MG Belum Minat Bawa Mobil Listrik Murah ke Tanah Air
31 Januari 2026, 19:00 WIB
Tajamnya penurunan penjualan sepertinya menjadi salah satu alasan Elon Musk mengalihkan fokus Tesla ke robot
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Elon Musk, CEO Tesla baru-baru ini memutuskan untuk menghentikan produksi dua produk mobil listriknya, Model S dan X.
Hal itu menjadi keputusan yang mengejutkan, apalagi di tengah sengitnya persaingan mobil listrik dari Tiongkok.
Tesla sendiri sebelumnya merupakan salah satu rival kuat buat sejumlah merek mobil listrik Cina seperti BYD.
“Sudah waktunya untuk menghentikan produksi Model S dan X secara terhormat, karena kita sedang bergerak ke masa depan berbasis otonomi,” kata Elon Musk dikutip dari Tech Crunch, Minggu (01/02).
Ia mengungkapkan konsumen yang masih tertarik dengan Model S dan X agar segera melakukan pembelian dalam waktu dekat.
Perlu diketahui, produksi mobil listrik Model S dan X dilakukan di fasilitas Fremont, California.
Sebagai gantinya, akan dilakukan produksi robot Optimus di pabrik Fremont dan deretan fasilitas perakitan lainnya.
“Ini memang agak menyedihkan, tetapi sudah waktunya menghentikan program Model S dan X,” tegas Musk.
Meskipun begitu, produksi serta penjualan model lain seperti Cybertruck masih akan tetap dilanjutkan.
Tampaknya ada beberapa faktor yang membuat Elon Musk akhirnya menyelesaikan produksi Model S dan X, yaitu tajamnya penurunan penjualan.
Pihak Tesla justru menyebut turunnya penjualan mobil listrik Tesla sebagai bagian dari transisi menjadi perusahaan Artificial Intelligence (AI).
Menurut laporan The Guardian, sepanjang 2025 total keuntungan otomotif Tesla mengalami penurunan 11 persen dari periode sebelumnya.
Selain robot Optimus, Tesla juga disebut lebih fokus pada pengembangan self-driving Robotaxi. Keduanya masih belum diungkap ke publik.
Namun dalam waktu dekat tepatnya sebelum akhir 2026, produksi robot Optimus dilakukan. Sementara penjualan dimulai 2027.
Tidak dapat dipungkiri kehadiran merek mobil listrik Cina jadi sebuah tantangan bagi banyak manufaktur termasuk Tesla.
Di 2025, BYD menggantikan Tesla sebagai manufaktur mobil listrik terbesar di dunia. Total penjualannya tembus 2,26 juta, sementara Tesla hanya berhasil tembus 1,63 juta.
Di samping BYD, merek di bawah naungan SAIC dan Chery turut menorehkan hasil positif dan gencar melakukan ekspor kendaraan ke berbagai negara.
Popularitas merek mobil listrik Cina terlihat masih akan terus berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.
Penjualan merek mobil listrik Cina di sejumlah negara juga telah dimudahkan berkat pemberian insentif.
Sehingga harga mobil listrik Cina yang cenderung rendah, bisa ditekan lebih banyak lagi pasca dikucurkan subsidi.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
31 Januari 2026, 19:00 WIB
31 Januari 2026, 15:00 WIB
30 Januari 2026, 18:00 WIB
30 Januari 2026, 13:00 WIB
30 Januari 2026, 12:00 WIB
Terkini
01 Februari 2026, 07:00 WIB
Melansir laman resmi Pertamina, untuk harga BBM non subsidi mengalami penurunan dengan besaran bervariasi
31 Januari 2026, 19:00 WIB
Banyak rival di pasaran, MG belum akan bawa mobil listrik murah harga Rp 200 jutaan ke pasar Indonesia
31 Januari 2026, 17:00 WIB
Gaikindo akhirnya resmi menargetkan penjualan mobil di Indonesia sebesar 850.000 unit sepanjang 2026
31 Januari 2026, 15:00 WIB
Changan berkomitmen membangun 20 diler di Indonesia hingga akhir tahun dengan memanfaatkan jaringan Indomobil
31 Januari 2026, 13:00 WIB
Stok BBM Shell jenis Super kembali kosong di sejumlah lokasi, situasi ini sudah terjadi beberapa hari lalu
31 Januari 2026, 11:29 WIB
Motor Yamaha R1 GYTR yang digeber Valentino Rossi di Mandalika pakai beberapa komponen milik Eric Cargloss
31 Januari 2026, 11:00 WIB
Fabio Quartararo tengah santer diisukan bakal berseragam Honda dan meninggalkan Yamaha pada MotoGP 2027
31 Januari 2026, 09:00 WIB
Perwakilan Astra Honda bawa inovasi edukasi keselamatan berkendara efektif buat anak di panggung internasional