Penerapan Biodiesel B50 1 Juli Dipercaya Bawa Banyak Efek Positif
18 Juni 2026, 07:00 WIB
GWM Indonesia mengaku bakal mendukung kebijakan B50 serta E10 yang tengah digodok oleh Kementerian ESDM
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Pemerintah Indonesia sedang mematangkan berbagai kebijakan. Terutama pada sektor bahan bakar yang ada.
Presiden Prabowo Subianto bersama para menteri ingin menerapkan kebijakan biodiesel B50 atau campuran 50 persen bahan bakar nabati.
Selain itu Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga bakal mewajibkan campuran etanol sebanyak 10 persen (E10).
Tentu berbagai rencana di atas menuai banyak respons. Seperti datang dari GWM Indonesia.
"Kita pasti sangat menghormati semua kebijakan, semua aturan serta standar yang diterapkan sama pemerintah," ungkap Thio Adynata, Senior Public Relation Manager GWM Indonesia di Bogor beberapa waktu lalu.
Meski begitu produsen asal Cina tersebut mengaku bakal berkoordinasi dengan prinsipal.
Sehingga teknologi mereka usung pada seluruh kendaraan GWM sesuai dengan bahan bakar yang ada di Tanah Air.
Kendati demikian Thio belum bisa memastikan apakah GWM Tank 300 Diesel sampai Haval Jolion Hev sudah mampu menenggak B50 serta E10 atau belum.
"Kita akan dukung segala bentuk kebijakan dan berkoordinasi untuk mengevaluasi kecocokan teknologi serta yang kita punya sekarang," tutur Thio.
Sebagai informasi Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM ingin segera menerapkan mandatori B50 di Tanah Air.
"Atas arahan Bapak Presiden, sudah diputuskan bahwa 2026 insya Allah akan kita dorong ke B50. Dengan demikian tidak ada lagi kita melakukan impor solar ke Indonesia," ucap Bahlil di laman resmi Kementerian ESDM.
Bahlil menerangkan, keputusan tersebut diambil setelah melihat keberhasilan program biodiesel yang telah berjalan dan terbukti ampuh menekan ketergantungan impor sekaligus menghemat devisa negara secara signifikan.
Dengan penerapan B50, pemerintah memproyeksikan adanya potensi penghematan devisa tambahan yang sangat besar, yakni mencapai 0,84 miliar dolar Amerika Serikat.
Target tersebut dipercaya dapat dicapai hanya dalam satu tahun saja atau sepanjang 2026.
"Ini adalah sebuah keputusan strategis dan bentuk keberpihakan negara terhadap kedaulatan energi kita," kata Bahlil.
Sementara untuk E10 atau etanol 10 persen juga ditargetkan bisa berjalan mulai tahun depan.
Jadi patut ditunggu bagaimana kelanjutan dua rencana dari Kementerian ESDM di atas. Apakah akan menguntungkan pemilik kendaraan atau tidak.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
18 Juni 2026, 07:00 WIB
17 Juni 2026, 07:00 WIB
09 Juni 2026, 21:30 WIB
07 April 2026, 15:00 WIB
07 April 2026, 15:00 WIB
Terkini
21 Juli 2026, 21:23 WIB
Changan Deepal S05 resmi dipasarkan untuk para konsumen di Indonesia, mobil ini dipasarkan dalam dua varian
21 Juli 2026, 13:00 WIB
Helm pembalap tampil semakin istimewa dan mudah dikenali dengan penambahan livery maupun corak khusus
21 Juli 2026, 11:00 WIB
Mitsubishi XForce Hybrid tidak disarankan menggunakan BBM dengan RON 90 atau setara Pertalite dari Pertamina
21 Juli 2026, 09:47 WIB
Penjualan motor listrik Honda disebut masih stagnan, adopsinya di masyarakat belum bisa dibilang maksimal
21 Juli 2026, 07:00 WIB
SUV kompak Geely Coolray masuk Indonesia secara impor, namun jumlahnya terbatas mengikuti permintaan konsumen
21 Juli 2026, 06:00 WIB
Ganjil genap Jakarta hari ini masih berlaku untuk memecah kebuntuan pada arus lalu lintas Ibu Kota di jam padat
21 Juli 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Bandung hadir untuk melayani masyarakat yang ingin mengurus masa berlaku dokumen berkendara
21 Juli 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Jakarta tersebar di lima lokasi berbeda, simak informasi tempat dan persyaratan lengkapnya