Chery Q Mulai Dikirim ke Konsumen, Antrean Bisa Dilacak Daring
26 Oktober 2026, 17:17 WIB
Menuju selesainya insentif impor EV Tahun ini, GIAMM mengklaim BYD belum libatkan industri komponen lokal
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) menunggu pabrikan otomotif penerima insentif impor mobil listrik atau Electric Vehicle (EV) mulai serap komponen buatan lokal.
Perlu diketahui, pemberian insentif mobil listrik impor dinilai jadi salah satu pemicu terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor otomotif.
Meskipun penjualan kendaraan khususnya mobil listrik bisa mencatatkan hasil positif, unitnya tidak melibatkan komponen produksi dalam negeri.
Saat ini, BYD menjadi salah satu merek mobil listrik penerima insentif impor EV yang mencatatkan penjualan positif.
Pembangunan fasilitas perakitan BYD di Subang yang ditargetkan rampung tahun depan sebenarnya jadi angin segar bagi industri sebab menciptakan lapangan pekerjaan baru.
Tetapi patut jadi perhatian sebab hingga saat ini, BYD disebut belum memiliki kesepakatan dengan penyedia komponen di dalam negeri. Padahal tinggal menghitung bulan menuju selesainya pabrik tersebut.
Perwakilan GIAMM menyebutkan bahwa satu setengah tahun lalu, Kementerian Perindustrian telah mewadahi kegiatan business matching buat BYD bersama lebih dari 100 perusahaan supplier.
“Dan benar sampai saat ini belum ada satupun yang deal. Kendalanya sendiri belum jelas, beberapa teman anggota menginformasikan lebih ke masalah harga,” kata Rachmat Basuki, Sekretaris Jenderal GIAMM kepada KatadataOTO beberapa waktu lalu.
Pihaknya masih menunggu kejelasan dari BYD. Mengingat di antara banyak merek penerima insentif lain, BYD mencatatkan penjualan paling tinggi.
Mengacu pada data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), wholesales (penyaluran dari pabrik ke diler) mobil listrik BYD di Juli 2025 adalah 2.335 unit.
Ini masih jauh di atas merek penerima insentif mobil listrik impor lainnya seperti Aion di 421 unit dan Geely 249 unit.
Sementara jika dilihat secara kumulatif periode Januari-Juli 2025, wholesales BYD 16.427 unit. Belum termasuk sub merek Denza di angka 6.256 unit.
“Untuk yang lain (penerima insentif selain BYD) biasanya langsung business-to-business (B2B),” ucap Rachmat.
Dirinya berharap skenario seperti Completely Knocked Down (CKD) sederhana tanpa komponen lokal tidak terjadi.
Tanpa lokalisasi, industri komponen di sektor otomotif menurut Rachmat tidak akan mendapatkan keuntungan dari perakitan lokal BYD di Indonesia.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
26 Oktober 2026, 17:17 WIB
26 Oktober 2026, 11:00 WIB
23 Oktober 2026, 17:00 WIB
23 Oktober 2026, 15:00 WIB
22 Oktober 2026, 11:00 WIB
Terkini
28 Oktober 2026, 07:00 WIB
Kepolisian coba mengantisipasi penumpukan kendaraan di sejumlah titik saat ada Demo Mahasiswa 28 Oktober 2026
27 Oktober 2026, 21:00 WIB
Sejumlah pembalap disebut menolak untuk melakoni MotoGP Qatar 2026 pekan depan karena masalah keamanan
27 Oktober 2026, 18:59 WIB
Marquez memiliki peluang besar untuk menjadi pemenang dan mendulang poin sempurna di MotoGP Malaysia 2026
27 Oktober 2026, 13:00 WIB
Try Mandala Putra menjadi konsumen yang berhasil memenangkan hadiah utama Daihatsu Mid Year Surprise Deals
27 Oktober 2026, 11:00 WIB
Piaggio Indonesia menawarkan banyak model Vespa matic, sesuai dengan kebutuhan dan minat para konsumen
27 Oktober 2026, 09:00 WIB
Setelah Phillip Island MotoGP Australia akan beralih ke Adelaide Circuit, trek jalan raya alias street circuit
27 Oktober 2026, 07:00 WIB
Kia Carens EV dibuka keran pemesanannya dan prediksi harganya mulai dari Rp 300 jutaan hingga Rp 400 jutaan
26 Oktober 2026, 17:17 WIB
PT CSI mulai melakukan distribusi mobil listrik Chery Q, tuai respons positif sejak debutnya di GIIAS 2026