Lepas Siap Luncurkan 12 Mobil di RI Dalam 3 Tahun, Tidak Ada MPV
21 Januari 2026, 12:00 WIB
Kemenperin menilai pemberian insentif untuk industri otomotif di 2026 sangat penting untuk menggairahkan pasar
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Kondisi pasar mobil baru di Indonesia sepanjang 2025 cukup berdarah-darah. Berbagai hambatan membuat kinerjanya tidak maksimal.
Hal ini mendorong Kementerian Perindustrian (Kemenperin), mengusulkan pemberian insentif buat periode 2026.
Dorongan berupa bantuan dinilai sangat penting. Sebab pelemahan pasar yang terjadi secara simultan dapat berdampak ke berbagai sektor.
Semisal penurunan utilitas pabrik, investasi anjlok sampai berpotensi mengancam keberlanjutan lapangan kerja di industri otomotif maupun sektor komponen.
“Tidak adanya intervensi kebijakan akan membuat tekanan ini semakin dalam,” ungkap Febri Hendri Antoni, Juru Bicara Kemenperin di laman resmi Kemenperin, Selasa (02/12).
Oleh sebab itu, menurut dia Kemenperin berupaya menempuh berbagai cara untuk menggairahkan pasar mobil baru.
Seperti dengan memberikan dukungan berupa insentif pada 2026. Sehingga masyarakat maupun para pelaku industri dapat terbantu.
“Efeknya (pelemahan pasar mobil baru) dapat memengaruhi industri secara keseluruhan,” tegas Febri.
Di sisi lain pendapat serupa turut diucapkan pihak lain. Semisal dari komunitas otomotif yang menilai insentif dibutuhkan.
Bahkan stimulus harus melihat kebutuhan tiap segmen secara spesifik, bukan diberlakukan secara menyeluruh.
Dukungan fiskal dari pemerintah wajib menyasar kendaraan untuk kelas menengah ke bawah. Tidak hanya berfokus pada satu jenis mobil saja.
“Ini sebetulnya juga berlaku untuk mobil listrik. Maksudnya insentif itu diperlukan untuk mobil kalangan menengah ke bawah biar tepat sasaran, kalau yang di segmen atas itu tidak wajib malah," kata Sonny Eka Putra, Founder Xpander Mitsubishi Owners Club.
Sonny mencontohkan, mayoritas mobil hybrid memiliki harga lebih tinggi rasanya wajar jika tidak diberi insentif.
Sementara itu Ryan Cayo, Ketua Dewan Pengawas Calya Sigra Club menilai insentif otomotif tidak semata-hata harus diskon bagi produsen.
Akan tetapi bisa dalam bentuk lain, sebagai stimulus untuk menjaga pergerakan ekosistem otomotif dari hulu ke hilir.
“Ketika pemerintah menyampaikan sinyal berbeda, hal itu membuat pelaku usaha hingga konsumen lebih berhati-hati dan ini bisa makin memperlambat pemulihan pasar," ujar Cahyo.
Kebijakan insentif yang timpang dan tidak pasti justru berimbas ke psikologi pasar. Konsumen memilih menunda keputusan membeli mobil.
Termasuk di pasar mobil bekas, karena menunggu apakah akan ada insentif baru atau perubahan regulasi.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
21 Januari 2026, 12:00 WIB
21 Januari 2026, 11:00 WIB
20 Januari 2026, 11:00 WIB
19 Januari 2026, 17:00 WIB
17 Januari 2026, 15:00 WIB
Terkini
22 Januari 2026, 06:00 WIB
Saat mengurus dokumen berkendara tidak perlu mendatangi kantor Satpas, cukup manfaatkan SIM keliling Bandung
22 Januari 2026, 06:00 WIB
Pemilik SIM A dan C bisa melakukan perpanjangan masa berlaku di SIM keliling Jakarta, ada di lima lokasi
22 Januari 2026, 06:00 WIB
Kepolisian masih mengandalkan ganjil genap Jakarta untuk atasi kemacetan lalu lintas yang ada di Ibu Kota
21 Januari 2026, 19:30 WIB
Insiden mobil listrik terbakar yang terjadi belakangan berpotensi memicu ketakutan, wajib ada edukasi
21 Januari 2026, 19:23 WIB
Fabio Quartararo dan Alex Rins kini mempunyai motor balap Yamaha baru guna mengarungi kompetisi MotoGP 2026
21 Januari 2026, 16:08 WIB
Yamaha Nmax maupun Xmax kini tampil beda setelah diberikan livery khusus, yakni 25 tahun Maxi yang sporty
21 Januari 2026, 15:00 WIB
Hampir dua tahun sejak peluncuran L8, Aletra akhirnya siap menghadirkan produk baru buat konsumen tahun ini
21 Januari 2026, 14:09 WIB
Mobil listrik terbaru Mitsubishi memiliki ukuran kompak dan bahasa desain baru pakai basis Foxtron Bria