Praktisi Tanggapi Kecelakaan McLaren: Modal Nyetir Saja Tak Cukup
11 Juli 2026, 07:00 WIB
Kecelakaan di Pekanbaru disebabkan karena sopir dalam keadaan mabuk setelah mengonsumsi alkohol dan narkoba
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Kecelakaan maut melibatkan Toyota Calya dan Honda Beat di Pekanbaru, Riau terjadi pada Rabu (1/1). Kepolisian menyebut sopir kendaraan roda empat itu dalam keadaan mabuk.
Antoni Romansyah (44) serta sang penumpang seorang wanita sebelumnya mengaku dari tempat hiburan malam. Mereka mengonsumsi alkohol juga narkoba.
“Mereka menggunakan sabu di Palembang, lalu singgah di tempat hiburan malam di Pekanbaru sebelum kecelakaan terjadi,” ungkap AKP Bagus Faria, Kepala Satuan Narkotika dan Obat-Obatan Terlarang Kepolisian Resor Kota Pekanbaru di Antara.
Lalu Antoni mengemudi mobil berkelir putih dengan kecepatan tinggi. Setibanya di Jalan Hangtuah, Kecamatan Tenayan Raya, Kota Pekanbaru kendaraan itu berpindah jalur.
Kemudian menabrak motor di arah berlawan. Membuat satu keluarga yang terdiri dari tiga orang meninggal dunia.
Atas perbuatannya, Antoni harus digelandang ke kantor polisi. Ia dimintai keterangan dan tanggung jawab akibat insiden tersebut.
Berangkat dari hal di atas, pengamat menyebut kalau perilaku mengemudi dalam keadaan mabuk sangat berisiko minimbulkan kecelakaan.
“Mengemudi yang lebih berbahaya dari ngantuk atau microsleep, yaitu mabuk juga (menggunakan) narkoba. Sopir berhalusinasi karena sistem saraf terganggu sehingga menyebabkan perubahaan perilaku kesadaran sampai kemampuan mengendalikan diri,” kata Sony Susmana, Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) kepada KatadataOTO, Kamis (2/1).
Sony menuturkan ada sejumlah hal bisa terjadi ketika menyetir mobil dalam keadaan mabuk. Pertama adalah keseimbangan terganggu, jadi arah kendaraan tidak terkontrol.
Seperti suka berbelok tidak menentu atau ke berbagai arah. Membuat pengendara lain di jalan dalam bahaya besar.
Lalu penglihatan kabur sehingga tak mampu membaca obyek-obyek yang ada disekitar. Berisiko tinggi menabrak pengguna jalan lain seperti kecelakaan di Pekanbaru.
Selanjutnya dalam bereaksi lambat, jadi kemampuan mengantisipasi bahaya berkurang.Terakhir perilaku pengendara tak terkendali, cenderung emosi tidak stabil.
Jika hal-hal di atas terjadi maka bukan tidak mungkin kecelakaan di Pekanbaru tak bisa terhindarkan. Bahkan sampai menghilangkan nyawa seseorang.
“Pengemudi seperti ini mudah terbaca, akan tetapi sulit diantisipasi jika datangnya berlawanan arah,” Sony menuturkan.
Pengendara roda empat maupun dua diminta agar tidak mengonsumsi alkohol serta narkoba ketika ingin membawa mobil atau motor di jalan raya.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
11 Juli 2026, 07:00 WIB
18 April 2026, 10:07 WIB
29 Maret 2026, 11:44 WIB
11 Maret 2026, 09:00 WIB
16 Februari 2026, 13:52 WIB
Terkini
28 Oktober 2026, 16:13 WIB
Rangkaian seri GIIAS berlanjut, kini GIIAS Makassar 2026 resmi dibuka diramaikan berbagai model elektrifikasi
28 Oktober 2026, 13:00 WIB
Komponen CVT pada motor matik perlu diperiksa secara berkala, ini gejalanya jika terjadi potensi kerusakan
28 Oktober 2026, 11:00 WIB
Periklindo menilai mobil hybrid turut berkontribusi dalam pengurangan konsumsi BBM dan emisi CO2 di Indonesia
28 Oktober 2026, 09:00 WIB
Muncul wacana insentif mobil hybrid, realisasinya berpeluang menambah angka penjualan lini kendaraan HEV
28 Oktober 2026, 07:00 WIB
Kepolisian coba mengantisipasi penumpukan kendaraan di sejumlah titik saat ada Demo Mahasiswa 28 Oktober 2026
27 Oktober 2026, 21:00 WIB
Sejumlah pembalap disebut menolak untuk melakoni MotoGP Qatar 2026 pekan depan karena masalah keamanan
27 Oktober 2026, 18:59 WIB
Marquez memiliki peluang besar untuk menjadi pemenang dan mendulang poin sempurna di MotoGP Malaysia 2026
27 Oktober 2026, 13:00 WIB
Try Mandala Putra menjadi konsumen yang berhasil memenangkan hadiah utama Daihatsu Mid Year Surprise Deals