VinFast Komitmen Produksi Lokal Model-Model EV Tersubsidi
30 Desember 2025, 16:00 WIB
Meski dihadang impor, mobil listrik China ternyata justru populer di kalangan usia milenial dan Gen Z Amerika
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Pemerintah Amerika Serikat berlakukan tarif impor 100 persen untuk mobil listrik China. Beberapa biaya tambahan lain juga dibebankan buat produsen asal Tiongkok karena dianggap mengganggu investasi dan bisnis di AS.
Dalam sebuah pernyataan di laman resmi White House pada 14 Mei 2024, tarif impor mobil listrik mulanya adalah 25 persen. Naik jadi 100 persen karena tingginya ekspor BEV (Battery Electric Vehicle) China ke AS.
Kebijakan tersebut diharapkan bisa melindungi manufaktur Amerika Serikat dari praktik bisnis produsen China yang dianggap tidak adil.
Meski begitu nampaknya konsumen di AS justru menunjukkan ketertarikan terhadap mobil listrk China. Padahal peluang merek Tiongkok masuk negara tersebut semakin kecil sejak penerapan tarif 100 persen.
AutoPacific lakukan studi melibatkan 800 responden usia 18-80 tahun pada 22 Mei 2024. Ketika dirinci, 76 persen responden berumur di bawah 40 tahun mengaku bakal mempertimbangkan untuk beli kendaraan produksi China.
Ed Kim, Presiden dan Chief Analyst AutoPacific mengungkapkan bahwa milenial dan Gen Z merupakan kelompok usia yang paling mungkin tertarik dan membeli mobil dari China.
“Ada jumlah mengejutkan dari konsumen Amerika Serikat yang familiar dengan merek mobil China, padahal tidak dijual di sini,” ucap Ed Kim dalam keterangannya, dikutip Selasa (28/5).
Hanya saja memang masih ada kekhawatiran terkait keamanan dan privasi dari 73 persen responden berusia di bawah 40 tahun. Ini merupakan salah satu alasan pemerintah AS menaikkan tarif impor mobil listrik China.
Namun yang jadi perhatian yakni secara keseluruhan, konsumen Amerika Serikat cukup mengenal beragam merek asal Tiongkok imbas masifnya informasi di media sosial.
Fakta lain ditemukan adalah 60 persen dari total responden bersedia membeli mobil listrik China apabila dirakit lokal di AS. Karena dianggap dapat mendukung perekonomian dan pekerja lokal.
Pada akhirnya aturan baru pemerintah AS menuai kritik dari beragam berbagai pihak. Elon Musk, CEO Tesla menganggap keputusan tersebut justru dapat mengacaukan persaingan pasar dan berdampak buruk.
“Tesla berkompetisi dengan baik di pasar China tanpa tarif dan dukungan tambahan. Saya mendukung jika tidak ada tarif,” kata Musk.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
30 Desember 2025, 16:00 WIB
30 Desember 2025, 13:00 WIB
29 Desember 2025, 19:00 WIB
29 Desember 2025, 15:00 WIB
29 Desember 2025, 14:13 WIB
Terkini
30 Desember 2025, 16:00 WIB
VinFast Indonesia mengatakan bahwa mereka siap memenuhi kewajibannya atas insentif CBU yang telah didapatkan
30 Desember 2025, 15:00 WIB
Ucok harus mengeluarkan dana hampir Rp 1 miliaran untuk memodifikasi Yamaha Xmax berkelir dominan biru
30 Desember 2025, 14:00 WIB
Menurut data Kemenhub, motor listrik yang telah mengantongi SRUT di 2025 baru 55.059 unit atau turun 28,6 persen
30 Desember 2025, 13:00 WIB
Industri baterai lithium terpengaruh dari kinerja penjualan mobil listrik di Cina yang diproyeksi akan turun
30 Desember 2025, 12:00 WIB
Sejumlah model mobil yang disuntik mati oleh pabrikan kemudian diganti produk lain, berikut daftarnya
30 Desember 2025, 11:00 WIB
Insentif otomotif sebaiknya menyasar pada pertumbuhan industri komponen di dalam negeri agar seimbang
30 Desember 2025, 10:00 WIB
Yamaha tengah mencari formulasi yang tepat buat memasarkan motor listrik Neos kepada konsumen di Indoensia
30 Desember 2025, 09:00 WIB
Enduro Service tawarkan beragam layanan seperti penggantian oli mobil dan motor sampai ganti air filter