Honda Super One Goda Petrolhead untuk Beralih ke Mobil Listrik
16 Juli 2026, 07:00 WIB
Produksi nikel asal Indonesia untuk kendaraan listrik khususnya sudah mencapai 70 persen kebutuhan pasar global
Oleh Denny Basudewa
KatadataOTO – Indonesia memiliki cadangan nikel terbesar di dunia. Menurut data USGS (United States Geological Survey) pada 2025, total cadangan di dalam negeri mencapai 55 juta ton.
Adapun cadangan tersebut dikatakan mencapai 2040. Lalu persediaan nikel Tanah Air diyakini mencakup 70 persen kebutuhan dunia akan baterai.
Namun sejumlah fakta di atas masih merupakan bahan mentah alias raw material. Untuk menjadikan hilirisasi dibutuhkan investasi smelter untuk pengolahan.
Terkhusus baterai, Indonesia sudah kedatangan pabrikan besar asal Korea Selatan dengan komitmen membangun smelter.
“Yang terbesar adalah Hyundai-LG (HLI) setidaknya 10 Giga Watt, lalu sisanya Gotion itu kira-kira 106 mega,” ungkap Agus Purwadi, Peneliti Senior Pusat Sistem Transportasi Berkelanjutan ITB di Jakarta (14/04).
Menurut dia secara economic of scale, angka di atas masih belum apa-apa. Kalau diperhatikan 10 persen Giga Watt yang dihasilkan, baru bisa memenuhi kebutuhan 0,4 kebutuhan global.
Lebih jauh dikatakan Indonesia hingga saat ini masih bermain di industri sangat hilir.
“Jadi kita memproduksi NPI (Nickel Pig Iron), Nickel Mate dan yang paling tinggi adalah Nickel Sulphate sebagai bahan dasar menjadi sel,” tutur Agus kemudian.
Adapaun dalam rantai pasok global, Cina masih mendominasi importir bahan baku Nickel Ore dari Indonesia.
Namun di sisi lain, Cina merupakan produsen terbesar yang memasukkan battery pack ke pasar global. Tidak terkecuali untuk pasar kendaraan listrik di Indonesia.
Bicara kendaraan listrik, dikatakan elektrifikasi buatan tiongkok di dalam negeri sudah mendominasi . Kondisi serupa juga dialami oleh negara-negara tetangga.
“Kalau kita lihat jadi 60 persen ke atas itu produk elektrifikasi kita mostly (kebanyakan) dari Cina. Ternyata Thailand juga sama dominan dari Cina dan mereka sudah menghadapi masalah di industri otomotifnya,” jelas Agus.
Sedangkan ia menyoroti dua negara di Asia Pasifik yang bisa dikatakan berhasil mereduksi. Sehingga mampu bertahan bahkan sampai mendominasi.
Disampaikan keberhasilan di era elektrifikasi ditunjukkan oleh India dan Vietnam. Vietnam memiliki industri kendaraan lokal yang berkembang pesat.
Adapun India meskipun tidak memiliki industri lokal, namun pemeritahan mereka meluncurkan skema insentif produksi sel kimia pada 2021.
Sehingga produksi baterai domestik mampu mengurangi ketergantungan dari impor khususnya Cina.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
16 Juli 2026, 07:00 WIB
15 Juli 2026, 07:00 WIB
14 Juli 2026, 22:00 WIB
13 Juli 2026, 09:00 WIB
13 Juli 2026, 07:00 WIB
Terkini
17 Juli 2026, 09:00 WIB
Selama PRJ 2026 Wahana mencatatkan penjualan positif, sebab ada 6.500 motor Honda yang terpesan di sana
17 Juli 2026, 06:00 WIB
Ganjil Genap Jakarta merupakan salah satu sistem andalan pemerintah Ibu Kota dalam mengurangi kemacetan
17 Juli 2026, 06:00 WIB
Sebelum akhir pekan, SIM keliling Bandung menjadi opsi terbaik untuk mengurus masa berlaku dokumen berkendara
17 Juli 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Jakarta masih tersedia di lima tempat berbeda hari ini sebelum akhir pekan, simak informasinya
16 Juli 2026, 22:00 WIB
MG ZS Hybrid+ hadir kembali di Indonesia dengan mengusung berbagai teknologi baru terutama keselamatan
16 Juli 2026, 21:00 WIB
KLHN 2026 menjadi wadah para tenaga kerja Honda untuk pengembangan diri dalam melayani para pelanggan
16 Juli 2026, 19:27 WIB
BMW masih memimpin penjualan merek mobil mewah di Indonesia pada Juni 2026, namun angkanya alami penurunan
16 Juli 2026, 12:41 WIB
Mitsubishi Xforce Hybrid resmi dipasarkan untuk konsumen hari ini dengan banderol Rp 400 jutaan di Jakarta