BYD Pastikan Konsumen M6 DM Tidak Bayar Dobel Untuk Perawatan
24 Mei 2026, 17:10 WIB
Menurut bos GWM, pabrikan asal Jepang, Korea Selatan hingga Amerika Serikat memiliki pengalaman cukup panjang
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Pabrikan mobil Cina mampu berakselerasi cukup cepat dalam beberapa waktu belakangan. Bahkan Tesla dibuat tidak berkutik pada 2025.
Meski begitu, bos Great Wall Motor (GWM) tidak mau gegabah. Ia meminta BYD sampai Geely tidak langsung berpuas diri.
“Pada kenyataannya, masih ada kesenjangan yang signifikan antara produsen mobil Tiongkok, termasuk Great Wall Motor dan perusahaan-perusahaan unggulan tersebut,” ungkap Wei Jianjun, Bos GWM di Car Expert, Senin (23/02).
Menurut Jianjun, kesenjangan antara mereka dengan pabrikan kendaraan roda empat di negara lain cukup besar.
Bahkan ia menilai produk-produk asal Tiongkok masih tertinggal. Sehingga tidak boleh langsung berpuas diri.
“Jalan menuju manufaktur yang kuat masih panjang. Kita harus belajar dari Eropa, Amerika, Jepang dan Korea Selatan. Kita belajar dengan tekun, rendah hati serta praktis,” lanjut dia.
Lebih jauh disebutkan pabrikan asal Jepang, Eropa sampai Amerika Serikat memiliki keunggulan dalam pengalaman manufaktur serta kedalaman teknologi.
Ia mengatakan bahwa GWM, Geely hingga BYD harus terus belajar dari para rival di seluruh belahan dunia.
Kemudian mengatasi ketertinggalan melalui evaluasi internal dan langkah-langkah perbaikan. Sehingga bisa terus bersaing di pasar kendaraan roda empat global.
Ia mencontohkan seperti Toyota ketika memastikan kualitas produk-produknya. Mereka mampu mempertahankan kepercayaan para konsumen.
Padahal Toyota sering melakukan recall atau penarikan produk, namun hal tersebut ditempuh dengan cara proaktif.
Lalu mengomunikasikan perbaikan dengan jelas kepada pelanggan. Jadi pemilik mobil Toyota tidak merasa dirugikan.
Di sisi lain, menurut laporan Carnewschina bos GWM ini tidak menampik jika strategi perang harga sangat merugikan.
Hal tersebut dapat menciptakan tantangan jangka panjang, jika tidak didukung oleh operasi bisnis berkelanjutan serta kualitas produk.
Jianjun menegaskan, membuat harga mobil sangat rendah dapat membatasi pengembangan merek di pasar internasional dari waktu ke waktu.
Sehingga perang harga mobil Cina tidak bisa diterapkan terus-menerus. Sebab dinilai kurang tepat untuk diandalkan.
Perang harga bisa menjadi langkah bunuh diri secara perlahan bagi para produsen asal Negeri Tirai Bambu.
Apalagi saat ini pasar mobil baru Cina terancam melambat pada 2026. Hal tersebut karena pemerintah setempat merevisi aturan terkait insentif pembelian kendaraan roda empat.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
24 Mei 2026, 17:10 WIB
22 Mei 2026, 19:00 WIB
22 Mei 2026, 11:00 WIB
22 Mei 2026, 09:00 WIB
20 Mei 2026, 13:55 WIB
Terkini
25 Mei 2026, 11:00 WIB
Berkaca dari data pembeli Prelude, loyalis Honda disebut memiliki peran penting dalam mendongkrak penjualan
25 Mei 2026, 09:00 WIB
Teknologi REEV yang bakal masuk di Indonesia dalam waktu dekat dan memiliki beberapa keunggulan yang menarik
25 Mei 2026, 07:00 WIB
Banyak yang menganggap masalah pada mobil bisa diperbaiki sendiri, namun jika dipaksakan akan menjadi masalah
25 Mei 2026, 06:01 WIB
Perpanjangan masa berlaku SIM bisa dilakukan di layanan SIM keliling Jakarta, ada di lima lokasi berbeda
25 Mei 2026, 06:00 WIB
Kepolisian kembali menghadirkan SIM keliling Bandung untuk melayani para pengendara motor maupun mobil
25 Mei 2026, 06:00 WIB
Jelang libur Idul Adha 2026, skema Ganjil Genap Jakarta masih tetap berlaku untuk meminimalisir kepadatan
24 Mei 2026, 20:00 WIB
iCar V23 resmi dipasarkan di Tanah Air dengan banderol Rp 389,9 Juta dan menjadi SUV bertenaga listrik paling terjangkau
24 Mei 2026, 19:00 WIB
16 ribu unit mobil listrik Jaecoo J5 EV terkirim ke konsumen sejak awal peluncurannya jelang akhir 2025