Geely Bikin Tiruan Xiaomi SU7, Versi Ekonomis Incar Generasi Muda
09 Juli 2026, 07:00 WIB
Menurut bos GWM, pabrikan asal Jepang, Korea Selatan hingga Amerika Serikat memiliki pengalaman cukup panjang
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Pabrikan mobil Cina mampu berakselerasi cukup cepat dalam beberapa waktu belakangan. Bahkan Tesla dibuat tidak berkutik pada 2025.
Meski begitu, bos Great Wall Motor (GWM) tidak mau gegabah. Ia meminta BYD sampai Geely tidak langsung berpuas diri.
“Pada kenyataannya, masih ada kesenjangan yang signifikan antara produsen mobil Tiongkok, termasuk Great Wall Motor dan perusahaan-perusahaan unggulan tersebut,” ungkap Wei Jianjun, Bos GWM di Car Expert, Senin (23/02).
Menurut Jianjun, kesenjangan antara mereka dengan pabrikan kendaraan roda empat di negara lain cukup besar.
Bahkan ia menilai produk-produk asal Tiongkok masih tertinggal. Sehingga tidak boleh langsung berpuas diri.
“Jalan menuju manufaktur yang kuat masih panjang. Kita harus belajar dari Eropa, Amerika, Jepang dan Korea Selatan. Kita belajar dengan tekun, rendah hati serta praktis,” lanjut dia.
Lebih jauh disebutkan pabrikan asal Jepang, Eropa sampai Amerika Serikat memiliki keunggulan dalam pengalaman manufaktur serta kedalaman teknologi.
Ia mengatakan bahwa GWM, Geely hingga BYD harus terus belajar dari para rival di seluruh belahan dunia.
Kemudian mengatasi ketertinggalan melalui evaluasi internal dan langkah-langkah perbaikan. Sehingga bisa terus bersaing di pasar kendaraan roda empat global.
Ia mencontohkan seperti Toyota ketika memastikan kualitas produk-produknya. Mereka mampu mempertahankan kepercayaan para konsumen.
Padahal Toyota sering melakukan recall atau penarikan produk, namun hal tersebut ditempuh dengan cara proaktif.
Lalu mengomunikasikan perbaikan dengan jelas kepada pelanggan. Jadi pemilik mobil Toyota tidak merasa dirugikan.
Di sisi lain, menurut laporan Carnewschina bos GWM ini tidak menampik jika strategi perang harga sangat merugikan.
Hal tersebut dapat menciptakan tantangan jangka panjang, jika tidak didukung oleh operasi bisnis berkelanjutan serta kualitas produk.
Jianjun menegaskan, membuat harga mobil sangat rendah dapat membatasi pengembangan merek di pasar internasional dari waktu ke waktu.
Sehingga perang harga mobil Cina tidak bisa diterapkan terus-menerus. Sebab dinilai kurang tepat untuk diandalkan.
Perang harga bisa menjadi langkah bunuh diri secara perlahan bagi para produsen asal Negeri Tirai Bambu.
Apalagi saat ini pasar mobil baru Cina terancam melambat pada 2026. Hal tersebut karena pemerintah setempat merevisi aturan terkait insentif pembelian kendaraan roda empat.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
09 Juli 2026, 07:00 WIB
08 Juli 2026, 09:00 WIB
03 Juli 2026, 13:41 WIB
01 Juli 2026, 09:51 WIB
29 Juni 2026, 07:00 WIB
Terkini
11 Juli 2026, 09:00 WIB
REEV menjadi satu alternatif teknologi ramah lingkungan baru yang bakal ditawarkan oleh berbagai merek Cina
11 Juli 2026, 07:00 WIB
Kecelakaan McLaren kembali menjadi pengingat tentang pentingnya kesadaran keselamatan berkendara sportscar
10 Juli 2026, 22:34 WIB
Honda Bangka Belitung baru saja menggelar kegiatan CSR, yakni menanam sebanyak ratusan pohon mangrove
10 Juli 2026, 18:09 WIB
Pada awal Juli 2026, Honda serta Yamaha kembali melakukan penyesuaian harga pada lini motor matic murah mereka
10 Juli 2026, 11:00 WIB
Menurut data dari laman resmi AISI, wholesales motor baru di Juni 2026 menyentuh angka 515 ribuan unit
10 Juli 2026, 09:23 WIB
Marc Marquez menjadi salah satu rider yang diunggulkan untuk menjadi pemenang pada MotoGP Jerman 2026
10 Juli 2026, 06:00 WIB
Jangan sampai terlambat, SIM keliling Jakarta dibuka di lokasi yang lebih terbatas setiap akhir pekan
10 Juli 2026, 06:00 WIB
Jangan sampai salah mendatangi lokasi SIM keliling Bandung, karena setiap hari tempatnya berbeda-beda