Spesifikasi GWM Ora 07 Performance yang Terdaftar di Indonesia
22 Januari 2026, 09:00 WIB
Airlangga menyebut harga mobil di Indonesia tidak berkembang karena adanya pergeseran minat masyarakat
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Pasar mobil konvensional di Indonesia terus tertekan. Apalagi setelah serbuan Electric Vehicle (EV) murah.
Saat ini di Tanah Air para pabrikan saling berlomba-lomba, untuk meniagakan mobil listrik Rp 100 jutaan.
Situasi itu ternyata berdampak luas bagi industri otomotif, terutama pada kendaraan roda empat bermesin bensin.
“Terjadi shifting dari mobil bensin ke mobil listrik,” ungkap Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian saat Pembukaan Rapimnas Kadin dikutip dari video YouTube Kadin Indonesia pada Kamis (04/11).
Airlangga menceritakan bahwa, dalam sebuah pameran yang digelar di kawasan Bumi Serpong Damai (BSD) sudah banyak kendaraan roda empat dibanderol Rp 300 jutaan.
Akan tetapi ia tidak mengurai secara rinci, mengenai model-model yang ia maksud dalam pameran tersebut.
“Bahkan ada mobil yang harganya Rp 175 juta sampai Rp 190 juta. Artinya dengan kehadiran electric vehicle harga mobil tertekan ke bawah,” lanjut Airlangga.
Pembantu Presiden Prabowo Subianto tersebut mengungkapkan, tingginya minat masyarakat terhadap EV murah mulai mengubah pola kompetisi di pasar otomotif nasional.
Nampak para produsen mobil konvensional lebih berhati-hati dalam menentukan harga produk mereka. Bahkan cenderung menahan banderol agar tetap kompetitif.
Mengingat perang harga mobil listrik di Tanah Air kian sengit. Sehingga mendorong mereka menyesuaikan diri.
“Ini belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan indikator tersebut kita melihat bahwa seluruh risiko ke depan itu sudah price in, baik itu di rupiah di tingkat suku bunga maupun berbagai faktor lain,” tegas Airlangga.
Di sisi lain Airlangga tida memungkiri bahwa, saat ini banyak masyarakat yang mengandalkan EV buat mobilitas.
Kondisi tersebut mendorong penjualan mobil listrik secara nasional pada 2025, bertumbuh cukup tinggi sampai 18,27 persen.
Sedangkan penjualan kendaraan roda empat bensin, relatif stagnan. Sehingga para pabrikan harus cermat dalam menentukan strategi.
Terutama dalam menentukan harga pada produk baru, agar masyarakat mau memboyong mobil yang dipasarkan.
Jika kondisi seperti ini dibiarkan, maka bukan tidak mungkin persaingan antar pabrikan semakin tidak sehat.
Selain itu mengancam keberlangsungan bisnis mereka juga di Tanah Air. Risiko terburuk pun dapat datang sewaktu-waktu.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
22 Januari 2026, 09:00 WIB
22 Januari 2026, 08:00 WIB
22 Januari 2026, 08:00 WIB
22 Januari 2026, 07:00 WIB
21 Januari 2026, 19:30 WIB
Terkini
22 Januari 2026, 11:00 WIB
Hino mengakui truk Cina yang diimpor dengan beragam kemudahan membuat persaingan menjadi semakin sulit
22 Januari 2026, 10:00 WIB
Tes pramusim di Sirkuit Sepang bakal menjadi momen penting bagi Fabio Quartararo guna mememaksimalkan mesin V4
22 Januari 2026, 09:00 WIB
GWM Ora 07 Performance terdata di Gaikindo dengan jumlah wholesales 20 unit, berikut rangkuman spesifikasinya
22 Januari 2026, 08:00 WIB
Aletra jadi satu dari sekian merek Tiongkok yang bergabung sebagai anggota Gaikindo, berlaku tahun ini
22 Januari 2026, 08:00 WIB
Geely terus mengembangkan sayap guna memasarkan mobil listrik dan hybrid kepada konsumen di Indonesia
22 Januari 2026, 07:00 WIB
Changan Indonesia memberikan penawaran menarik bagi konsumen di Tanah Air yang ingin meminang unit Lumin
22 Januari 2026, 06:00 WIB
Saat mengurus dokumen berkendara tidak perlu mendatangi kantor Satpas, cukup manfaatkan SIM keliling Bandung
22 Januari 2026, 06:00 WIB
Pemilik SIM A dan C bisa melakukan perpanjangan masa berlaku di SIM keliling Jakarta, ada di lima lokasi