Opsi Mobil Hybrid Murah di IIMS 2026, Suzuki Ertiga Rp 200 Jutaan
11 Februari 2026, 17:00 WIB
Guna mempercepat elektrifikasi, Kemenko Marves lirik kebijakan pemberhentian penjualan mobil mesin bensin
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Uni Eropa telah memberhentikan penjualan mobil bensin guna menggencarkan elektrifikasi. Per 2035 mobil konvensional yang masih dipakai harus bisa menggunakan bahan bakar e-fuel.
Di Indonesia belum ada kebijakan serupa karena beberapa hal. Saat ini masih dalam transisi menuju BEV (Battery Electric Vehicle) lewat penjualan mobil hybrid.
Namun di masa mendatang ada usulan bahwa pemerintah perlu menyelaraskan kebijakan soal penghentian penjualan mobil konvensional yang menggunakan bahan bakar fosil.
“Kalau kita lihat target di sini NZE (Net Zero Emission) di 2060. Sehingga kita perlu tarik garis titik target penjualan 100 persen harus kendaraan Zero Emission Vehicle,” ungkap Firdaus Manti, Asdep Bidang Industri Maritim dan Transportasi Kemenkomarves di ICE BSD, Selasa (23/7).
Tidak dilakukan secara langsung melainkan bertahap. Seperti yang tengah diterapkan sekarang melalui penjualan HEV (Hybrid Electric Vehicle).
Sebagai contoh PT TAM (Toyota Astra Motor) telah menghadirkan versi hybrid dari sejumlah lini kendaraannya seperti Innova Zenix hingga Corolla Cross.
Sehingga konsumen memiliki opsi kendaraan ramah lingkungan menggunakan model yang sudah familiar sebelumnya. Kemudian dijual dengan banderol kompetitif.
Menurut Firdaus langkah transisi bisa dilakukan melalui penggencaran produksi dan penjualan model hybrid lalu disusul PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle).
“Kemudian penjualan dengan target ekonomi lebih efisien seperti biofuel atau bioetanol. Pembatasan kendaraan di kota-kota besar, khususnya yang ditengarai bisa menyumbang emisi CO2,” lanjut Firdaus.
Ia menegaskan perlu ada tenggat waktu penjualan bahan bakar fosil guna mengakselerasi penggunaan energi terbarukan di sektor transportasi.
“Misalnya di 2040 grafik semuanya ditargetkan menjadi NZE pada 2050-2060. Itu bisa mengirit fiskal untuk importasi (bahan bakar) fosil dan subsidinya begitu juga solar,” tegas dia.
Firdaus memaparkan nominal impor untuk bahan bakar fosil bisa mencapati Rp 1,25 triliun. Selain itu ada subsidi diberikan oleh pemerintah terhitung 2019-2023, totalnya Rp 595 triliun atau rata-rata Rp 199 triliun per tahun.
Tidak melulu elektrifikasi, manufaktur bisa mempertimbangkan transisi penggunaan bahan bakar alternatif seperti biodiesel, bioetanol dan hidrogen.
“Kita depannya biofuel ini bisa jadi yang utama di hybrid. Dengan biofuel akan jadi lebih bersih dibandingkan hybrid pakai bahan bakar fosil,” ungkap Firdaus.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
11 Februari 2026, 17:00 WIB
06 Februari 2026, 15:00 WIB
05 Februari 2026, 17:29 WIB
02 Februari 2026, 16:00 WIB
28 Januari 2026, 11:00 WIB
Terkini
16 Februari 2026, 18:01 WIB
Mitsubishi naik ke urutan tiga besar merek mobil terlaris di Indonesia per Januari 2026, berikut daftarnya
16 Februari 2026, 13:52 WIB
Menurut data milik Gaikindo, sepanjang Januari 2026 wholesales mobil LCGC hanya berkisar 10.694 unit saja
16 Februari 2026, 11:00 WIB
DFSK Indonesia siapkan model baru di pertengahan 2026 untuk menjangkau pasar yang lebih luas dibanding sekarang
16 Februari 2026, 11:00 WIB
Per Januari 2026 wholesales dan retail sales Neta nol unit, tidak ada rencana peluncuran produk baru
16 Februari 2026, 09:00 WIB
Penjualan LCGC Daihatsu di Indonesia tergerus karena sejumlah faktor yang termasuk yang mempengaruhi
16 Februari 2026, 07:00 WIB
Jetour T2 PHEV dipastikan akan meluncur dan dipasarkan ke konsumen di Indonesia pada semester kedua tahun ini
16 Februari 2026, 06:09 WIB
Perpanjangan masa berlaku SIM dapat dilakukan di layanan SIM keliling Jakarta hari ini, simak informasinya
16 Februari 2026, 06:08 WIB
Kepolisian tetap menghadirkan layanan SIM keliling Bandung agar masyarakat dapat mengurus dokumen berkendara