Makin Populer, Edukasi Keamanan Mobil Listrik Wajib Digencarkan
21 Januari 2026, 19:30 WIB
Absennya insentif otomotif bisa berdampak ke harga mobil termasuk EV, daya beli sampai keputusan investasi
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Pemerintah tampaknya tidak akan memberikan insentif otomotif di 2026 seperti yang dikucurkan beberapa waktu lalu. Hal tersebut bisa berdampak pada banyak hal.
Salah satunya harga mobil listrik atau Electric Vehicle (EV). Perlu diketahui saat ini banyak merek memenuhi kriteria seperti Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 40 persen sehingga berhak mendapatkan insentif.
Insentif otomotif untuk mobil listrik diberikan dalam bentuk potongan pajak. Berkat subsidi itu penjualan EV di Indonesia mulai menunjukkan tren positif.
Kemudian semakin banyak investor tertarik menanamkan modal. Ditambah, insentif otomotif itu juga berlaku untuk mobil Completely Built Up (CBU) alias impor utuh dengan komitmen perakitan lokal di 2026.
Jika tidak ada bantuan tersebut, harga mobil listrik diprediksi mengalami kenaikan cukup signifikan.
“Tanpa insentif, harga jual bisa naik hingga 11 persen untuk pajak saja atau total 5 sampai 30 persen tergantung segmen dan langsung mengurangi daya beli konsumen,” kata Yannes Martinus Pasaribu, pengamat otomotif dan akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) kepada KatadataOTO belum lama ini.
Dia menegaskan absennya insentif akan berdampak besar pada mobil-mobil di segmen menengah ke bawah yang merupakan pasar sensitif terhadap perubahan banderol, seperti Low Cost Green Car (LCGC).
Kemudian setelah harga mobil naik, banyak calon pembeli diprediksi kembali melakukan penundaan pembelian.
“Khususnya generasi milenial dan Gen Z yang rasional dan value-oriented, bisa menunda keputusan beli atau beralih ke mobil bekas,” kata Yannes.
Pada akhirnya, ketiadaan insentif otomotif berisiko memperlambat pertumbuhan pasar serta adopsi mobil listrik rakitan lokal.
Perbedaan pendapat antara Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perekonomian terkait insentif otomotif juga menimbulkan ketidakpastian buat banyak pihak.
“Konsumen semakin ragu belanja besar seperti mobil, investor ogah tanam modal baru dan industri yang sudah lesu sejak 2025 semakin terpuruk tanpa sinyal jelas dari pemerintah,” tegas Yannes.
Oleh karena itu, dibutuhkan adanya kebijakan terarah dan satu suara khususnya terkait insentif otomotif sebagai stimulus pasar yang tengah lesu.
Sebagai informasi, Gaikindo sudah melakukan revisi target penjualan mobil baru di 2025 menjadi 780.000 unit.
Sebelumnya Gaikindo sempat menetapkan target optimistis di angka 850.000 sampai 900.000 unit di akhir 2025.
Namun melihat kondisi ekonomi yang belum pulih sepenuhnya, akhirnya target tersebut direvisi.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
21 Januari 2026, 19:30 WIB
21 Januari 2026, 15:00 WIB
21 Januari 2026, 14:09 WIB
21 Januari 2026, 10:23 WIB
21 Januari 2026, 07:00 WIB
Terkini
21 Januari 2026, 19:30 WIB
Insiden mobil listrik terbakar yang terjadi belakangan berpotensi memicu ketakutan, wajib ada edukasi
21 Januari 2026, 19:23 WIB
Fabio Quartararo dan Alex Rins kini mempunyai motor balap Yamaha baru guna mengarungi kompetisi MotoGP 2026
21 Januari 2026, 16:08 WIB
Yamaha Nmax maupun Xmax kini tampil beda setelah diberikan livery khusus, yakni 25 tahun Maxi yang sporty
21 Januari 2026, 15:00 WIB
Hampir dua tahun sejak peluncuran L8, Aletra akhirnya siap menghadirkan produk baru buat konsumen tahun ini
21 Januari 2026, 14:09 WIB
Mobil listrik terbaru Mitsubishi memiliki ukuran kompak dan bahasa desain baru pakai basis Foxtron Bria
21 Januari 2026, 13:34 WIB
Yamaha Tmax DX model 2026 hadir untuk menggoda para pencinta touring berkantong tebal yang ada di Indonesia
21 Januari 2026, 12:00 WIB
Lepas bakal fokus untuk meluncurkan SUV serta sedan di Indonesia dengan desain premium yang keunggulan tersendiri
21 Januari 2026, 11:00 WIB
Polytron menegaskan bakal meluncurkan mobil listrik baru di 2026 untuk memperkuat pasarnya di Tanah Air