Gaikindo Minta Insentif Tidak Hanya untuk Mobil Listrik Saja
30 Juni 2026, 15:00 WIB
Guna mempercepat elektrifikasi, Kemenko Marves lirik kebijakan pemberhentian penjualan mobil mesin bensin
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Uni Eropa telah memberhentikan penjualan mobil bensin guna menggencarkan elektrifikasi. Per 2035 mobil konvensional yang masih dipakai harus bisa menggunakan bahan bakar e-fuel.
Di Indonesia belum ada kebijakan serupa karena beberapa hal. Saat ini masih dalam transisi menuju BEV (Battery Electric Vehicle) lewat penjualan mobil hybrid.
Namun di masa mendatang ada usulan bahwa pemerintah perlu menyelaraskan kebijakan soal penghentian penjualan mobil konvensional yang menggunakan bahan bakar fosil.
“Kalau kita lihat target di sini NZE (Net Zero Emission) di 2060. Sehingga kita perlu tarik garis titik target penjualan 100 persen harus kendaraan Zero Emission Vehicle,” ungkap Firdaus Manti, Asdep Bidang Industri Maritim dan Transportasi Kemenkomarves di ICE BSD, Selasa (23/7).
Tidak dilakukan secara langsung melainkan bertahap. Seperti yang tengah diterapkan sekarang melalui penjualan HEV (Hybrid Electric Vehicle).
Sebagai contoh PT TAM (Toyota Astra Motor) telah menghadirkan versi hybrid dari sejumlah lini kendaraannya seperti Innova Zenix hingga Corolla Cross.
Sehingga konsumen memiliki opsi kendaraan ramah lingkungan menggunakan model yang sudah familiar sebelumnya. Kemudian dijual dengan banderol kompetitif.
Menurut Firdaus langkah transisi bisa dilakukan melalui penggencaran produksi dan penjualan model hybrid lalu disusul PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle).
“Kemudian penjualan dengan target ekonomi lebih efisien seperti biofuel atau bioetanol. Pembatasan kendaraan di kota-kota besar, khususnya yang ditengarai bisa menyumbang emisi CO2,” lanjut Firdaus.
Ia menegaskan perlu ada tenggat waktu penjualan bahan bakar fosil guna mengakselerasi penggunaan energi terbarukan di sektor transportasi.
“Misalnya di 2040 grafik semuanya ditargetkan menjadi NZE pada 2050-2060. Itu bisa mengirit fiskal untuk importasi (bahan bakar) fosil dan subsidinya begitu juga solar,” tegas dia.
Firdaus memaparkan nominal impor untuk bahan bakar fosil bisa mencapati Rp 1,25 triliun. Selain itu ada subsidi diberikan oleh pemerintah terhitung 2019-2023, totalnya Rp 595 triliun atau rata-rata Rp 199 triliun per tahun.
Tidak melulu elektrifikasi, manufaktur bisa mempertimbangkan transisi penggunaan bahan bakar alternatif seperti biodiesel, bioetanol dan hidrogen.
“Kita depannya biofuel ini bisa jadi yang utama di hybrid. Dengan biofuel akan jadi lebih bersih dibandingkan hybrid pakai bahan bakar fosil,” ungkap Firdaus.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
30 Juni 2026, 15:00 WIB
23 Juni 2026, 07:00 WIB
16 Juni 2026, 08:02 WIB
25 Mei 2026, 09:00 WIB
24 Mei 2026, 15:13 WIB
Terkini
09 Juli 2026, 22:00 WIB
SUV praktis, efisien dan memiliki teknologi tinggi seperti Deepal S07 banyak dicari keluarga modern di RI
09 Juli 2026, 21:00 WIB
PT AHM baru-baru ini menghadirkan pilihan warna baru untuk Honda Rebel 1100, harga mulai Rp 400 jutaan
09 Juli 2026, 20:00 WIB
Mobil listrik VinFast VF 2 hadir meramaikan persaingan pasar EV mungil, harga mulai dari Rp 120 jutaan
09 Juli 2026, 19:20 WIB
Honda melengkapi lini elektrifikasinya dengan kehadiran WN7, motor listrik versi produksi dari EV Fun Concept
09 Juli 2026, 13:00 WIB
Ducati memastikan aktivitas tim balap MotoGP mereka tidak terganggu karena sudah mampu berdiri sendiri
09 Juli 2026, 11:00 WIB
Chery Sales Indonesia telah melakukan peyelidikan terkait peristiwa terbakarnya Tiggo Cross CSH di Bandung
09 Juli 2026, 09:00 WIB
Changan Indonesia tengah fokus untuk memperkenalkan sejumlah keunggulan Deepal S05 kepada masyarakat luas
09 Juli 2026, 07:00 WIB
Geely Galaxy TT hadir dengan tampilan identik sedan performa tinggi Xiaomi SU7, ini bocoran spesifikasinya