Nio Firefly Setir Kanan Meluncur, Calon Rival Honda Super One
27 Maret 2026, 20:00 WIB
Aletra menilai dengan menerapkan perang harga, justru akan membawa dampak buruk bagi sebuah produsen EV
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Banyak cara dilakukan untuk menggaet konsumen. Salah satunya dengan menerapkan perang harga.
Biasanya strategi tersebut diterapkan oleh para pabrikan mobil listrik yang memasarkan produk di Indonesia.
Banyak produsen Electric Vehicle (EV) membanting banderol produk mereka demi menggoda konsumen di dalam negeri.
Akan tetapi Aletra Mobil Nusantara mengaku enggan ikut terseret praktik perang harga yang ada di Indonesia.
"Kita usahan tidak (ikut perang harga), makanya kami tidak bermain di segmen yang di bawahnya itu lagi," ungkap Reinhard Jacobus, General Manager Executive Aletra di Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.
Reinhard mengungkapkan Altera tidak berminat untuk berkompetisi di tempat yang sama dengan para produsen mobil listrik lain.
Produsen satu ini mengaku ingin bermain di tempat lain dengan peluang lebih besar, yakni fleet sales.
Ia tidak menungkiri perang harga bisa menguntungkan para konsumen. Namun turut membawa dampak degatif bagi sebuah brand.
"Bagi kita yang punya brand justru orang jadi kurang percaya," Riendard menuturkan.
Petingi Aletra ini menjelaskan kalau sampai ada penurunan harga, konsumen justru jadi berpikir dua kali ketika ingin memboyong EV.
Dengan begitu kepercayaan calon pembeli mobil listrik merosot. Jadi mereka akan lebih ragu memboyong EV.
"(Dampak perang harga) mereka jadi makin antipati kembali dengan penggunaan mobil listrik," tegas Reinhard.
Lebih jauh dia menuturkan kalau Aletra selalu fokus menjaga kepercayaan para calon pembeli kendaraan roda empat setrum.
Seperti contoh dengan memberikan resale value serta menjaga nilai jual kembali kendaraan konsumen.
"Karena kita melakukan research and development. Kita memikirkan bagaimana karakter orang Indonesia," pungkas dia.
Seperti diberitakan KatadataOTO sebelumnya, perang harga mobil Cina disebut sudah mulai menunjukkan dampak negatif.
Salah satunya adalah penurunan kualitas mobil bermesin bensin. Ini terjadi karena persaingan harga semakin panas.
Membuat banyak manufaktur terpaksa mengurangi pengeluaran ekstra seperti biaya produksi.
Sementara di 2025, China Initial Quality Study menunjukkan ada 229 masalah per 100 unit kendaraan dilaporkan bermasalah oleh para pemilik. Angka tersebut naik 17 dari perolehan di 2024.
“Performa IQS mobil bermesin bensin mengalami penurunan year-on-year yang nyata,” kata Elvis Yang, General Manager Auto Product Practice JD Power dikutip dari China Daily.
IQS sendiri adalah Initial Quality Study, survey yang menunjukkan secara gamblang seberapa baik kualitas suatu kendaraan.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
27 Maret 2026, 20:00 WIB
26 Maret 2026, 20:07 WIB
20 Maret 2026, 13:31 WIB
16 Maret 2026, 11:00 WIB
14 Maret 2026, 21:00 WIB
Terkini
31 Maret 2026, 07:00 WIB
Suzuki Burgman 125 EX direcall karena adanya potensi kerusakan pada kabel rem belakang yang bisa mengurangi performa
31 Maret 2026, 06:05 WIB
SIM keliling Jakarta menawarkan kemudahan perpanjangan masa berlaku Surat Izin Mengemudi, simak lokasinya
31 Maret 2026, 06:03 WIB
MCD Pasir Koja menjadi salah satu lokasi SIM keliling Bandung yang beroperasi hari ini melayani pengendara
31 Maret 2026, 06:00 WIB
Ganjil genap Jakarta 31 Maret menjadi yang terakhir di bulan ini dengan pengawasan ketat dari kepolisian
30 Maret 2026, 20:43 WIB
Masanao Kataoka ditunjuk untuk menjabat sebagai President Director Honda Prospect Motor yang baru saat ini
30 Maret 2026, 14:00 WIB
Pemesanan Denza D9 resmi dibuka di Cina dengan beragam ubahan menarik untuk menarik minat para pelanggan
30 Maret 2026, 11:00 WIB
Toyota menjadi produsen mobil terbesar di Indonesia pada Februari 2026 disusul Mitsubishi Motors dan Daihatsu
30 Maret 2026, 09:53 WIB
Bezzecchi dan Martin berhasil mempertahankan posisi mereka di klasemen sementara MotoGP 2026 usai seri Amerika