Simpang Siur Insentif Motor Listrik, ESDM: Perlu Perpres
03 September 2026, 07:00 WIB
Insentif otomotif jadi salah satu daya tarik utama, perlu diterapkan agar penjualan bisa bertahan konsisten
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Penjualan mobil mencakup mobil dan motor diyakini akan mengalami pemulihan secara perlahan di Januari 2026.
Perlu diketahui sepanjang 2025 industri otomotif memang tengah mengalami tantangan dari sisi ekonomi dan daya beli.
Namun ekonom menilai penjualan mobil bisa tumbuh di atas 800.000 unit pada periode Januari-Desember 2026.
“Tahun ini kita harapkan (penjualan mobil) masih di kisaran 821.000 unit,” kata Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank dalam diskusi Indonesia Center for Mobility Studies (ICMS) belum lama ini.
Lebih lanjut dia menegaskan, ini semua pada akhirnya kembali bergantung pada situasi ekonomi suatu negara.
Saat terjadi inflasi, Josua menekankan belanja kebutuhan makan-minum jadi prioritas. Sehingga pembelian di sektor otomotif tertunda.
Namun pemerintah dinilai sudah memperhatikan hal tersebut dan mengambil langkah untuk menjaga daya beli masyarakat.
“Pajak Pertambahan Nilai (PPN) tidak naik. Artinya menjadi salah satu indikasi bahwa harapannya ini tetap bisa menjaga daya beli masyarakat,” tegas Josua.
Di sisi lain Josua mengungkapkan bahwa leading indicator (indikator prediksi tren di pasar) bertumbuh ke arah positif.
“Itu menjadi salah satu alasan mengapa kita lebih percaya diri tetapi tetap berhati-hati, karena tadi ada insentif yang kita masih nantikan juga,” ungkap Josua.
Kebijakan seperti pemberian insentif yang tidak konsisten diberikan memberikan efek domino buat banyak pihak.
Misal investor kemudian ragu menanamkan model di Indonesia karena menunggu kepastian insentif.
Calon pembeli juga ikut wait and see alias menunda pembelian dengan pertimbangan harga mobil incarannya bisa jadi lebih rendah ketika pemerintah memberikan subsidi.
Insentif sendiri dinilai efektif membantu mendorong penjualan kendaraan elektrifikasi sepanjang 2025.
Apalagi skema subsidi impor yang diberikan untuk beberapa merek tertentu seperti BYD dan VinFast. Perlu diketahui keduanya masuk Indonesia dengan metode impor utuh atau Completely Built Up (CBU).
Harganya bisa tetap kompetitif karena tidak ada biaya pajak impor dibebankan pada banderol akhir mobil.
Seluruh merek penerima insentif mobil listrik impor wajib melakukan perakitan lokal kendaraan mereka di 2026, sesuai jumlah yang terjual secara retail di dalam negeri.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
03 September 2026, 07:00 WIB
30 Agustus 2026, 09:00 WIB
26 Agustus 2026, 19:38 WIB
20 Agustus 2026, 21:00 WIB
19 Agustus 2026, 09:00 WIB
Terkini
03 September 2026, 16:46 WIB
Daihatsu Kumpul Sahabat menyambangi kota Batam dengan segala keunggulan masyarakat untuk bermobilitas
03 September 2026, 16:02 WIB
Pabrik BYD di Subang resmi beroperasi dengan investasi Rp11,7 triliun dengan kapasitas maksimal 150 ribu per tahun.
03 September 2026, 09:00 WIB
Jika dilihat Marc Marquez memang belum pernah menyelesaikan satu pun balapan di Sirkuit Mandalika, Lombok
03 September 2026, 07:00 WIB
Pemberian insentif motor listrik masih belum menemui kepastian di September 2026, Kementerian ESDM buka suara
03 September 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Bandung bisa dimanfaatkan jika Anda ingin memperpanjang masa berlaku dokumen berkendara hari ini
03 September 2026, 06:00 WIB
Ganjil Genap Jakarta hari ini kembali dimulai sejak pukul 06.00 WIB dan sistem hadir kembali sore 16.00 WIB
03 September 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Jakarta dapat melayani perpanjangan masa berlaku Surat Izin Mengemudi, berikut lokasinya
02 September 2026, 19:52 WIB
Pertamina menaikan harga BBM jenis Pertamax Green menjadi Rp 19.150 per liter yang berlaku mulai hari ini