairahkan industri otomotif yang tengah terjepit
30 Juni 2026, 13:00 WIB
Chery Q EV hadir dengan tawaran yang menarik mulai dari desain dan dukungan fitur yang lengkap di kelas Rp 200 jutaa
30 Juni 2026, 11:03 WIB
SUV Jetour T1 siap menantang Mitsubishi Destinator, tersedia dalam opsi Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV)
30 Juni 2026, 06:37 WIB
Di akhir Juni 2026 fasilitas SIM keliling Jakarta beroperasi seperti biasa di lima lokasi, simak jadwalnya
30 Juni 2026, 06:00 WIB
Kepolisian menghadirkan SIM keliling Bandung untuk mengakomodir kebutuhan para pengendara motor dan mobil
30 Juni 2026, 06:00 WIB
Untuk bisa sedikit mengurai kemacetan parah di Ibu Kota, diberlakukan aturan Ganjil Genap Jakarta sejak pagi