Impresi Pertama Changan Nevo Q05: Praktis buat Mobilitas Urban
26 Agustus 2026, 19:38 WIB
Pemerintah Korea Selatan siap dukung industri terdampak seperti pabrik otomotif dalam menghadapi tarif impor AS
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Tarif impor yang diberlakukan oleh pemerintah Amerika Serikat berlaku buat banyak negara seperti Korea Selatan.
Hal tersebut menjadi berita buruk khususnya buat negara-negara yang melakukan ekspor khususnya di sektor otomotif, ke AS.
Pasar ekspor akan mengalami gangguan, penjualan berpotensi terdampak dan lapangan kerja diprediksi semakin sempit imbas adanya tarif impor AS.
Menghadapi tantangan itu, pihak pemerintahan Korea Selatan telah menyiapkan beberapa langkah darurat untuk menjaga kinerja industri otomotif.
“Anggaran tambahan sebesar 10 triliun KRW (Korean Won) ditujukan untuk merespons perubahan lingkungan perdagangan, serta mendukung penguatan daya saing industri,” bunyi keterangan resmi Kementerian Ekonomi dan Keuangan Korea Selatan dalam sebuah keterangan resmi, dikutip Kamis (10/04).
Angka ini setara Rp 115,1 triliun apabila dikonversi dalam kurs rupiah. Khusus perusahaan-perusahaan terdampak, ada bantuan ekspor dengan dana lebih dari 100 miliar KRW (Rp 1,15 triliun).
Spesifik di sektor otomotif, pemerintah Korea Selatan juga turut memberikan subsidi EV (Electric Vehicle) atau kendaraan listrik.
“Subsidi yang sesuai untuk EV terkait diskon pabrikan bakal dinaikkan sampai maksimum 80 persen, sembari meningkatkan dukungan investasi lewat pengembangan teknologi otonom dan mobil masa depan lain,” tulis keterangan tersebut.
Pemasok suku cadang turut diberikan keringanan dalam menghadapi penerapan tarif impor AS berupa dana tambahan 2 triliun KRW (Rp 23 triliun).
Guna mempertahankan pasar ekspor, pemerintah juga akan mendukung perluasan ke negara-negara lain seperti Afrika, Amerika Latin dan Asia yang saat ini permintaannya tengah berkembang.
Di Indonesia, pemerintah akan melakukan negosiasi dengan pemerintah AS terkait tarif impor.
Meskipun Indonesia disebut belum mengekspor kendaraan ke AS, dampak lain yang berpotensi terjadi adalah membanjirnya produk asing di dalam negeri.
Sebab negara-negara yang biasanya mengekspor ke AS mengalami hambatan dan memilih alternatif lain.
“Pemerintah bisa menerapkan tarif selektif, misalnya dengan menaikkan tarif untuk kendaraan (impor) utuh dari China,” ucap Yannes Martinus Pasaribu, pengamat otomotif dan akademisi ITB (Institut Teknologi Bandung) kepada KatadataOTO belum lama ini.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
26 Agustus 2026, 19:38 WIB
20 Agustus 2026, 21:00 WIB
19 Agustus 2026, 09:00 WIB
15 Agustus 2026, 20:53 WIB
12 Agustus 2026, 19:55 WIB
Terkini
28 Agustus 2026, 22:10 WIB
BYD Mako PHEV menjadi produk terbaru yang mengisi segmen pikap double cabin, debut di Brasil lebih dulu
28 Agustus 2026, 21:10 WIB
Jorge Martin ingin melanjutkan tren positifnya pada MotoGP Aragon 2026 dengan mengalahkan Marc Marquez
28 Agustus 2026, 17:00 WIB
Jetour T2 Facelift hadir di Chengdu Auto Show dengan ubahan drastis di bagian depan, tampil mirip Defender
28 Agustus 2026, 15:00 WIB
Geely menemukan ada permasalahan pada LiDAR beberapa model mobil Lynk & Co yang diproduksi mulai awal 2025
28 Agustus 2026, 13:00 WIB
Ai Ogura harus masuk ke ruang operasi karena mengalami patah tulang pada tangan kiri usai kecelakaan di Jepang
28 Agustus 2026, 06:00 WIB
Demi memudahkan masyarakat mengurus dokumen berkendara, kepolisian menghadirkan SIM keliling Bandung hari ini
28 Agustus 2026, 06:00 WIB
Mendekati akhir pekan, SIM keliling Jakarta masih dapat dimanfaatkan di lima lokasi berbeda hari ini
28 Agustus 2026, 06:00 WIB
Aturan ganjil genap Jakarta masih menjadi andalan pihak aparat untuk membendung jumlah kendaraan di jam sibuk