Modal Chery Q Gaet Konsumen RI, Hadirkan Fitur Lengkap Fungsional
07 September 2026, 21:43 WIB
Perang harga mobil Cina masih terus berlanjut di negeri tirai bambu, dampak negatifnya sudah mulai terasa
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Fenomena perang harga di dunia otomotif bukan hal baru, tetapi semakin marak seiring dengan bertambahnya variasi mobil Cina termasuk di Indonesia.
Perang harga secara gamblang diartikan sebagai kondisi di mana manufaktur berlomba-lomba memperkenalkan model anyar, dengan banderol lebih murah dibandingkan segmen serupa di kelas yang sama.
Di negara asalnya, perang harga mobil Cina disebut sudah mulai menunjukkan dampak negatif. Salah satunya adalah penurunan kualitas mobil bermesin bensin.
Ini terjadi karena persaingan harga semakin panas, membuat banyak manufaktur terpaksa mengurangi pengeluaran ekstra seperti biaya produksi.
Sementara di 2025, China Initial Quality Study menunjukkan ada 229 masalah per 100 unit kendaraan dilaporkan bermasalah oleh para pemilik. Angka tersebut naik 17 dari perolehan di 2024.
“Performa IQS mobil bermesin bensin mengalami penurunan year-on-year yang nyata,” kata Elvis Yang, General Manager Auto Product Practice JD Power dikutip dari China Daily, Rabu (03/09).
IQS sendiri adalah Initial Quality Study, survey yang menunjukkan secara gamblang seberapa baik kualitas suatu kendaraan.
Elvis mengatakan, dalam proses transisi menuju kendaraan elektrifikasi, penting buat manufaktur untuk tetap menjaga pangsa pasar sambil memperbaiki kualitas kendaraan.
Tetapi hal itu tentu memiliki tantangannya sendiri. Persaingan semakin ketat apalagi ketika alternatif Electric Vehicle (EV) muncul, yaitu mobil listrik.
Di segmen premium, Land Rover berada di peringkat pertama merek dengan paling banyak kendaraan bermasalah. Rasionya diklaim 208 masalah per 100 mobil.
Sebagai informasi, sebelumnya Presiden Cina sudah mengimbau seluruh pihak terkait agar berhati-hati terhadap potensi overcapacity terkhusus untuk mobil listrik.
Apabila perang harga berlanjut dalam jangka waktu panjang, industri otomotif lokal di sana bisa mengalami kerugian besar dan ketidakstabilan pasar.
Manufaktur mobil listrik Cina diharapkan bisa mengadopsi strategi harga berkelanjutan untuk menghindari dampak negatif itu.
Di Indonesia, dampak nyata perang harga belum terlihat signifikan. Tetapi penjual mobil bekas mengungkapkan fenomena tersebut mengakibatkan banderol unit bekas kendaraan buatan Tiongkok mengalami depresiasi yang tajam.
Penurunan harganya bahkan diklaim bisa mencapai 30 persen-40 persen. Sehingga menjadi perhatian banyak calon pelanggan mobil Cina.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
07 September 2026, 21:43 WIB
06 September 2026, 01:22 WIB
30 Agustus 2026, 09:00 WIB
26 Agustus 2026, 19:38 WIB
20 Agustus 2026, 21:00 WIB
Terkini
14 September 2026, 06:00 WIB
Untuk bisa mengurai kemacetan panjang di sejumlah jalan protokol Ibu Kota, Ganjil Genap Jakarta masih berlaku
14 September 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Bandung bisa menjadi opsi terbaik untuk Anda yang ingin mengurus dokumen berkendara hari ini
14 September 2026, 05:48 WIB
Kembali beroperasi seperti biasa di lima lokasi, simak informasi lengkap SIM keliling Jakarta hari ini
13 September 2026, 19:55 WIB
Marc Marquez kembali mendominasi dan ada di puncak klasemen sementara setelah MotoGP San Marino 2026
13 September 2026, 18:11 WIB
Astra Financial menunjukkan komitmennya akan penguatan literasi keuangan di Indonesia mencetak Duta OJK Peduli
13 September 2026, 17:47 WIB
YIMM baru saja menggelar acara Yamaha Dirt Bike Experience chapter Skill Up berlokasi di Sirkuit Cibereum
12 September 2026, 22:30 WIB
Varian terendah GWM Wey G9 dibekali teknologi hybrid dengan harga Rp 1,15 miliar on the road Jakarta
12 September 2026, 21:41 WIB
Asuransi Astra memasuki usia 70 tahun dengan menjaga kepercayaan para pelanggan dengan sejumlah terobosan