Kecelakaan Arus Mudik dan Balik Lebaran 2026 Diklaim Turun
29 Maret 2026, 11:44 WIB
Persaingan tidak sehat akibat perang harga membuat faktor keamanan sebuah bus sering dijadikan nomor dua
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Kecelakaan bus sudah sangat sering terjadi di Indonesia. Terkini menimpa rombongan dari RS Bina Sehat Jember pada Minggu (14/09).
Bus yang mereka tumpangi diduga mengalami rem blong ketika melaju dari arah Bromo menuju ke Jember.
Setibanya di Jalan Raya Sukapura, Desa Boto, Kecamatan Lumbang, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur bus melaju tak terkendali.
Sehingga bus RS Bina Sehat Jember itu menabrak pembatasan jalan serta motor yang melintas. Membuat delapan orang meninggal dunia dan puluhan luka-luka.
Insiden serupa sejatinya sudah kerap terulang. Berbagai faktor pun digadang-gadang menjadi biang kerok peristiwa maut itu.
Seperti persaingan tidak sehat antar perusahaan bus pariwisata turut mendorong kecelakaan terus terjadi.
“Adanya kompetisi harga yang tidak sehat, karena di Indonesia harga jasa transportasi diserahkan ke pasar,” ungkap Jusri Pulubuhu, Founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) kepada KatadataOTO, Senin (15/09).
Menurut Jusri mekanisme harga sewa bus pariwisata tidak tersentuh oleh pemerintah. Sehingga para perusahaan bebas menentukan banderol.
Dengan begitu masyarakat bakal memilih bus yang menawarkan biaya sewa paling murah. Memaksa para perusahaan menekan biaya operasional mereka.
Misal biaya perjalanan satu bus pariwisata seharusnya Rp 10 juta, namun ada perusahaan lain yang menawarkan hanya Rp 5 juta.
Otomatis masyarakat bakal memilih bus dengan banderol sangat murah, karena dinilai lebih ekonomis.
“Apa yang terjadi? Parameter atau kelengkapan yang harusnya jadi satu bagian di dalam jasa ini, terkhusus aspek safety harus dihilangkan. Akhirnya masyarakat mendapatkan sebuah bus berkualitas jelek,” tutur Jusri.
Menurut Jusri hal tersebut sudah sering ditemukan. Tentu ini sangat merugikan masyarakat secara langsung.
Oleh sebab itu Jusri meminta pemerintah mau turun langsung, mengatur harga sewa bus pariwisata. Dengan begitu tidak timbul lagi persaingan-persaingan kurang sehat.
“Harusnya ditentukan (pemerintah), sehingga masyarakat tidak bisa memilih yang termurah. Kasih harga flat untuk transportasi yang menyangkut nyawa,” tegas Jusri.
Lebih jauh Jusri mengatakan, dengan pemerintah turun tangan bisa memperkecil ruang gerak perusahaan buat membanting harga.
Tidak ada lagi bus-bus yang kurang terawat atau tak mengutamakan faktor keamanan dari kendaraan tersebut.
Jadi banyak armada-armada berkualitas yang sudah menjalani perawatan berkala. Risiko kecelakaan di jalan pun dapat diminimalisir.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
29 Maret 2026, 11:44 WIB
11 Maret 2026, 09:00 WIB
03 Februari 2026, 13:00 WIB
03 Februari 2026, 07:00 WIB
06 Januari 2026, 15:24 WIB
Terkini
17 Juni 2026, 18:37 WIB
Pada Juni 2026 beberapa pabrikan melakukan penyesuaian harga motor matic murah, seperti dialami oleh Yamaha
17 Juni 2026, 11:00 WIB
Jaecoo menjadi merek mobil Cina dengan penjualan retail terlaris sepanjang Mei 2026, berada di atas BYD
17 Juni 2026, 09:00 WIB
E5 Plus jadi SUV PHEV perdana DFSK di pasar Indonesia, klaim daya jelajah komprehensifnya 1.300 kilometer
17 Juni 2026, 07:00 WIB
GWM Ora 7 merupakan mobil listrik hasil kolaborasi dengan BMW, ubah arah desain seri Ora di masa mendatang
17 Juni 2026, 06:00 WIB
Ganjil genap Jakarta hari ini akan mengincar mobil dengan pelat nomor berakhiran genap terutama di jam sibuk
17 Juni 2026, 06:00 WIB
Setelah libur Tahun Baru Islam 1448 Hijriyah, SIM keliling Jakarta kembali melayani masyarakat hari ini
16 Juni 2026, 19:00 WIB
Kiandra Ramadhipa mengaku sering berdiskusi, demi bisa mendapatkan ilmu balapan dari Veda Ega dan Mario Aji
16 Juni 2026, 18:11 WIB
Rencana penyesuaian tarif Transjakarta, pemerintah hanya menyasar rute jauh seperti Blok M - Bandara Soetta