Sudah Terdaftar, Suzuki Tanggapi Kehadiran e Sky di RI
25 September 2026, 17:23 WIB
Dengan harga yang sangat kompetitif, Jaecoo optimistis J5 EV bisa menjadi primadona baru di Indonesia
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Jaecoo Indonesia akhirnya mengumumkan harga J5 EV. Mobil listrik tersebut dibanderol sangat kompetitif di Tanah Air.
Untuk varian terendah diniagakan mulai Rp 249,9 jutaan. Sedangkan tipe tertinggi ditawarkan 299,9 jutaan.
Menurut jenama asal Cina itu ada beberapa alasan mengapa mereka memasang harga Jaecoo J5 EV di level tersebut.
“Kita mau build the trust dulu, jadi kita kasih harga yang sangat-sangat kita paling usahakan bisa kasih,” ungkap Zheng Shuo, Presiden Direktur Chery Group di Jakarta, Senin (03/11).
Shuo menepis anggapan kalau Jaecoo menerapkan strategi perang harga untuk memasarkan Electric Vehicle (EV) baru mereka.
Sebab Jaecoo J5 EV menawarkan banyak kelebihan dibandingkan rival-rivalnya. Sehingga banderol ditawarkan dinilai sudah pas.
Ia pun menyarankan kepada para calon pembeli untuk melakukan test drive dulu dan melihat mobil listrik baru Jaecoo.
Sehingga konsumen dapat langsung merasakan kualitas Jaecoo J5 EV. Kemudian memilih produk satu ini untuk kebutuhan mobilitas.
“Jadi konsumen akan tertarik, kalau saya lihat ini tidak ada perang harga. Produk kita punya posisi masing-masing,” lanjut dia.
Dia pun optimistis Jaecoo J5 EV bisa diterima oleh masyarakat di Indonesia. Jadi dapat meraih kesuksesan seperti produk-produk yang lain.
Sekadar mengingatkan, perang harga menjadi salah satu cara untuk menggaet lebih banyak konsumen. Sebab dinilai efektif buat menggoda masyarakat.
Padahal cara itu tidak selalu menghadirkan dampak positif. Terutama untuk para konsumen yang disasar.
“Mengenai perang harga dari sudut pandang konsumen memang bisa kontradiktif,” ucap Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank kepada KatadataOTO beberapa waktu lalu.
Menurut Josua perang harga yang diterapkan para produsen mobil listrik awalnya memang dapat menguntungkan konsumen.
Namun jika hal tersebut dilakukan dalam jangka panjang diprediksi bakal mendorong para manufaktur melakukan penyesuaian. Seperti memangkas fitur serta kualitas produk mereka.
“Hal ini demi menjaga margin serta mengurangi nilai jual kembali karena harga (mobil baru) di pasar menjadi tertekan,” lanjut Josua.
Bila penurunan kualitas maupun fitur sampai terjadi demi membanting harga mobil baru, maka konsumen pasti merasa dirugikan.
Mengingat depresiasi nilai jual kembali kendaraan roda empat yang sudah dibeli oleh masyarakat jadi lebih cepat.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
25 September 2026, 17:23 WIB
22 September 2026, 07:00 WIB
21 September 2026, 11:16 WIB
20 September 2026, 21:41 WIB
19 September 2026, 21:00 WIB
Terkini
26 September 2026, 07:00 WIB
Motul Performance Solution hadir untuk melatih para mekanik maupun pemilik bengkel independen di Palembang
25 September 2026, 22:01 WIB
Prestone Racing Coolant baru saja diperkenalkan untuk para pemilik mobil balap di Automechanika Jakarta 2026
25 September 2026, 19:00 WIB
Pemerintah berencana untuk memberikan insentif motor listrik di tahun ini, tapi belum menemui titik terang
25 September 2026, 17:23 WIB
Suzuki e Sky punya peluang dihadirkan di RI, namun perlu memperhagikan strategi bersaing dengan para rivalnya
25 September 2026, 17:22 WIB
Motul Indonesia Energy (MIE) memberikan partner ambassador mereka perjalanan berharga ke benua Eropa
25 September 2026, 09:00 WIB
Astra Otoparts ikut ambil bagian di ajang Automechanika Jakarta 2026, hadirkan integrasi layanan otomotif
25 September 2026, 07:00 WIB
Mitsubishi Fuso baru saja mengumumkan Field Fix Campaign untuk kepada seluruh pengguna Canter di Indonesia
25 September 2026, 06:06 WIB
Sistem Ganjil Genap Jakarta masih berlaku hari ini untuk memutus kebuntuan pada saat jam-jam sibuk Ibu Kota