Hyundai Ioniq Punya Desain Nyentrik di Cina
06 Juni 2026, 08:54 WIB
Insentif mobil listrik CBU disetop akhir 2025, bisa menghambat calon investor tetapi punya sisi positif
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Insentif mobil listrik impor atau Completely Built Up (CBU) akan disetop akhir 2025. Bantuan pemerintah tersebut saat ini dinikmati oleh setidaknya enam merek.
Keenam manufaktur itu kemudian harus melakukan perakitan lokal sesuai jumlah unit mobil listrik impor yang terjual di dalam negeri pada 2026.
Perlu diketahui, insentif mobil listrik impor dinilai berdampak positif dan menarik banyak investor.
Sementara masih ada calon investor yang dikabarkan berminat masuk Indonesia tahun depan tetapi tak lagi bisa menikmati subsidi serupa.
Di sisi lain, diberhentikannya kebijakan tersebut dapat menghambat investor yang sekadar ingin melakukan tes pasar tanpa risiko.
“Namun inilah tujuan strategisnya, menjadi filter untuk menjaring investor yang benar-benar serius berkomitmen pada produksi lokal,” kata Yannes Martinus Pasaribu, pengamat otomotif dan akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) saat dihubungi KatadataOTO, Senin (08/09).
Insentif khusus mobil listrik impor sebelumnya diterapkan mulai 2024 merujuk pada Peraturan Menteri Investasi Nomor 6 Tahun 2023 juncto Nomor 1 Tahun 2024.
Disebutkan bahwa merek yang memenuhi persyaratan mendapatkan insentif bea masuk serta Pajak Penjualan Barang Mewah (PPnBM).
Ada persyaratan bank garansi, lalu komitmen investasi buat perakitan lokal di Indonesia dengan rasio 1:1.
Hasilnya, penjualan mobil listrik pendatang baru seperti BYD terbilang melambung tinggi.
Tetapi turut mengakibatkan angka impor mobil di Indonesia naik drastis, bahkan mencapai angka tertinggi di Juli 2025.
Sisi positifnya, merek-merek terkait bakal melakukan perakitan lokal dengan jumlah sama dan harapannya mendorong industri otomotif dalam negeri supaya bisa bertumbuh.
“Kebijakan ini menandai transisi dari fase menarik minat dengan pintu terbuka lebar, ke fase membangun industri yang lebih protektif,” tegas Yannes.
Pemberhentian insentif impor tersebut juga justru menjadi angin segar buat perusahaan jika ingin berinvestasi dalam jangka waktu panjang.
Kuncinya adalah konsistensi kebijakan dari pemerintah. Sehingga manufaktur mobil listrik di dalam negeri dapat bersaing secara adil.
“Ini memberikan kepastian bahwa pasar masa depan tidak akan terus dibanjiri produk impor bersubsidi. Sehingga menciptakan iklim lebih sehat untuk pertumbuhan ekosistem manufaktur dan rantai pasok komponen di dalam negeri,” ucap Yannes.
Sekadar informasi, sepanjang Januari-Juli 2025 impor mobil ke Indonesia tembus 76.755 unit.
Setidaknya 63 persen dari total impor itu merupakan mobil listrik, naik dari torehan sebelumnya di 2024 yakni 40 persen.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
06 Juni 2026, 08:54 WIB
05 Juni 2026, 17:00 WIB
04 Juni 2026, 11:00 WIB
31 Mei 2026, 07:00 WIB
29 Mei 2026, 21:12 WIB
Terkini
12 Juni 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Jakarta masih beroperasi di lima lokasi berbeda hari ini 12 Juni 2026, jangan sampai terlewat
12 Juni 2026, 06:00 WIB
Kepolisian tidak mengendurkan layanan seperti SIM keliling Bandung, hal ini dilakukan demi melayani pengendara
12 Juni 2026, 06:00 WIB
Denda Ganjil Genap Jakarta cukup besar, sehingga para pengguna jalan protokol khususnya harus lebih waspada
11 Juni 2026, 21:52 WIB
Kawasaki memboyong dua motor baru di PRJ 2026, yakni Brusky 125 sampai KLX 150 XLP guna menggoda para konsumen
11 Juni 2026, 11:50 WIB
Veda Ega Pratama kerap menghabiskan waktu luang, meskipun dirinya menjalani profesi pembalap profesional
11 Juni 2026, 09:30 WIB
IDRS hadir sebagai salah satu inisiator keselamatan deretan produk kendaraan roda dua di dalam negeri
11 Juni 2026, 06:00 WIB
Ganjil Genap Jakarta masih menjadi andalan untuk memecah kebuntuan arus lalu lintas di jalanan Ibu Kota
11 Juni 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Bandung bisa menjadi salah satu alternatif untuk mengurus dokumen berkendara pada hari ini