Mobil Listrik Honda Super One Resmi Dijual, Harga Rp 2,3 Miliar
11 Januari 2026, 17:00 WIB
Honda akan hentikan operasional pabrik mereka di Cina dan Jepang karena adanya masalah distribusi cip semikonduktor
Oleh Adi Hidayat
KatadataOTO – Honda Prospect Motor mengakui bahwa telah terjadi kelangkaan cip semikonduktor. Situasi ini menyebabkan pabrik di Cina dan Jepang harus ditutup sementara.
Meski demikian mereka berharap situasi tersebut tidak berdampak terhadap penjualan Honda di Indonesia. Pasalnya kebanyakan mobil yang mereka jual adalah buatan dalam negeri.
“Saat ini memang terdapat gangguan distribusi chip semikonduktor secara global. Untuk Indonesia, belum ada dampak terhadap produksi maupun distribusi kendaraan namun kami akan terus memonitor perkembangan ke depannya,” ungkap Yusak Billy, Sales & Marketing and After Sales Director PT Honda Prospect Motor pada KatadataOTO (22/12).
Namun tidak bisa dipungkiri bahwa mereka juga tetap mengimpor secara utuh beberapa model ke Indonesia. Termasuk Honda Step WGN yang baru diluncurkan pada pertengahan tahun ini.
Berdasarkan data Gaikindo, pada Januari hingga November 2025 Honda telah mengimpor sedikitnya 1.914 kendaraan. Jumlah tersebut turun 54,5 persen dibanding periode serupa tahun lalu yang mencapai 4.203 unit.
Sebelumnya diberitakan bahwa Honda akan melakukan pengentian produksi di Jepang dan Cina. Langkah ini rencananya diambil pada akhir Desember hingga awal Januari karena adanya kekurangan cip semikonduktor.
Perusahaan mengungkap bahwa mereka akan menghentikan produksi di tiga pabrik di Negeri Tirai Bambu mulai 29 Desember 2025 selama lima hari. Fasilitas produksi tersebut dioperasikan perusahaan Joint Venture Honda dengan produsen mobil Cina.
Sementara untuk penghentian produksi di pabrik Jepang rencananya dilakukan pada 5 dan 6 Januari. Ketika produksi dilanjutkan di 7 Januari 2026, output tetap akan dikurangi selama tiga hari.
Kekurangan cip semikonduktor disebabkan adanya perang proksi geopolitik di Belanda. Pada Oktober pemerintah Negeri Kincir Angin dikabarkan mendapat tekanan dari Amerika Serikat untuk mengambil alih kendali Nexperia.
Perusahaan tersebut merupakan produsen cip milik Cina yang kerap digunakan pada mobil, peralatan rumah tangga dan teknologi lain.
Namun pemerintah Belanda mengungkap pengambilalihan dilakukan karena Nexperia memiliki kekurangan pasa sistem tata kelola yang serius. Mereka menilai kebanyakan pemilik perusahaan berasal dari Cina dan berpotensi memindahkan teknologi penting keluar Eropa.
Situasi itu makin panas setelah Cina membalas dengan memblokir ekspor cip buatan Nexperia. Belanda pun akhirnya menangguhkan intervensinya setelah melakukan komunikasi ke Negeri Tirai Bambu.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
11 Januari 2026, 17:00 WIB
10 Januari 2026, 15:00 WIB
09 Januari 2026, 08:00 WIB
03 Januari 2026, 11:00 WIB
31 Desember 2025, 16:00 WIB
Terkini
11 Januari 2026, 19:34 WIB
Insentif bersifat stimulus dipercaya lebih efektif dibandingkan kebijakan yang cenderung bersifat disposable consumption
11 Januari 2026, 19:00 WIB
Denza siap membawa model baru lintas segmen untuk melengkapi line up-nya di Indonesia, diyakini Z9 dan D9L
11 Januari 2026, 17:00 WIB
Setelah melantai di Singapore Motor Show, Honda Super One kemungkinan besar segera mengaspal di Indonesia
11 Januari 2026, 15:00 WIB
Pabrikan mobil Cina berpotensi tumbuh signifikan hingga 2030 dan mengganggu dominasi Toyota dan VW di pasar global
11 Januari 2026, 13:00 WIB
Toyota terus menunjukan dominasinya, terutama dalam hal merek mobil terlaris usai mencatatkan 258.268 unit
11 Januari 2026, 09:00 WIB
Mobil bekas di bawah Rp 100 juta di awal 2026 bisa menjadi pilihan menarik untuk dijadikan andalan bermobilitas
11 Januari 2026, 07:00 WIB
Raffi Ahmad terpantau memiliki kendaraan baru di garasinya termasuk BAIC BJ40 Plus dan Toyota Starlet
10 Januari 2026, 17:00 WIB
Diskon Hyundai Creta tembus Rp 45 juta berlaku khusus unit lansiran 2025, tipe Prime jadi Rp 300 jutaan