Suzuki Siapkan Teknologi REEV Light, Modal di Era Elektrifikasi
01 Oktober 2026, 19:00 WIB
Guna mempercepat elektrifikasi, Kemenko Marves lirik kebijakan pemberhentian penjualan mobil mesin bensin
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Uni Eropa telah memberhentikan penjualan mobil bensin guna menggencarkan elektrifikasi. Per 2035 mobil konvensional yang masih dipakai harus bisa menggunakan bahan bakar e-fuel.
Di Indonesia belum ada kebijakan serupa karena beberapa hal. Saat ini masih dalam transisi menuju BEV (Battery Electric Vehicle) lewat penjualan mobil hybrid.
Namun di masa mendatang ada usulan bahwa pemerintah perlu menyelaraskan kebijakan soal penghentian penjualan mobil konvensional yang menggunakan bahan bakar fosil.
“Kalau kita lihat target di sini NZE (Net Zero Emission) di 2060. Sehingga kita perlu tarik garis titik target penjualan 100 persen harus kendaraan Zero Emission Vehicle,” ungkap Firdaus Manti, Asdep Bidang Industri Maritim dan Transportasi Kemenkomarves di ICE BSD, Selasa (23/7).
Tidak dilakukan secara langsung melainkan bertahap. Seperti yang tengah diterapkan sekarang melalui penjualan HEV (Hybrid Electric Vehicle).
Sebagai contoh PT TAM (Toyota Astra Motor) telah menghadirkan versi hybrid dari sejumlah lini kendaraannya seperti Innova Zenix hingga Corolla Cross.
Sehingga konsumen memiliki opsi kendaraan ramah lingkungan menggunakan model yang sudah familiar sebelumnya. Kemudian dijual dengan banderol kompetitif.
Menurut Firdaus langkah transisi bisa dilakukan melalui penggencaran produksi dan penjualan model hybrid lalu disusul PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle).
“Kemudian penjualan dengan target ekonomi lebih efisien seperti biofuel atau bioetanol. Pembatasan kendaraan di kota-kota besar, khususnya yang ditengarai bisa menyumbang emisi CO2,” lanjut Firdaus.
Ia menegaskan perlu ada tenggat waktu penjualan bahan bakar fosil guna mengakselerasi penggunaan energi terbarukan di sektor transportasi.
“Misalnya di 2040 grafik semuanya ditargetkan menjadi NZE pada 2050-2060. Itu bisa mengirit fiskal untuk importasi (bahan bakar) fosil dan subsidinya begitu juga solar,” tegas dia.
Firdaus memaparkan nominal impor untuk bahan bakar fosil bisa mencapati Rp 1,25 triliun. Selain itu ada subsidi diberikan oleh pemerintah terhitung 2019-2023, totalnya Rp 595 triliun atau rata-rata Rp 199 triliun per tahun.
Tidak melulu elektrifikasi, manufaktur bisa mempertimbangkan transisi penggunaan bahan bakar alternatif seperti biodiesel, bioetanol dan hidrogen.
“Kita depannya biofuel ini bisa jadi yang utama di hybrid. Dengan biofuel akan jadi lebih bersih dibandingkan hybrid pakai bahan bakar fosil,” ungkap Firdaus.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
01 Oktober 2026, 19:00 WIB
21 September 2026, 11:16 WIB
31 Agustus 2026, 09:00 WIB
24 Agustus 2026, 09:00 WIB
19 Agustus 2026, 15:12 WIB
Terkini
07 Oktober 2026, 16:06 WIB
BNI TapCash bisa diandalkan untuk pembayaran tol sampai berbelanja makanan dan minuman saat road trip
07 Oktober 2026, 09:00 WIB
Pertamina Enduro VR46 Racing Team akan tampil beda dengan livery khusus yang menggambarkan kekuatan Indonesia
07 Oktober 2026, 07:00 WIB
MotoGP Mandalika 2026 bisa jadi kesempatan bagi Marquez untuk meraih poin dan memangkas jarak dengan Martin
07 Oktober 2026, 06:09 WIB
Evaluasi terhadap aturan Ganjil Genap Jakarta terus dilakukan untuk bisa mengurangi tingkat kemacetan
07 Oktober 2026, 06:08 WIB
Ada lima lokasi SIM keliling Jakarta tersedia hari ini, layani perpanjangan masa berlaku SIM yang aktif
07 Oktober 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Bandung salah satu fasilitas yang dihadirkan pihak kepolisian agar lebih memudahkan pengendara
06 Oktober 2026, 22:00 WIB
Enea Bastianini resmi menjalin kerja sama dengan merek kacamata Police yang bisa menunjang penampilannya
06 Oktober 2026, 20:00 WIB
Kei car listrik BYD Racco mengincar pasar mobil setir kanan seperti Makau dan Sri Lanka, selanjutnya bisa jadi RI