Gaikindo Minta Insentif Tidak Hanya untuk Mobil Listrik Saja
30 Juni 2026, 15:00 WIB
Meski dihadang impor, mobil listrik China ternyata justru populer di kalangan usia milenial dan Gen Z Amerika
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Pemerintah Amerika Serikat berlakukan tarif impor 100 persen untuk mobil listrik China. Beberapa biaya tambahan lain juga dibebankan buat produsen asal Tiongkok karena dianggap mengganggu investasi dan bisnis di AS.
Dalam sebuah pernyataan di laman resmi White House pada 14 Mei 2024, tarif impor mobil listrik mulanya adalah 25 persen. Naik jadi 100 persen karena tingginya ekspor BEV (Battery Electric Vehicle) China ke AS.
Kebijakan tersebut diharapkan bisa melindungi manufaktur Amerika Serikat dari praktik bisnis produsen China yang dianggap tidak adil.
Meski begitu nampaknya konsumen di AS justru menunjukkan ketertarikan terhadap mobil listrk China. Padahal peluang merek Tiongkok masuk negara tersebut semakin kecil sejak penerapan tarif 100 persen.
AutoPacific lakukan studi melibatkan 800 responden usia 18-80 tahun pada 22 Mei 2024. Ketika dirinci, 76 persen responden berumur di bawah 40 tahun mengaku bakal mempertimbangkan untuk beli kendaraan produksi China.
Ed Kim, Presiden dan Chief Analyst AutoPacific mengungkapkan bahwa milenial dan Gen Z merupakan kelompok usia yang paling mungkin tertarik dan membeli mobil dari China.
“Ada jumlah mengejutkan dari konsumen Amerika Serikat yang familiar dengan merek mobil China, padahal tidak dijual di sini,” ucap Ed Kim dalam keterangannya, dikutip Selasa (28/5).
Hanya saja memang masih ada kekhawatiran terkait keamanan dan privasi dari 73 persen responden berusia di bawah 40 tahun. Ini merupakan salah satu alasan pemerintah AS menaikkan tarif impor mobil listrik China.
Namun yang jadi perhatian yakni secara keseluruhan, konsumen Amerika Serikat cukup mengenal beragam merek asal Tiongkok imbas masifnya informasi di media sosial.
Fakta lain ditemukan adalah 60 persen dari total responden bersedia membeli mobil listrik China apabila dirakit lokal di AS. Karena dianggap dapat mendukung perekonomian dan pekerja lokal.
Pada akhirnya aturan baru pemerintah AS menuai kritik dari beragam berbagai pihak. Elon Musk, CEO Tesla menganggap keputusan tersebut justru dapat mengacaukan persaingan pasar dan berdampak buruk.
“Tesla berkompetisi dengan baik di pasar China tanpa tarif dan dukungan tambahan. Saya mendukung jika tidak ada tarif,” kata Musk.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
30 Juni 2026, 15:00 WIB
29 Juni 2026, 07:00 WIB
28 Juni 2026, 07:15 WIB
25 Juni 2026, 20:58 WIB
25 Juni 2026, 20:56 WIB
Terkini
02 Juli 2026, 20:00 WIB
Changan Deepal S05 REEV dan EV masih akan berstatus impor utuh dari Thailand, baru akan CKD apabila laris
02 Juli 2026, 19:03 WIB
Buat kaum urban, Hyundai New Creta diklaim cocok untuk menjawab kebutuhan mobilitas sehari-hari di perkotaan
02 Juli 2026, 16:19 WIB
All New TVS Callisto 110 menawarkan berbagai ubahan demi memanjakan para konsumen dan dijual Rp 19 jutaan
02 Juli 2026, 13:55 WIB
Mazda akan merilis 6e sedan ev terbaru yang dikembangkan bareng Changan Automobile dengan jarak tempuh 560 km
02 Juli 2026, 09:00 WIB
Mini Overland yang dilakukan Kagama 4X4 Adventure kali ini diikuti sekitar 70 mobil peserta di hari jadi kelima
02 Juli 2026, 07:01 WIB
Astra Daihatsu Motor mengusung empat pilar dalam menjalan komitmen mereka dala program CSR perusahaan
02 Juli 2026, 06:20 WIB
Aturan ganjil genap Jakarta hari ini 2 Juli 2026 kembali diberlakukan untuk bisa sedikit memecah kebuntuan
02 Juli 2026, 06:02 WIB
SIM keliling Bandung bisa jadi opsi bagi masyarakat yang ingin mengurus dokumen berkendara dengan mudah