10 Mobil Listrik Terlaris Juli 2026, Wuling Aira ev Moncer
15 Agustus 2026, 20:53 WIB
Meski dihadang impor, mobil listrik China ternyata justru populer di kalangan usia milenial dan Gen Z Amerika
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Pemerintah Amerika Serikat berlakukan tarif impor 100 persen untuk mobil listrik China. Beberapa biaya tambahan lain juga dibebankan buat produsen asal Tiongkok karena dianggap mengganggu investasi dan bisnis di AS.
Dalam sebuah pernyataan di laman resmi White House pada 14 Mei 2024, tarif impor mobil listrik mulanya adalah 25 persen. Naik jadi 100 persen karena tingginya ekspor BEV (Battery Electric Vehicle) China ke AS.
Kebijakan tersebut diharapkan bisa melindungi manufaktur Amerika Serikat dari praktik bisnis produsen China yang dianggap tidak adil.
Meski begitu nampaknya konsumen di AS justru menunjukkan ketertarikan terhadap mobil listrk China. Padahal peluang merek Tiongkok masuk negara tersebut semakin kecil sejak penerapan tarif 100 persen.
AutoPacific lakukan studi melibatkan 800 responden usia 18-80 tahun pada 22 Mei 2024. Ketika dirinci, 76 persen responden berumur di bawah 40 tahun mengaku bakal mempertimbangkan untuk beli kendaraan produksi China.
Ed Kim, Presiden dan Chief Analyst AutoPacific mengungkapkan bahwa milenial dan Gen Z merupakan kelompok usia yang paling mungkin tertarik dan membeli mobil dari China.
“Ada jumlah mengejutkan dari konsumen Amerika Serikat yang familiar dengan merek mobil China, padahal tidak dijual di sini,” ucap Ed Kim dalam keterangannya, dikutip Selasa (28/5).
Hanya saja memang masih ada kekhawatiran terkait keamanan dan privasi dari 73 persen responden berusia di bawah 40 tahun. Ini merupakan salah satu alasan pemerintah AS menaikkan tarif impor mobil listrik China.
Namun yang jadi perhatian yakni secara keseluruhan, konsumen Amerika Serikat cukup mengenal beragam merek asal Tiongkok imbas masifnya informasi di media sosial.
Fakta lain ditemukan adalah 60 persen dari total responden bersedia membeli mobil listrik China apabila dirakit lokal di AS. Karena dianggap dapat mendukung perekonomian dan pekerja lokal.
Pada akhirnya aturan baru pemerintah AS menuai kritik dari beragam berbagai pihak. Elon Musk, CEO Tesla menganggap keputusan tersebut justru dapat mengacaukan persaingan pasar dan berdampak buruk.
“Tesla berkompetisi dengan baik di pasar China tanpa tarif dan dukungan tambahan. Saya mendukung jika tidak ada tarif,” kata Musk.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
15 Agustus 2026, 20:53 WIB
12 Agustus 2026, 19:55 WIB
12 Agustus 2026, 09:00 WIB
11 Agustus 2026, 20:06 WIB
08 Agustus 2026, 07:12 WIB
Terkini
17 Agustus 2026, 07:42 WIB
Motul kembali terlibat dalam acara yang melibatkan banyak anggota komunitas kendaraan roda dua di Tanah Air
16 Agustus 2026, 18:00 WIB
Farizon V8E dinilai cocok untuk memenuhi kebutuhan dapur SPPG guna menyalurkan MBG ke sekolah-sekolah
16 Agustus 2026, 17:12 WIB
Smart menghadirkan reinkarnasi dari ForTwo, kini bertenaga listrik dan memiliki tampilan yang lebih modern
16 Agustus 2026, 09:00 WIB
Prabowo mendorong para produsen mengembangkan dan memproduksi motor listrik secara mandiri di Indonesia
15 Agustus 2026, 20:53 WIB
Mobil listrik masih menunjukkan tren positif, model anyar seperti Wuling Aira ev catatkan wholesales tinggi
15 Agustus 2026, 18:57 WIB
Suzuki XL7 Facelift yang baru diluncurkan beberapa pekan lalu, sudah mendapat ribuan pemesanan dari konsumen
15 Agustus 2026, 07:21 WIB
Presiden Prabowo berambisi agar Indonesia memiliki mobil listrik nasional serta memajukan industri otomotif
14 Agustus 2026, 20:50 WIB
Fabio Quartararo mengatakan bahwa ia berniat meninggalkan Yamaha saat melakoni pengujian di Sirkuit Valencia