VinFast Pede Jual Mobil Listrik Tanpa Insentif Pemerintah
11 Februari 2026, 13:00 WIB
Insentif otomotif jadi salah satu daya tarik utama, perlu diterapkan agar penjualan bisa bertahan konsisten
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Penjualan mobil mencakup mobil dan motor diyakini akan mengalami pemulihan secara perlahan di Januari 2026.
Perlu diketahui sepanjang 2025 industri otomotif memang tengah mengalami tantangan dari sisi ekonomi dan daya beli.
Namun ekonom menilai penjualan mobil bisa tumbuh di atas 800.000 unit pada periode Januari-Desember 2026.
“Tahun ini kita harapkan (penjualan mobil) masih di kisaran 821.000 unit,” kata Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank dalam diskusi Indonesia Center for Mobility Studies (ICMS) belum lama ini.
Lebih lanjut dia menegaskan, ini semua pada akhirnya kembali bergantung pada situasi ekonomi suatu negara.
Saat terjadi inflasi, Josua menekankan belanja kebutuhan makan-minum jadi prioritas. Sehingga pembelian di sektor otomotif tertunda.
Namun pemerintah dinilai sudah memperhatikan hal tersebut dan mengambil langkah untuk menjaga daya beli masyarakat.
“Pajak Pertambahan Nilai (PPN) tidak naik. Artinya menjadi salah satu indikasi bahwa harapannya ini tetap bisa menjaga daya beli masyarakat,” tegas Josua.
Di sisi lain Josua mengungkapkan bahwa leading indicator (indikator prediksi tren di pasar) bertumbuh ke arah positif.
“Itu menjadi salah satu alasan mengapa kita lebih percaya diri tetapi tetap berhati-hati, karena tadi ada insentif yang kita masih nantikan juga,” ungkap Josua.
Kebijakan seperti pemberian insentif yang tidak konsisten diberikan memberikan efek domino buat banyak pihak.
Misal investor kemudian ragu menanamkan model di Indonesia karena menunggu kepastian insentif.
Calon pembeli juga ikut wait and see alias menunda pembelian dengan pertimbangan harga mobil incarannya bisa jadi lebih rendah ketika pemerintah memberikan subsidi.
Insentif sendiri dinilai efektif membantu mendorong penjualan kendaraan elektrifikasi sepanjang 2025.
Apalagi skema subsidi impor yang diberikan untuk beberapa merek tertentu seperti BYD dan VinFast. Perlu diketahui keduanya masuk Indonesia dengan metode impor utuh atau Completely Built Up (CBU).
Harganya bisa tetap kompetitif karena tidak ada biaya pajak impor dibebankan pada banderol akhir mobil.
Seluruh merek penerima insentif mobil listrik impor wajib melakukan perakitan lokal kendaraan mereka di 2026, sesuai jumlah yang terjual secara retail di dalam negeri.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
11 Februari 2026, 13:00 WIB
11 Februari 2026, 12:00 WIB
11 Februari 2026, 10:00 WIB
10 Februari 2026, 18:00 WIB
10 Februari 2026, 13:00 WIB
Terkini
11 Februari 2026, 18:00 WIB
Bridgestone Indonesia berhasil mencatat perkembangan pasar yang positif pada tahun lalu di tengah tantangan
11 Februari 2026, 17:00 WIB
Ada sejumlah pilihan mobil hybrid murah mulai dari Rp 200 juta-Rp 300 jutaan di IIMS 2026, simak daftarnya
11 Februari 2026, 16:43 WIB
Lepas L8 hadir di IIMS 2026 dengan menawarkan beragam penawaran menarik, sehingga bisa dimanfaatkan pengunjung
11 Februari 2026, 13:00 WIB
Vinfast menilai mobil listrik yang sudah diproduksi di Subang memiliki harga yang kompetitif di pasar EV
11 Februari 2026, 12:00 WIB
Segmen fleet masih menjadi andalan VinFast dalam mengembangkan kendaraan listrik mereka di Indonesia
11 Februari 2026, 11:00 WIB
Dengan tidak adanya insentif, Vinfast memprediksi pertumbuhan pasar EV bakal mengalami perlambatan dari tahun lalu
11 Februari 2026, 10:00 WIB
Detail eksterior Suzuki e Vitara jadi satu karakter yang mau ditonjolkan sebagai daya tarik, simak ulasannya
11 Februari 2026, 09:00 WIB
Beberapa motor matic 150 cc seperti Vario, Nmax Neo sampai Vespa Sprint terpantau tidak mengalami kenaikan