Produksi Tesla Model S dan X Disetop, Elon Musk Pilih Bikin Robot
01 Februari 2026, 09:00 WIB
Dengan harga yang sangat kompetitif, Jaecoo optimistis J5 EV bisa menjadi primadona baru di Indonesia
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Jaecoo Indonesia akhirnya mengumumkan harga J5 EV. Mobil listrik tersebut dibanderol sangat kompetitif di Tanah Air.
Untuk varian terendah diniagakan mulai Rp 249,9 jutaan. Sedangkan tipe tertinggi ditawarkan 299,9 jutaan.
Menurut jenama asal Cina itu ada beberapa alasan mengapa mereka memasang harga Jaecoo J5 EV di level tersebut.
“Kita mau build the trust dulu, jadi kita kasih harga yang sangat-sangat kita paling usahakan bisa kasih,” ungkap Zheng Shuo, Presiden Direktur Chery Group di Jakarta, Senin (03/11).
Shuo menepis anggapan kalau Jaecoo menerapkan strategi perang harga untuk memasarkan Electric Vehicle (EV) baru mereka.
Sebab Jaecoo J5 EV menawarkan banyak kelebihan dibandingkan rival-rivalnya. Sehingga banderol ditawarkan dinilai sudah pas.
Ia pun menyarankan kepada para calon pembeli untuk melakukan test drive dulu dan melihat mobil listrik baru Jaecoo.
Sehingga konsumen dapat langsung merasakan kualitas Jaecoo J5 EV. Kemudian memilih produk satu ini untuk kebutuhan mobilitas.
“Jadi konsumen akan tertarik, kalau saya lihat ini tidak ada perang harga. Produk kita punya posisi masing-masing,” lanjut dia.
Dia pun optimistis Jaecoo J5 EV bisa diterima oleh masyarakat di Indonesia. Jadi dapat meraih kesuksesan seperti produk-produk yang lain.
Sekadar mengingatkan, perang harga menjadi salah satu cara untuk menggaet lebih banyak konsumen. Sebab dinilai efektif buat menggoda masyarakat.
Padahal cara itu tidak selalu menghadirkan dampak positif. Terutama untuk para konsumen yang disasar.
“Mengenai perang harga dari sudut pandang konsumen memang bisa kontradiktif,” ucap Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank kepada KatadataOTO beberapa waktu lalu.
Menurut Josua perang harga yang diterapkan para produsen mobil listrik awalnya memang dapat menguntungkan konsumen.
Namun jika hal tersebut dilakukan dalam jangka panjang diprediksi bakal mendorong para manufaktur melakukan penyesuaian. Seperti memangkas fitur serta kualitas produk mereka.
“Hal ini demi menjaga margin serta mengurangi nilai jual kembali karena harga (mobil baru) di pasar menjadi tertekan,” lanjut Josua.
Bila penurunan kualitas maupun fitur sampai terjadi demi membanting harga mobil baru, maka konsumen pasti merasa dirugikan.
Mengingat depresiasi nilai jual kembali kendaraan roda empat yang sudah dibeli oleh masyarakat jadi lebih cepat.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
01 Februari 2026, 09:00 WIB
31 Januari 2026, 19:00 WIB
31 Januari 2026, 15:00 WIB
30 Januari 2026, 18:00 WIB
30 Januari 2026, 13:00 WIB
Terkini
01 Februari 2026, 15:00 WIB
Shell, BP AKR sampai Vivo menurunkan harga BBM untuk periode Februari 2026 dengan besaran yang berbeda
01 Februari 2026, 13:00 WIB
Toyota Motor Corporation memberi atensi lebih terhadap penjualan mereka di Indonesia yang turun signifikan
01 Februari 2026, 11:00 WIB
Penjualan Toyota group pecahkan rekor baru dan menjadi pabrikan terlaris di dunia 2025 ungguli Volkswagen
01 Februari 2026, 09:00 WIB
Tajamnya penurunan penjualan sepertinya menjadi salah satu alasan Elon Musk mengalihkan fokus Tesla ke robot
01 Februari 2026, 07:00 WIB
Melansir laman resmi Pertamina, untuk harga BBM non subsidi mengalami penurunan dengan besaran bervariasi
31 Januari 2026, 19:00 WIB
Banyak rival di pasaran, MG belum akan bawa mobil listrik murah harga Rp 200 jutaan ke pasar Indonesia
31 Januari 2026, 17:00 WIB
Gaikindo akhirnya resmi menargetkan penjualan mobil di Indonesia sebesar 850.000 unit sepanjang 2026
31 Januari 2026, 15:00 WIB
Changan berkomitmen membangun 20 diler di Indonesia hingga akhir tahun dengan memanfaatkan jaringan Indomobil