Rumor Kehadiran BYD Atto 1 NIK 2026 Menguat, Fitur Bertambah
12 Mei 2026, 12:54 WIB
Para produsen bahan baku baterai lithium di Cina menaikan harga di awal 2026 karena tingginya permintaan
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Konsumen mobil listrik harus bersiap mengeluarkan dana lebih pada 2026. Sebab harga bahan baku baterai lithium bakal naik.
Seperti dilaporkan oleh Carnewschina pada Senin (15/12). Para produsen bahan baku penampung daya baru saja memberikan pengumuman.
“Kenaikan harga karena meningkatnya biaya bahan baku hulu dan lonjakan permintaan yang didorong oleh konvergensi transisi energi global,” tulis media daring itu.
Disebutkan bahwa Hunan Yuneng New Energy, pemasok utama bahan katoda baterai lithium-ion di Tiongkok bakal menaikkan harga pada 1 Januari 2026.
Biaya pemrosesan untuk seluruh rangkaian produk lithium iron phosphate akan terkerek 3.000 yuan atau Rp 7 jutaan per ton belum termasuk pajak.
Di sisi lain, hal senada turut dijalankan oleh Dejia Energy. Mereka mengumumkan bahwa pada 16 Desember 2025 harga baterai juga akan naik 15 persen.
Tentu situasi ini tidak terlepas dari banderol bahan baku yang terus melonjak di Tiongkok. Seperti harga lithium heksafluorofosfat.
Kini diniagakan 120 ribu yuan atau Rp 28,2 jutaan per ton. Melonjak dari sebelumnya 55 ribu yuan setara Rp 12,9 jutaan per ton.
Selanjutnya kobalt oksida sebagai katoda di baterai lithium-ion, diniagakan dari 140 ribu yuan atau Rp 33 jutaan per ton menjadi 350 ribu yuan setara Rp 82,5 juta per ton pada November 2025.
Sementara itu, lithium karbonat telah mengalami kenaikan menjadi 94 ribu yuan setara Rp 22,1 juta per ton pada bulan lalu.
Disusul material lithium iron phosphate katoda, sekitar 2.300 yuan sampai 2.500 yuan atau Rp 5,4 juta hingga Rp 5,8 juta per ton.
Alhasil para produsen harus mengeluarkan dana lebih untuk memproduksi baterai Electric Vehicle (EV). Dengan begitu bakal memberi dampak ke pasar.
Harga mobil listrik seperti BYD, Chery, Wuling dan kawan-kawan diprediksi bakal melambung pada tahun depan.
Menjadi sebuah tantangan baru bagi industri otomotif. Mengingat situasi ekonomi global masih belum stabil.
Para produsen mobil listrik asal Tiongkok harus menyiapkan berbagai strategi baru, demi menekan biaya produksi produk mereka.
Dengan begitu konsumen tetap mau memboyong kendaraan roda empat setrum pada 2026, meski ada kenaikan banderol.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
12 Mei 2026, 12:54 WIB
11 Mei 2026, 19:00 WIB
11 Mei 2026, 17:03 WIB
10 Mei 2026, 06:01 WIB
08 Mei 2026, 17:49 WIB
Terkini
12 Mei 2026, 22:00 WIB
Changan berniat mengubah SUV 5-seater Nevo Q07 menjadi 7-seater untuk konsumen di Indonesia tahun depan
12 Mei 2026, 21:22 WIB
InJourney dan GSrek berkolaborasi untuk menunjukkan komitmennya dalam hal membangun kawasan pariwisata
12 Mei 2026, 19:28 WIB
Polda Metro Jaya baru saja menggerebek sebuah gudang yang berisikan 1.494 motor ilegal di Jakarta Selatan
12 Mei 2026, 19:21 WIB
Menurut laporan AISI, pada April 2026 pasar motor baru alami pertumbuhan hingga menyentuh angka 520.975 unit
12 Mei 2026, 12:54 WIB
Sejumlah wiraniaga BYD sudah mulai mengumumkan kehadiran BYD Atto 1 versi baru yang sudah dirakit lokal
12 Mei 2026, 06:06 WIB
Ganjil Genap Jakarta hari ini kembali diberlakukan untuk bisa mengurai sedikit kemacetan di Ibu Kota
11 Mei 2026, 19:00 WIB
Dua manufaktur mobil listrik asal Tiongkok melihat adanya peluang besar menjual EV di Cina, ini alasannya
11 Mei 2026, 17:03 WIB
Kehadiran BYD M6 PHEV makin dekat ke Indonesia setelah kode mobilnya diduga terdaftar di dokumen Permendagri