Merek Mobil Terlaris Juli 2026: Mitsubishi Kembali ke Tiga Besar
13 Agustus 2026, 18:54 WIB
Perang harga mobil Cina masih terus berlanjut di negeri tirai bambu, dampak negatifnya sudah mulai terasa
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Fenomena perang harga di dunia otomotif bukan hal baru, tetapi semakin marak seiring dengan bertambahnya variasi mobil Cina termasuk di Indonesia.
Perang harga secara gamblang diartikan sebagai kondisi di mana manufaktur berlomba-lomba memperkenalkan model anyar, dengan banderol lebih murah dibandingkan segmen serupa di kelas yang sama.
Di negara asalnya, perang harga mobil Cina disebut sudah mulai menunjukkan dampak negatif. Salah satunya adalah penurunan kualitas mobil bermesin bensin.
Ini terjadi karena persaingan harga semakin panas, membuat banyak manufaktur terpaksa mengurangi pengeluaran ekstra seperti biaya produksi.
Sementara di 2025, China Initial Quality Study menunjukkan ada 229 masalah per 100 unit kendaraan dilaporkan bermasalah oleh para pemilik. Angka tersebut naik 17 dari perolehan di 2024.
“Performa IQS mobil bermesin bensin mengalami penurunan year-on-year yang nyata,” kata Elvis Yang, General Manager Auto Product Practice JD Power dikutip dari China Daily, Rabu (03/09).
IQS sendiri adalah Initial Quality Study, survey yang menunjukkan secara gamblang seberapa baik kualitas suatu kendaraan.
Elvis mengatakan, dalam proses transisi menuju kendaraan elektrifikasi, penting buat manufaktur untuk tetap menjaga pangsa pasar sambil memperbaiki kualitas kendaraan.
Tetapi hal itu tentu memiliki tantangannya sendiri. Persaingan semakin ketat apalagi ketika alternatif Electric Vehicle (EV) muncul, yaitu mobil listrik.
Di segmen premium, Land Rover berada di peringkat pertama merek dengan paling banyak kendaraan bermasalah. Rasionya diklaim 208 masalah per 100 mobil.
Sebagai informasi, sebelumnya Presiden Cina sudah mengimbau seluruh pihak terkait agar berhati-hati terhadap potensi overcapacity terkhusus untuk mobil listrik.
Apabila perang harga berlanjut dalam jangka waktu panjang, industri otomotif lokal di sana bisa mengalami kerugian besar dan ketidakstabilan pasar.
Manufaktur mobil listrik Cina diharapkan bisa mengadopsi strategi harga berkelanjutan untuk menghindari dampak negatif itu.
Di Indonesia, dampak nyata perang harga belum terlihat signifikan. Tetapi penjual mobil bekas mengungkapkan fenomena tersebut mengakibatkan banderol unit bekas kendaraan buatan Tiongkok mengalami depresiasi yang tajam.
Penurunan harganya bahkan diklaim bisa mencapai 30 persen-40 persen. Sehingga menjadi perhatian banyak calon pelanggan mobil Cina.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
13 Agustus 2026, 18:54 WIB
12 Agustus 2026, 19:55 WIB
12 Agustus 2026, 14:50 WIB
12 Agustus 2026, 09:00 WIB
11 Agustus 2026, 20:06 WIB
Terkini
14 Agustus 2026, 20:50 WIB
Fabio Quartararo mengatakan bahwa ia berniat meninggalkan Yamaha saat melakoni pengujian di Sirkuit Valencia
14 Agustus 2026, 20:48 WIB
Farizon V8E resmi diproduksi di pabrik Handal Indonesia Motor (HIM), kemudian disusul dengan model F3E
14 Agustus 2026, 11:00 WIB
Merek mobil mewah memperlihatkan tren negatif di periode Juli 2026, BMW masih memimpin disusul Mercedes-Benz
14 Agustus 2026, 09:00 WIB
Penjualan BMW disebut positif selama perhelatan GIIAS 2026, tuai respons positif terhadap BMW iX3 Neue Klasse
14 Agustus 2026, 07:00 WIB
Motor listrik nasional baru saja diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto dengan menggandeng Indika
14 Agustus 2026, 06:00 WIB
Ganjil Genap Jakarta hari ini masih ada 26 titik yang membatasi mobil pribadi dengan pelat nomor sesuai tanggal
14 Agustus 2026, 06:00 WIB
Mendekati akhir pekan, SIM keliling Jakarta masih dapat dimanfaatkan dan tersedia di lima lokasi berbeda
14 Agustus 2026, 06:00 WIB
Sebelum akhir pekan SIM keliling Bandung hadir di dua lokasi berbeda agar lebih mudah ditemukan masyarakat