Rencana BAIC Bangun Pabrik Mandiri, Tunggu Penjualan Naik
20 Agustus 2026, 21:00 WIB
Absennya insentif otomotif bisa berdampak ke harga mobil termasuk EV, daya beli sampai keputusan investasi
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Pemerintah tampaknya tidak akan memberikan insentif otomotif di 2026 seperti yang dikucurkan beberapa waktu lalu. Hal tersebut bisa berdampak pada banyak hal.
Salah satunya harga mobil listrik atau Electric Vehicle (EV). Perlu diketahui saat ini banyak merek memenuhi kriteria seperti Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 40 persen sehingga berhak mendapatkan insentif.
Insentif otomotif untuk mobil listrik diberikan dalam bentuk potongan pajak. Berkat subsidi itu penjualan EV di Indonesia mulai menunjukkan tren positif.
Kemudian semakin banyak investor tertarik menanamkan modal. Ditambah, insentif otomotif itu juga berlaku untuk mobil Completely Built Up (CBU) alias impor utuh dengan komitmen perakitan lokal di 2026.
Jika tidak ada bantuan tersebut, harga mobil listrik diprediksi mengalami kenaikan cukup signifikan.
“Tanpa insentif, harga jual bisa naik hingga 11 persen untuk pajak saja atau total 5 sampai 30 persen tergantung segmen dan langsung mengurangi daya beli konsumen,” kata Yannes Martinus Pasaribu, pengamat otomotif dan akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) kepada KatadataOTO belum lama ini.
Dia menegaskan absennya insentif akan berdampak besar pada mobil-mobil di segmen menengah ke bawah yang merupakan pasar sensitif terhadap perubahan banderol, seperti Low Cost Green Car (LCGC).
Kemudian setelah harga mobil naik, banyak calon pembeli diprediksi kembali melakukan penundaan pembelian.
“Khususnya generasi milenial dan Gen Z yang rasional dan value-oriented, bisa menunda keputusan beli atau beralih ke mobil bekas,” kata Yannes.
Pada akhirnya, ketiadaan insentif otomotif berisiko memperlambat pertumbuhan pasar serta adopsi mobil listrik rakitan lokal.
Perbedaan pendapat antara Kementerian Perindustrian dan Kementerian Perekonomian terkait insentif otomotif juga menimbulkan ketidakpastian buat banyak pihak.
“Konsumen semakin ragu belanja besar seperti mobil, investor ogah tanam modal baru dan industri yang sudah lesu sejak 2025 semakin terpuruk tanpa sinyal jelas dari pemerintah,” tegas Yannes.
Oleh karena itu, dibutuhkan adanya kebijakan terarah dan satu suara khususnya terkait insentif otomotif sebagai stimulus pasar yang tengah lesu.
Sebagai informasi, Gaikindo sudah melakukan revisi target penjualan mobil baru di 2025 menjadi 780.000 unit.
Sebelumnya Gaikindo sempat menetapkan target optimistis di angka 850.000 sampai 900.000 unit di akhir 2025.
Namun melihat kondisi ekonomi yang belum pulih sepenuhnya, akhirnya target tersebut direvisi.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
20 Agustus 2026, 21:00 WIB
20 Agustus 2026, 15:00 WIB
19 Agustus 2026, 09:00 WIB
15 Agustus 2026, 20:53 WIB
14 Agustus 2026, 11:00 WIB
Terkini
26 Agustus 2026, 06:00 WIB
Aturan Ganjil Genap Jakarta kembali berlaku hari ini untuk memecah kebuntuan di sejumlah jalanan protokol
26 Agustus 2026, 06:00 WIB
Setelah libur nasional, layanan SIM keliling Jakarta kembali tersedia di lima lokasi berbeda sekitar
26 Agustus 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Bandung merupakan fasilitas yang dapat memudahkan masyarakat dalam mengurus dokumen berkendara
25 Agustus 2026, 19:00 WIB
Suzuki e Sky hadir sebagai versi produksi dari prototipe Vision e-Sky, siap hadang BYD Racco dan Chery Emta
25 Agustus 2026, 17:00 WIB
Pertamina Lubricants beri layanan ganti oli gratis untuk 1.000 pengemudi ojol, libatkan siswa sekolah binaan
25 Agustus 2026, 15:52 WIB
MotoGP Aragon 2026 menjadi salah satu seri yang paling ditunggu, sebab Marc Marquez cukup diunggulkan di sana
25 Agustus 2026, 08:57 WIB
Eneos NXP berkolaborasi dengan HiTEQ untuk menggelar touring bertemakan Ride Merah Putih pada Hari Kemerdekaan
24 Agustus 2026, 18:54 WIB
FIFGroup rayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia dengan cara melakukan perjalanan panjang dan bermakna