Toyota Avanza Bekas 2025 Makin Banyak, Cicilan Mulai Rp 5 Jutaan
18 Januari 2026, 13:00 WIB
Serangan AS ke Venezuela beberapa waktu lalu berpotensi sebabkan penurunan ekspor Toyota ke negara tersebut
Oleh Adi Hidayat
KatadataOTO – Serangan Amerika Serikat terhadap Venezuela mendapat perhatian khusus dari Toyota Indonesia. Pasalnya negara tersebut merupakan salah satu tujuan ekspor mobil buatan anak bangsa.
Adanya serangan tersebut diperkirakan bakal mempengaruhi kondisi politik dan berpotensi menghambat pasar di Venezuela dan Amerika Selatan.
“Kami masih mempelajari dinamika geopolitik global. Saat ini Toyota Indonesia melakukan kajian lebih lanjut dan belum dapat memberikan komentar mengenai pengaruh langsung terhadap kinerja ekspor Toyota ke kawasan Amerika Selatan,” ungkap Bob Azam, Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) kepadata KatadataOTO beberapa waktu lalu.
Pada Januari hingga November 2025 saja, mereka telah mengirim sedikitnya 5.877 unit. Dari jumlah tersebut, Toyota Wigo menjadi model yang paling banyak dikirim yaitu 4.869 unit disusul oleh Yaris Cross 1.008 unit.
Jumlah tersebut terbilang besar mengingat pabrik Toyota di Cumana, Venezuela telah menghadapi beragam gangguan operasional.
Bahkan membuat jumlah produksi menurun, menjadi hanya ratusan kendaraan per tahun sejak 2020 karena diberhentikan sementara imbas pandemi Covid-19.
Toyota sendiri saat ini sangat berhati-hati dalam menentukan kebijakan. Mereka bahkan mengimbau kepada seluruh staf ekspatriat agar tidak bekerja dari kantor. Kendati demikian, Toyota memastikan seluruh staf ekspatriat serta keluarga dalam kondisi aman meski kondisi Venezuela belum stabil.
Oleh sebab itu, jenama asal Jepang ini meminta para staf ekspatriat untuk menuntaskan kewajibannya secara work from home (WFH).
Lebih jauh disebutkan, keputusan WFH para karyawan Toyota tidak akan memengaruhi penjualan atau operasi produksi.
Selain Venezuela, tantangan ekspor kendaraan dari Indonesia juga datang dari negara lain seperti Meksiko. Pasalnya mereka menerapkan sistem proteksi untuk melindungi industri kendaraan dalam negeri.
Meski demikian, dampak dari kebijakan tersebut tidak bisa terlihat secara instan. Toyota Indonesia berpendapat bahwa produk otomotif bukanlah sesuatu yang dapat terganti dengan mudah.
Terlebih, mereka bakal menyediakan beragam produk sehingga bisa menjawab kebutuhan pasar di berbagai kawasan lain. Dengan demikian ekspor mobil dapat terus berkembang di masa depan.
“Seiring dengan meningkatnya kebutuhan mobilitas dan diversifikasi pasar ekspor, daya saing produk otomotif Indonesia harus terus ditingkatkan. Termasuk melalui pengembangan kendaraan ramah lingkungan,” pungkas Bob Azam.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
18 Januari 2026, 13:00 WIB
15 Januari 2026, 15:00 WIB
15 Januari 2026, 12:00 WIB
14 Januari 2026, 15:00 WIB
14 Januari 2026, 10:00 WIB
Terkini
19 Januari 2026, 12:33 WIB
Otomatisasi produksi mobil di super factory BYD di Zhengzhou, China hampir 100 persen dikerjakan oleh robot-robot produksi
19 Januari 2026, 12:00 WIB
Julian Johan, pereli asal Indonesia berhasil mencatatkan sejarah baru setelah finish di Rally Dakar 2026
19 Januari 2026, 11:00 WIB
Toyota berhasil jadi produsen mobil terbesar 2025 di Indonesia setelah membuat lebih dari 500 ribu kendaraan
19 Januari 2026, 10:11 WIB
SUV baru Mitsubishi diyakini kuat merupakan Pajero generasi terbaru, SUV offroad berkapasitas tujuh penumpang
19 Januari 2026, 09:00 WIB
Yamaha meminta kepada para pemerintah provinsi agar membuat opsen PKB dan BBNKB tidak membebani masyarakat
19 Januari 2026, 08:00 WIB
Ada banyak hal yang mempengaruhi harga BBM di Indonesia, seperti contoh potensi perang antara Iran dan AS
19 Januari 2026, 07:00 WIB
Mobil hybrid menunjukkan pertumbuhan stabil di Indonesia, PHEV populer berkat kehadiran merek Tiongkok
19 Januari 2026, 06:00 WIB
Menyambut awal pekan, kepolisian di Kota Kembang kembali menghadirkan SIM keliling Bandung di dua tempat