Polytron Matangkan Peluncuran Mobil Listrik Baru di Tahun Ini
11 Maret 2026, 19:00 WIB
Perang harga mobil Cina masih terus berlanjut di negeri tirai bambu, dampak negatifnya sudah mulai terasa
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Fenomena perang harga di dunia otomotif bukan hal baru, tetapi semakin marak seiring dengan bertambahnya variasi mobil Cina termasuk di Indonesia.
Perang harga secara gamblang diartikan sebagai kondisi di mana manufaktur berlomba-lomba memperkenalkan model anyar, dengan banderol lebih murah dibandingkan segmen serupa di kelas yang sama.
Di negara asalnya, perang harga mobil Cina disebut sudah mulai menunjukkan dampak negatif. Salah satunya adalah penurunan kualitas mobil bermesin bensin.
Ini terjadi karena persaingan harga semakin panas, membuat banyak manufaktur terpaksa mengurangi pengeluaran ekstra seperti biaya produksi.
Sementara di 2025, China Initial Quality Study menunjukkan ada 229 masalah per 100 unit kendaraan dilaporkan bermasalah oleh para pemilik. Angka tersebut naik 17 dari perolehan di 2024.
“Performa IQS mobil bermesin bensin mengalami penurunan year-on-year yang nyata,” kata Elvis Yang, General Manager Auto Product Practice JD Power dikutip dari China Daily, Rabu (03/09).
IQS sendiri adalah Initial Quality Study, survey yang menunjukkan secara gamblang seberapa baik kualitas suatu kendaraan.
Elvis mengatakan, dalam proses transisi menuju kendaraan elektrifikasi, penting buat manufaktur untuk tetap menjaga pangsa pasar sambil memperbaiki kualitas kendaraan.
Tetapi hal itu tentu memiliki tantangannya sendiri. Persaingan semakin ketat apalagi ketika alternatif Electric Vehicle (EV) muncul, yaitu mobil listrik.
Di segmen premium, Land Rover berada di peringkat pertama merek dengan paling banyak kendaraan bermasalah. Rasionya diklaim 208 masalah per 100 mobil.
Sebagai informasi, sebelumnya Presiden Cina sudah mengimbau seluruh pihak terkait agar berhati-hati terhadap potensi overcapacity terkhusus untuk mobil listrik.
Apabila perang harga berlanjut dalam jangka waktu panjang, industri otomotif lokal di sana bisa mengalami kerugian besar dan ketidakstabilan pasar.
Manufaktur mobil listrik Cina diharapkan bisa mengadopsi strategi harga berkelanjutan untuk menghindari dampak negatif itu.
Di Indonesia, dampak nyata perang harga belum terlihat signifikan. Tetapi penjual mobil bekas mengungkapkan fenomena tersebut mengakibatkan banderol unit bekas kendaraan buatan Tiongkok mengalami depresiasi yang tajam.
Penurunan harganya bahkan diklaim bisa mencapai 30 persen-40 persen. Sehingga menjadi perhatian banyak calon pelanggan mobil Cina.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
11 Maret 2026, 19:00 WIB
11 Maret 2026, 13:00 WIB
11 Maret 2026, 07:00 WIB
10 Maret 2026, 22:10 WIB
09 Maret 2026, 15:00 WIB
Terkini
11 Maret 2026, 20:39 WIB
MPV ramah lingkungan Wuling Darion PHEV jadi opsi menarik buat masyarakat yang akan melakukan perjalanan mudik
11 Maret 2026, 19:00 WIB
Kehadiran mobil listrik baru Polytron, diharapkan bisa menggairahkan pasar kendaraan roda empat di Indonesia
11 Maret 2026, 18:00 WIB
Penjualan motor listrik Alva diklaim mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya meski harganya lebih tinggi
11 Maret 2026, 17:00 WIB
Keinginan BYD untuk bergabung dengan Formula 1 demi semakin memperkenalkan brand mereka ke seluruh dunia
11 Maret 2026, 15:00 WIB
Diler Xpeng Pluit jadi salah satu strategi pabrikan untuk memperluas jangkauan pasar dan permudah konsumen
11 Maret 2026, 13:00 WIB
Tanpa insentif mobil listrik impor, harga BYD Atto 1 dipertahankan di bawah Rp 200 jutaan di Maret 2026
11 Maret 2026, 11:00 WIB
Jetour T2 buktikan kekuatan rangka dengan menopang bobot lebih dari 300 kg dan juga terdapat fitur terkini
11 Maret 2026, 09:00 WIB
Fatalitas dalam kecelakaan di jalan raya dapat ditekan dengan sinergitas beberapa pihak dan peran publik