Tianneng Resmikan Pangkalan Produksi Strategis di Jawa Timur
25 Juni 2026, 20:58 WIB
Insentif otomotif jadi salah satu daya tarik utama, perlu diterapkan agar penjualan bisa bertahan konsisten
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Penjualan mobil mencakup mobil dan motor diyakini akan mengalami pemulihan secara perlahan di Januari 2026.
Perlu diketahui sepanjang 2025 industri otomotif memang tengah mengalami tantangan dari sisi ekonomi dan daya beli.
Namun ekonom menilai penjualan mobil bisa tumbuh di atas 800.000 unit pada periode Januari-Desember 2026.
“Tahun ini kita harapkan (penjualan mobil) masih di kisaran 821.000 unit,” kata Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank dalam diskusi Indonesia Center for Mobility Studies (ICMS) belum lama ini.
Lebih lanjut dia menegaskan, ini semua pada akhirnya kembali bergantung pada situasi ekonomi suatu negara.
Saat terjadi inflasi, Josua menekankan belanja kebutuhan makan-minum jadi prioritas. Sehingga pembelian di sektor otomotif tertunda.
Namun pemerintah dinilai sudah memperhatikan hal tersebut dan mengambil langkah untuk menjaga daya beli masyarakat.
“Pajak Pertambahan Nilai (PPN) tidak naik. Artinya menjadi salah satu indikasi bahwa harapannya ini tetap bisa menjaga daya beli masyarakat,” tegas Josua.
Di sisi lain Josua mengungkapkan bahwa leading indicator (indikator prediksi tren di pasar) bertumbuh ke arah positif.
“Itu menjadi salah satu alasan mengapa kita lebih percaya diri tetapi tetap berhati-hati, karena tadi ada insentif yang kita masih nantikan juga,” ungkap Josua.
Kebijakan seperti pemberian insentif yang tidak konsisten diberikan memberikan efek domino buat banyak pihak.
Misal investor kemudian ragu menanamkan model di Indonesia karena menunggu kepastian insentif.
Calon pembeli juga ikut wait and see alias menunda pembelian dengan pertimbangan harga mobil incarannya bisa jadi lebih rendah ketika pemerintah memberikan subsidi.
Insentif sendiri dinilai efektif membantu mendorong penjualan kendaraan elektrifikasi sepanjang 2025.
Apalagi skema subsidi impor yang diberikan untuk beberapa merek tertentu seperti BYD dan VinFast. Perlu diketahui keduanya masuk Indonesia dengan metode impor utuh atau Completely Built Up (CBU).
Harganya bisa tetap kompetitif karena tidak ada biaya pajak impor dibebankan pada banderol akhir mobil.
Seluruh merek penerima insentif mobil listrik impor wajib melakukan perakitan lokal kendaraan mereka di 2026, sesuai jumlah yang terjual secara retail di dalam negeri.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
25 Juni 2026, 20:58 WIB
25 Juni 2026, 20:56 WIB
19 Juni 2026, 19:00 WIB
18 Juni 2026, 17:29 WIB
18 Juni 2026, 09:00 WIB
Terkini
27 Juni 2026, 21:00 WIB
AHM meminta konsumen tidak perlu ragu dengan kualitas new Honda Vario Evo 160 yang diluncurkan di Indonesia
27 Juni 2026, 20:34 WIB
Sprint Race MotoGP Belanda 2026 di Sirkuit Assen berlangsung sengit, dua rider Trackhouse Aprilia naik podium
27 Juni 2026, 18:15 WIB
Mobil mewah diyakini mengalami tantangan khususnya dari segi harga jual di tengah ketidakpastian kurs
27 Juni 2026, 09:00 WIB
Mitsubishi Destinator menghadirkan pengalaman berkendara yang nyaman, aman dan efisien untuk mobilitas harian
27 Juni 2026, 07:00 WIB
Yadea Indonesia membuktikan kualitas produknya melalui agenda kunjungan Wapres ke Papua beberapa waktu lalu
26 Juni 2026, 22:57 WIB
Mitsubishi Pajero Sport tawarkan keseimbangan performa mesin dan efisiensi bahan bakar untuk keluarga
26 Juni 2026, 09:00 WIB
AHM menjelaskan kalau mereka belum memutuskan bagaimana masa depan paten Honda Ryden 160 yang mereka daftarkan
26 Juni 2026, 07:00 WIB
Francesco Bagnaia mendapatkan kontrak selama empat tahun dari Aprilia dan akan berduet dengan Bezzecchi