Rencana BAIC Bangun Pabrik Mandiri, Tunggu Penjualan Naik
20 Agustus 2026, 21:00 WIB
Harga mobil listrik CBU bisa bersaing berkat insentif, berpotensi naik apabila tak memenuhi TKDN 40 persen
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Pemerintah memutuskan untuk tidak melanjutkan insentif mobil listrik impor atau Completely Built Up (CBU) di 2026.
Keputusan tersebut bermaksud memperkuat industri komponen otomotif domestik di tengah berbagai tantangan ekonomi.
Sepanjang 2025, ada beberapa merek yang menikmati bantuan tersebut seperti BYD hingga GAC Aion.
Subsidi Electric Vehicle (EV) impor terbukti berhasil membantu mengerek angka penjualan mobil listrik di dalam negeri berkat harga kompetitif.
Namun masalah lain masih menanti. Belum ada regulasi rinci terkait pengaturan struktur harga mobil listrik CBU setelah dirakit lokal nanti.
Kemudian ketentuan soal harga mobil listrik jika belum berhasil memenuhi persyaratan Completely Knocked Down (CKD) dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 40 persen.
Dengan asumsi mobil listrik impor tak memenuhi kriteria TKDN 40 persen, pengamat menilai ada peluang harganya meroket.
“Ini berpotensi meningkatkan harga Electric Vehicle (EV) tersebut hingga di atas 40 persen,” kata Yannes Martinus Pasaribu, pengamat dan akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) kepada KatadataOTO belum lama ini.
Ia mengungkapkan hal itu disebabkan oleh biaya impor yang tinggi dan pajak berlaku tanpa bantuan pemerintah.
Dihitung secara kasar, kenaikan harga mobil listrik sebesar 40 persen tentu sangat signifikan.
Ambil contoh BYD Atto 1, salah satu mobil listrik termurah di dalam negeri. Per September 2025, harga on the road-nya adalah Rp 195 jutaan.
Apabila tidak memenuhi kriteria TKDN dan masih harus impor tahun depan, maka harga BYD Atto 1 berpeluang naik menjadi Rp 273 jutaan.
“Hal ini dapat dipastikan akan mempengaruhi penjualan EV di pasar Indonesia,” tegas Yannes.
Untuk itu, perlu ada kebijakan dan transisi yang sesuai agar struktur harga mobil listrik impor di 2026 bisa terjaga.
Sampai sekarang, diketahui belum ada ketentuan soal struktur harga mobil listrik CBU di 2026.
Namun salah satu merek menikmati insentif, GAC Aion meyakini harga mobil listrik mereka tak berubah sebab sudah dirakit lokal.
“Kita harus lihat nanti regulasinya, tetapi sejauh ini tidak memberi impact apapun (diberhentikannya insentif mobil listrik impor),” kata Andry Ciu, CEO GAC Indonesia di Jakarta dalam kesempatan terpisah.
Dua model mobil GAC yang mendapatkan subsidi pajak impor yaitu Aion UT dan Aion V diklaim telah memenuhi kewajiban TKDN 40 persen.
Sementara BYD sebagai salah satu pemimpin pasar EV domestik dikabarkan belum menjalin kerja sama dengan supplier komponen, meskipun pabriknya ditargetkan sudah rampung tahun depan.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
20 Agustus 2026, 21:00 WIB
19 Agustus 2026, 09:00 WIB
15 Agustus 2026, 20:53 WIB
12 Agustus 2026, 19:55 WIB
12 Agustus 2026, 09:00 WIB
Terkini
21 Agustus 2026, 06:00 WIB
Sistem Ganjil Genap Jakarta hari ini (21/08) kembali diandalkan untuk bisa memecah kebuntuan di jalanan
21 Agustus 2026, 06:00 WIB
Mendekati akhir pekan, SIM keliling Jakarta masih ada di lima lokasi berbeda dan melayani perpanjangan
21 Agustus 2026, 06:00 WIB
Layanan kepolisian tidak dikendurkan jelang akhir pekan, termasuk dalam menghadirkan SIM keliling Bandung
20 Agustus 2026, 21:00 WIB
BAIC mengaku memiliki rencana membangun pabrik mandiri, namun sekarang sedang fokus meningkatkan penjualan
20 Agustus 2026, 19:19 WIB
Freelander 8 tengah menjadi perbincangan para pencinta otomotif, bahkan berhasil mencatatkan 10 ribu pemesanan
20 Agustus 2026, 15:00 WIB
Penjualan Daihatsu di Indonesia terus menunjukkan tren positif, mencapai angka tertingginya di Juli 2026
20 Agustus 2026, 13:00 WIB
Sejumlah merek mobil Cina tuai hasil positif di GIIAS 2026, BYD bukukan SPK terbanyak lebih dari 4.000 SPK
20 Agustus 2026, 11:00 WIB
IEE Series 2026 diharapkan menjadi wadah diskusi dan pertemuan pihak industri, usung tema keberlanjutan