Penjualan Neta di Indonesia di 2025, Tiarap Jelang Tutup Tahun
14 Januari 2026, 09:00 WIB
Para produsen bahan baku baterai lithium di Cina menaikan harga di awal 2026 karena tingginya permintaan
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Konsumen mobil listrik harus bersiap mengeluarkan dana lebih pada 2026. Sebab harga bahan baku baterai lithium bakal naik.
Seperti dilaporkan oleh Carnewschina pada Senin (15/12). Para produsen bahan baku penampung daya baru saja memberikan pengumuman.
“Kenaikan harga karena meningkatnya biaya bahan baku hulu dan lonjakan permintaan yang didorong oleh konvergensi transisi energi global,” tulis media daring itu.
Disebutkan bahwa Hunan Yuneng New Energy, pemasok utama bahan katoda baterai lithium-ion di Tiongkok bakal menaikkan harga pada 1 Januari 2026.
Biaya pemrosesan untuk seluruh rangkaian produk lithium iron phosphate akan terkerek 3.000 yuan atau Rp 7 jutaan per ton belum termasuk pajak.
Di sisi lain, hal senada turut dijalankan oleh Dejia Energy. Mereka mengumumkan bahwa pada 16 Desember 2025 harga baterai juga akan naik 15 persen.
Tentu situasi ini tidak terlepas dari banderol bahan baku yang terus melonjak di Tiongkok. Seperti harga lithium heksafluorofosfat.
Kini diniagakan 120 ribu yuan atau Rp 28,2 jutaan per ton. Melonjak dari sebelumnya 55 ribu yuan setara Rp 12,9 jutaan per ton.
Selanjutnya kobalt oksida sebagai katoda di baterai lithium-ion, diniagakan dari 140 ribu yuan atau Rp 33 jutaan per ton menjadi 350 ribu yuan setara Rp 82,5 juta per ton pada November 2025.
Sementara itu, lithium karbonat telah mengalami kenaikan menjadi 94 ribu yuan setara Rp 22,1 juta per ton pada bulan lalu.
Disusul material lithium iron phosphate katoda, sekitar 2.300 yuan sampai 2.500 yuan atau Rp 5,4 juta hingga Rp 5,8 juta per ton.
Alhasil para produsen harus mengeluarkan dana lebih untuk memproduksi baterai Electric Vehicle (EV). Dengan begitu bakal memberi dampak ke pasar.
Harga mobil listrik seperti BYD, Chery, Wuling dan kawan-kawan diprediksi bakal melambung pada tahun depan.
Menjadi sebuah tantangan baru bagi industri otomotif. Mengingat situasi ekonomi global masih belum stabil.
Para produsen mobil listrik asal Tiongkok harus menyiapkan berbagai strategi baru, demi menekan biaya produksi produk mereka.
Dengan begitu konsumen tetap mau memboyong kendaraan roda empat setrum pada 2026, meski ada kenaikan banderol.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
14 Januari 2026, 09:00 WIB
13 Januari 2026, 19:42 WIB
13 Januari 2026, 14:04 WIB
13 Januari 2026, 13:00 WIB
13 Januari 2026, 11:00 WIB
Terkini
14 Januari 2026, 10:00 WIB
Menurut laman resmi TAM, harga Toyota Avanza mengalami kenaikan dengan bersaran bervariasi di awal tahun ini
14 Januari 2026, 09:00 WIB
Neta catat penurunan penjualan yang cukup dalam sejak Juli 2025, ditutup dengan dua unit retail di Desember
14 Januari 2026, 08:00 WIB
Prima Pramac Yamaha baru saja meluncurkan motor balap Toprak Razgatlioglu dan Jack Miller untuk MotoGP 2026
14 Januari 2026, 07:00 WIB
Agar terhindar dari konfilik, ada berbagai cara untuk menegur pengendara yang melawan arah dan merokok
14 Januari 2026, 06:00 WIB
Demi memudahkan masyarakat maupun pengendara, kepolisian menghadirkan fasilitas SIM keliling Bandung hari ini
14 Januari 2026, 06:00 WIB
Ganjil genap Jakarta 14 Januari 2026 kembali diterapkan dengan saksi denda hingga ratusan ribu rupiah
14 Januari 2026, 06:00 WIB
Biaya perpanjang di SIM keliling Jakarta bervariasi tergantung dari jenis SIM, berikut informasi lengkapnya
13 Januari 2026, 19:42 WIB
Karena diyakini masih akan berstatus impor utuh tanpa insentif, harga BYD Atto 1 diprediksi melonjak di 2026