Insentif Mobil Hybrid Berpeluang Dorong Penjualan ke 1 Juta Unit
30 Oktober 2026, 17:00 WIB
Ada produk baru dengan harga kompetitif disinyalir jadi salah satu faktor penyebab lesunya penjualan LCGC
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Pasar mobil Low Cost Green Car (LCGC) seperti tidak berdaya di 2025. Kinerjanya masih jauh dari harapan banyak pihak.
Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mengungkapkan ada sejumlah tantangan bagi kendaraan roda empat berbanderol terjangkau itu.
"LCGC juga kena imbas dengan masuknya merek-merek atau model-model baru," ungkap Jongkie Sugiarto, Ketua I Gaikindo kepada KatadataOTO, Senin (13/10).
Jongkie menuturkan bahwa mobil-mobil anyar yang datang ke pasar Indonesia menggerogoti segmen LCGC.
Sebab mampu mendorong masyarakat buat berpaling dari Daihatsu Sigra, Toyota Calya dan lain-lain.
Apalagi produk baru yang diniagakan memiliki banderol sangat kompetitif. Membuat konsumen di dalam negeri semakin tergoda.
Sayang Jongkie tidak menyebutkan secara spesifik kendaraan roda empat apa yang mengganggu pasar mobil LCGC.
Akan tetapi bila dilihat, BYD Atto 1 disebut-sebut mampu menghadang kinerja Honda Brio Satya sampai Toyota Agya.
Terlebih Electric Vehicle (EV) asal Cina tersebut diniagakan dengan harga cukup terjangkau, yakni mulai Rp 195 jutaan.
Di mana angka di atas sangat bersinggungan dengan harga mobil LCGC yang dijual di Tanah Air.
Ditambah mobil listrik BYD tersebut diklaim mendapat sambutan positif sejak diluncurkan pada GIIAS 2025.
Sebagai informasi, menurut data Gaikindo pada September 2025 distribusi LCGC dari pabrik ke diler (wholesales) hanya 7.795 unit saja.
Angka di atas terkoreksi cukup dalam, yakni 5,7 persen bila dibandingkan 8.270 unit pada Agustus 2025.
Sedangkan secara kumulatif wholesales mobil LCGC sejak Januari sampai September 2025 berkisar 89.051 unit.
Data-data di atas menggambarkan kondisi ekonomi di Indonesia masih belum pulih jelang akhir tahun.
Mengingat kendaraan roda empat tersebut cukup digandrungi oleh masyarakat kelas menengah ke bawah di Tanah Air.
Tandanya kemampuan masyarakat kelas menengah ke bawah untuk membeli kendaraan sangat terganggu.
"Memang daya beli masyarakat belum kembali normal," kata Jongkie.
Para pemangku kebijakan pun harus segera memberikan perhatian khusus. Sebab kondisi seperti ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.
Pasalnya berpotensi membawa dampak buruk lebih besar lagi. Terutama bagi sektor otomotif maupun pendapatan negara.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
30 Oktober 2026, 17:00 WIB
28 Oktober 2026, 16:13 WIB
26 Oktober 2026, 09:00 WIB
22 Oktober 2026, 13:08 WIB
21 Oktober 2026, 11:00 WIB
Terkini
02 November 2026, 11:00 WIB
Marc Marquez saat ini tengah memimpin klasemen sementara MotoGP 2026 usai memenangkan seri Malaysia di Sepang
02 November 2026, 09:00 WIB
Merek mobil Cina mulai menjamur dan mencatatkan penjualan positif di berbagai wilayah, terkininya di eropa
02 November 2026, 07:00 WIB
Yamaha Gear Ultima edisi Kicau Mania hadir perdana di gelaran Umi Kasum Cup VI, jadi inspirasi modifikasi
01 November 2026, 20:29 WIB
iCar Indonesia membuka diler di dalam mal pertamanya di Jakarta untuk mendekatkan diri dengan konsumen
01 November 2026, 17:37 WIB
Di bulan ini sejumlah SPBU di Indonesia nampak menahan harga BBM mereka, mulai dari RON 92 sampai jenis diesel
01 November 2026, 15:07 WIB
Marc Marquez berhasil meraih kemenangan di MotoGP Malaysia 2026 dan mendapat poin untuk menjauh dari Martin
01 November 2026, 10:13 WIB
Bappenas menjelaskan pengembangan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia perlu kolaborasi berbagai pihak
01 November 2026, 07:00 WIB
Peluang kolaborasi dari AISI terbuka lebar untuk merek-merek sepeda motor Cina yang mulai masuk Indonesia