Pemerintah Raup Rp 56 Triliun dari Investasi Chery sampai BYD
06 Desember 2025, 09:00 WIB
Terdapat lima mobil Airlangga Hartarto yang dilaporkan dalam LHKPN KPK pada 27 Maret 2023 untuk periodik 2022
Oleh Satrio Adhy
TRENOTO – Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian memenuhi panggilan Kejaksaan Agung (Kejagung) pada Senin (24/7). Dia diperiksa sebagai saksi dalam kasus dugaan korupsi izin ekspor minyak sawit mentah (Crude palm oil/CPO) atau minyak goreng.
Menteri Presiden Joko Widodo (Jokowi) itu tiba di Gedung Bundar Kejagung pukul 08.24 WIB. Dia terlihat mengenakan baju batik.
Setelahnya Airlangga langsung masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Nantinya keterangan diberikan bakal melengkapi proses penyidikan yang tengah berjalan.
Patut diketahui ini merupakan panggilan kedua. Pertama pada Selasa (18/7) namun pembantu Jokowi itu berhalangan hadir sehingga dijadwalkan ulang.
Sebagai informasi Kejagung telah menetapkan tiga perusahaan menjadi tersangka kasus dugaan korupsi izin ekspor minyak sawit mentah beserta turunannya.
Ketiganya adalah Wilmar Group, Permata Hijau Group dan Musim Mas Group. Kasusnya kini tengah disidik oleh pihak Kejagung.
Akibatnya, negara harus menelan kerugian sebesar Rp6.47 triliun berdasarkan putusan kasasi dari Mahkamah Agung yang sudah mempunyai kekuatan hukum tetap.
Di dalam kasus yang sama, terdapat lima orang pelaku terkait korupsi izin ekspor CPO proses sidangnya sudah selesai atau inkrah. Seluruhnya telah berstatus terpidana.
Diduga terlibat kasus korupsi, Airlangga Hartarto tercatat memiliki harta mencapai Rp454 miliar, atau Rp454.390.229.404. Jumlah tersebut diketahui dari LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara) yang dilaporkan pada 27 Maret 2023 buat periodik 2022.
Harta kekayaan di atas terbagi dalam beberapa instrumen. Mulai berupa tanah dan bangunan dengan taksiran nilai Rp113 miliar.
Bangunan-bangunan tersebut tersebar di sejumlah lokasi. Seperti Jakarta Selatan, Manado, Bali, Bogor sampai Australia.
Kemudian ada harta bergerak lainnya Rp573 juta. Selanjutnya Airlangga tercatat memiliki surat berharga Rp56.2 miliar.
Lalu kas dan setara kas Rp335 miliaran. Namun dia memiliki hutang sebesar Rp70.6 miliar.
Di sisi lain ternyata menteri satu ini hobi mengoleksi kendaraan. Di garasinya ada lima mobil Airlangga Hartarto total senilai Rp2.4 milar.
Pertama ada Jaguar lansiran 2010, dia mendapatkannya dengan hasil sendiri seharga Rp325 jutaan.
Mobil Airlangga Hartarto kedua adalah Toyota Vellfire produksi 2017. Kendaraan senilai Rp785 juta ialah hasil sendiri.
Tak ketinggalan Toyota Jeep LC 200 HDTP 2014 hasil sendiri Rp1 miliar. Ini merupakan koleksi paling mahal pembantu Jokowi.
Terakhir ada dua Toyota Kijang Innova masing-masing lansiran 2015 dan 2016 hasil sendiri dengan harga Rp179 juga Rp200 juta.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
06 Desember 2025, 09:00 WIB
05 Desember 2025, 07:00 WIB
04 Desember 2025, 16:00 WIB
04 Desember 2025, 13:00 WIB
02 Desember 2025, 19:13 WIB
Terkini
30 Desember 2025, 06:00 WIB
Demi memudahkan para pengendara, kepolisian tetap menghadirkan berbagai fasilitas seperti SIM keliling Bandung
30 Desember 2025, 06:00 WIB
SIM keliling Jakarta melayani perpanjangan masa berlaku kartu yang belum terlewat dari tanggal masa berlaku
30 Desember 2025, 06:00 WIB
Ganjil genap Jakarta tetap akan digelar meski rencananya akan ada aksi unjuk rasa dari ribuan buruh di Ibu Kota
29 Desember 2025, 19:00 WIB
Berakhirnya insentif dari pemerintah membuat kinerja penjualan mobil listrik di Cina pada tahun depan turun
29 Desember 2025, 18:00 WIB
Aprilia menunjukan kemajuan sangat signifikan dalam hal pengembangan motor balap milik Marco Bezzecchi
29 Desember 2025, 17:06 WIB
Bocoran tampilan interior Wuling Almaz Darion mulai terungkap di laman DJKI, pakai basis SUV Xingguang 560
29 Desember 2025, 15:00 WIB
GIAMM sebut perakitan lokal dihitung 30 persen TKDN, komponen lokal mobil listrik tak jadi prioritas produsen
29 Desember 2025, 14:13 WIB
Ditetapkan secara nasional di Cina, manufaktur wajib pastikan baterai mobil listrik tak bisa terbakar atau meledak