Isuzu Hadirkan Pilihan Spare Parts Berbanderol Lebih Terjangkau
13 April 2026, 17:59 WIB
Pemasok suku cadang kendaraan di Eropa tengah mengalami krisis setelah semakin tingginya permintaan terhadap mobil listrik
Oleh Adi Hidayat
TRENOTO – Perusahaan pemasok suku cadang kendaraan di Eropa yang memproduksi komponen mesin pembakaran internal mulai menghadapi tantangan berat. Hal ini karena beberapa negara sudah bersiap beralih ke mobil listrik.
Krisis tersebut menjadi tantangan berat karena potensi penjualan kendaraan listrik masih sangat tinggi. Sehingga mereka harus melakukan pengembangan termasuk investasi dalam jumlah besar untuk menjawab kebutuhan di masa depan.
Tetapi di saat yang sama, telah terjadi penurunan pendapatan akibat perlambatan penjualan kendaraan konvensional. Beberapa perusahaan besar pun telah merasakan dampak negatif dari perubahan.
Kondisi diperburuk karena banyak negara Eropa berencana melarang sepenuhnya mesin pembakaran internal pada 2035. Akibatnya beberapa perusahaan pun berevolusi meski dengan cara tidak menyenangkan.
Salah satunya adalah Evtec Aluminum, suplier komponen mesin untuk Jaguar Land Rover. Perusahaan tersebut berhasil bertahan karena telah diambil alih oleh group otomotif pimpinan David Roberts beberapa waktu lalu.
Di bawah kepemimpinannya, perusahaan dapat memproduksi komponen alumunium yang rumit. Kemampuan tersebut hampir pasti akan menarik minat perusahaan produsen mobil listrik di masa depan.
Perusahaan lain seperti Vitesco Technologies Group AG dari Jerman tengah berupaya untuk mengubah fokus mereka dari mesin pembakaran ke listrik. Mereka berharap bisa menguasai 70 persen pasar kendaraan di 2030.
Untuk mendapatkannya mereka akan membagi fokusnya ke 2 divisi termasuk suku cadang mobil listrik. Sementara divisi lain bertugas mengembangkan pembakaran internal dengan teknologi lebih tinggi dan meraih pendapatan besar ketika segmen pasar menurun.
Karena mobil listrik hanya membutuhkan sedikit komponen dibanding mesin pembakaran, beberapa pabrikan untuk telah memberi peringatan adanya PHK massal. Sebagai contoh adalah Stellantis yang sedang dalam proses mengalihkan pabrik mesinnya di Tremery, Prancis menjadi manufaktur motor listrik.
Dalam prosesnya, perusahaan telah mengurangi jumlah pekerjanya dari sebelumnya 3.000 orang menjadi hanya 2.400. Jumlah tersebut diperkirakan akan kembali berkurang karena jenis pekerjaan lebih sedikit.
Kondisi tersebut tentunya sangat mungkin terjadi di Indonesia. Meski penghentian penjualan kendaraan bermesin bensin masih jauh, tetapi pemerintah harus memikirkan krisis yang dapat terjadi di masa depan.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
13 April 2026, 17:59 WIB
12 Desember 2025, 15:00 WIB
27 November 2025, 21:00 WIB
25 September 2025, 21:00 WIB
26 Agustus 2025, 18:00 WIB
Terkini
17 Juni 2026, 18:37 WIB
Pada Juni 2026 beberapa pabrikan melakukan penyesuaian harga motor matic murah, seperti dialami oleh Yamaha
17 Juni 2026, 11:00 WIB
Jaecoo menjadi merek mobil Cina dengan penjualan retail terlaris sepanjang Mei 2026, berada di atas BYD
17 Juni 2026, 09:00 WIB
E5 Plus jadi SUV PHEV perdana DFSK di pasar Indonesia, klaim daya jelajah komprehensifnya 1.300 kilometer
17 Juni 2026, 07:00 WIB
GWM Ora 7 merupakan mobil listrik hasil kolaborasi dengan BMW, ubah arah desain seri Ora di masa mendatang
17 Juni 2026, 06:00 WIB
Ganjil genap Jakarta hari ini akan mengincar mobil dengan pelat nomor berakhiran genap terutama di jam sibuk
17 Juni 2026, 06:00 WIB
Setelah libur Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah, SIM keliling Jakarta kembali melayani masyarakat hari ini
16 Juni 2026, 19:00 WIB
Kiandra Ramadhipa mengaku sering berdiskusi, demi bisa mendapatkan ilmu balapan dari Veda Ega dan Mario Aji
16 Juni 2026, 18:11 WIB
Rencana penyesuaian tarif Transjakarta, pemerintah hanya menyasar rute jauh seperti Blok M - Bandara Soetta