VinFast Daftarkan Paten Desain SUV Baru di Indonesia
02 April 2026, 13:00 WIB
Perang harga jadi strategi di tengah pelemahan pasar, tetapi Hyundai sebut hal ini bisa merugikan diler
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Ada sejumlah pendatang baru di dunia otomotif Indonesia sekarang, banyak di antaranya berasal dari China. Beberapa berlomba menarik konsumen dengan menurunkan harga jual dalam periode tertentu.
Seperti MG 4 EV yang awalnya dijual Rp 699 juta saat masih berstatus impor utuh dari Thailand. Turun pada Januari 2024 karena sudah dirakit lokal jadi Rp 433 juta lalu berakhir di Rp 395 juta setelah TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) mobil itu sudah 40 persen.
Kemudian ada Wuling, memperkenalkan varian baru dari Air ev Lite. Tipe itu menawarkan daya jelajah mumpuni yaitu 300 km, sehingga varian di bawahnya turun harga lagi jadi Rp 179,1 juta.
Angka itu akhirnya jadi lebih rendah dibandingkan Seres E1, sebelumnya pegang gelar mobil listrik termurah di Indonesia. E1 dijual Rp 189 jutaan.
Perang harga bisa jadi salah satu respon dari merek-merek tertentu untuk mendorong daya beli masyarakat yang tengah lesu saat ini.
Menanggapi hal tersebut, pihak Hyundai sebagai salah satu produsen mobil listrik di Indonesia menegaskan tidak tertarik dengan perang harga yang banyak dilakukan pabrikan. Karena justru berpeluang merugikan diler.
“Kita tidak memaksakan penetrasi di kondisi seperti ini. Yang kita jaga adalah Healthiness Finance dari diler kita,” ucap Fransiscus Soerjopranoto, Chief Operating Officer PT HMID (Hyundai Motors Indonesia) beberapa waktu lalu.
Sehingga harga mobil listrik Hyundai masih terbilang stabil dan tidak banyak perubahan dari waktu ke waktu. Misal Kona Electric dijual mulai Rp 499 jutaan sementara model ukuran lebih besar seperti Ioniq 5 ditawarkan dari Rp 782 jutaan.
Kedua model itu telah dirakit lokal. Sedangkan Ioniq 6 masih CBU (Completely Built Up) dari Korea Selatan, jadi banderolnya Rp 1,19 miliar.
“Tidak ada cerita untuk banting-bantingan (harga) dan lain sebagainya. Walaupun ada Customer Benefit kita berikan karena (melihat kondisi pasar), itu tanggung jawab penuh dari APM bukan diler,” tegas Frans.
Sebagai informasi, perang harga khususnya untuk mobil listrik dapat berdampak buruk pada banyak hal, misalnya adalah penurunan harga jual kembali kendaraan. Hal itu dijelaskan oleh Suvit Chobpradu, Vice President Asosiasi Diler Mobil Bekas di Thailand.
Ia menjabarkan normalnya mobil produksi Jepang mendapat pembaruan setiap empat sampai lima tahun sekali. Sedangkan mobil Eropa jangka waktunya empat sampai enam tahun.
“Ketika model baru meluncur, harga versi lamanya turun, ini hal biasa. Tetapi untuk mobil listrik, harga (versi bekasnya) bisa jatuh tidak lama setelah peluncuran,” kata Suvit dikutip dari Nation Thailand beberapa waktu lalu.
Suvit menilai kondisi tersebut bisa memburuk sampai tahun depan. Namun ada langkah inisiatif bisa dilakukan oleh pemerintah seperti imbauan untuk produksi lokal.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
02 April 2026, 13:00 WIB
31 Maret 2026, 17:00 WIB
31 Maret 2026, 11:00 WIB
31 Maret 2026, 09:47 WIB
27 Maret 2026, 20:00 WIB
Terkini
03 April 2026, 18:43 WIB
Yamaha Gear Ultima kini hadir dalam tiga varian di Indonesia, telah dilengkapi dengan Smart Key System
03 April 2026, 15:39 WIB
Kondisi tol Trans Jawa yang baik diklaim telah menjadi salah satu faktor lancarnya arus mudik Lebaran 2026
03 April 2026, 06:00 WIB
Sebelum akhir pekan, SIM keliling Jakarta masih dibuka di lima tempat berbeda tersebar di sekitar Ibu Kota
03 April 2026, 06:00 WIB
Meski menjelang akhir pekan, SIM keliling Bandung tetap dihadiri demi memudahkan pengendara di Kota Kembang
02 April 2026, 17:00 WIB
PLN ungkap jumlah pemakaian SPKLU saat libur Lebaran 2026 alami peningkatan dibanding periode serupa tahun lalu
02 April 2026, 16:47 WIB
Wuling Darion Plug-in Hybrid dilengkapi spesifikasi mumpuni dan irit, cocok dibawa berkendara jarak jauh
02 April 2026, 13:00 WIB
Desain mobil baru VinFast identik dengan VF 7, namun ada sejumlah perbedaan terlihat pada eksteriornya
02 April 2026, 11:00 WIB
Presiden Prabowo bertemu dengan petinggi Toyota dan Mitsubishi di Jepang demi membahas kelanjutan investasi