10 Mobil Listrik Terlaris Juli 2026, Wuling Aira ev Moncer
15 Agustus 2026, 20:53 WIB
Pemerintah Korea Selatan siap dukung industri terdampak seperti pabrik otomotif dalam menghadapi tarif impor AS
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Tarif impor yang diberlakukan oleh pemerintah Amerika Serikat berlaku buat banyak negara seperti Korea Selatan.
Hal tersebut menjadi berita buruk khususnya buat negara-negara yang melakukan ekspor khususnya di sektor otomotif, ke AS.
Pasar ekspor akan mengalami gangguan, penjualan berpotensi terdampak dan lapangan kerja diprediksi semakin sempit imbas adanya tarif impor AS.
Menghadapi tantangan itu, pihak pemerintahan Korea Selatan telah menyiapkan beberapa langkah darurat untuk menjaga kinerja industri otomotif.
“Anggaran tambahan sebesar 10 triliun KRW (Korean Won) ditujukan untuk merespons perubahan lingkungan perdagangan, serta mendukung penguatan daya saing industri,” bunyi keterangan resmi Kementerian Ekonomi dan Keuangan Korea Selatan dalam sebuah keterangan resmi, dikutip Kamis (10/04).
Angka ini setara Rp 115,1 triliun apabila dikonversi dalam kurs rupiah. Khusus perusahaan-perusahaan terdampak, ada bantuan ekspor dengan dana lebih dari 100 miliar KRW (Rp 1,15 triliun).
Spesifik di sektor otomotif, pemerintah Korea Selatan juga turut memberikan subsidi EV (Electric Vehicle) atau kendaraan listrik.
“Subsidi yang sesuai untuk EV terkait diskon pabrikan bakal dinaikkan sampai maksimum 80 persen, sembari meningkatkan dukungan investasi lewat pengembangan teknologi otonom dan mobil masa depan lain,” tulis keterangan tersebut.
Pemasok suku cadang turut diberikan keringanan dalam menghadapi penerapan tarif impor AS berupa dana tambahan 2 triliun KRW (Rp 23 triliun).
Guna mempertahankan pasar ekspor, pemerintah juga akan mendukung perluasan ke negara-negara lain seperti Afrika, Amerika Latin dan Asia yang saat ini permintaannya tengah berkembang.
Di Indonesia, pemerintah akan melakukan negosiasi dengan pemerintah AS terkait tarif impor.
Meskipun Indonesia disebut belum mengekspor kendaraan ke AS, dampak lain yang berpotensi terjadi adalah membanjirnya produk asing di dalam negeri.
Sebab negara-negara yang biasanya mengekspor ke AS mengalami hambatan dan memilih alternatif lain.
“Pemerintah bisa menerapkan tarif selektif, misalnya dengan menaikkan tarif untuk kendaraan (impor) utuh dari China,” ucap Yannes Martinus Pasaribu, pengamat otomotif dan akademisi ITB (Institut Teknologi Bandung) kepada KatadataOTO belum lama ini.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
15 Agustus 2026, 20:53 WIB
12 Agustus 2026, 19:55 WIB
12 Agustus 2026, 09:00 WIB
11 Agustus 2026, 20:06 WIB
08 Agustus 2026, 07:12 WIB
Terkini
16 Agustus 2026, 18:00 WIB
Farizon V8E dinilai cocok untuk memenuhi kebutuhan dapur SPPG guna menyalurkan MBG ke sekolah-sekolah
16 Agustus 2026, 17:12 WIB
Smart menghadirkan reinkarnasi dari ForTwo, kini bertenaga listrik dan memiliki tampilan yang lebih modern
16 Agustus 2026, 09:00 WIB
Prabowo mendorong para produsen mengembangkan dan memproduksi motor listrik secara mandiri di Indonesia
15 Agustus 2026, 20:53 WIB
Mobil listrik masih menunjukkan tren positif, model anyar seperti Wuling Aira ev catatkan wholesales tinggi
15 Agustus 2026, 18:57 WIB
Suzuki XL7 Facelift yang baru diluncurkan beberapa pekan lalu, sudah mendapat ribuan pemesanan dari konsumen
15 Agustus 2026, 07:21 WIB
Presiden Prabowo berambisi agar Indonesia memiliki mobil listrik nasional serta memajukan industri otomotif
14 Agustus 2026, 20:50 WIB
Fabio Quartararo mengatakan bahwa ia berniat meninggalkan Yamaha saat melakoni pengujian di Sirkuit Valencia
14 Agustus 2026, 20:48 WIB
Farizon V8E resmi diproduksi di pabrik Handal Indonesia Motor (HIM), kemudian disusul dengan model F3E