Simpang Siur Insentif Motor Listrik, ESDM: Perlu Perpres
03 September 2026, 07:00 WIB
Meski tanpa insentif pemerintah optimis produsen mobil tetap mau berinvestasi dengan membangun pabrik di Indonesia
Oleh Adi Hidayat
KatadataOTO – Penjualan mobil di Indonesia sepanjang 2025 masih terus mengalami tekanan. Retail sales dari Januari hingga November 2025 hanya sebesar 735.977 unit.
Jumlah itu jauh lebih kecil dibanding periode serupa tahun lalu yang membukukan 807.586 unit. Artinya retail sales mengalami penurunan 67.809 unit atau sekitar 8,4 persen.
Situasi tersebut pun membuat Gaikindo berinisiatif mengurangi target penjualan kendaraan. Dari sebelumnya sekitar 850.000 unit menjadi hanya 780.000 unit.
Tekanan pun diperkirakan bakal terus berlanjut di 2026. Hal ini karena pemerintah memutuskan tidak lagi memberi insentif pembelian kendaraan.
Meski demikian, Airlangga Hartarto, Menteri Koodinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia mengungkap hal tersebut bisa menguntungkan negara. Pasalnya produsen mobil tetap berupaya masuk ke Tanah Air dengan berinvestasi mendirikan pabrik.
“Justru karena instentif sudah selesai maka semuanya bisa berjalan. Stimulus diberikan agar mereka mau membangun pabrik dan biaya produksinya jadi lebih rendah,” ungkapnya.
Menurutnya tidak ada alasan pabrikan otomotif enggan mendirikan fasilitas produksi di Tanah Air. Terlebih mereka yang sudah menikmati insentif dan berhasil berkembang.
“VinFast bisa berinvestasi dan membuat pabrik, jadi pabrikan lain yang belum punya pabrik tapi menikmati insentif harus bisa melakukannya juga,” tegas Airlangga.
Meski demikian dirinya memastikan pemerintah akan tetap mendorong pertumbuhan industri otomotif. Salah satunya dengan menjalankan program mobil nasional yang tengah digaungkan.
“Untuk mobil nasional tentu anggarannya sudah direncanakan. Kita bisa belajar sebenarnya dari VinFast dan semua sedang dalam proses,” tegasnya kemudian.
Pabrikan mobil asal Vietnam, VinFast pun memberi sedikit bocoran terkait membangun perusahaan otomotif. Menurut mereka prosesnya memang sangat sulit dan penuh tantangan.
“Agar bisa menjadi seperti VinFast, Indonesia harus mempunyai orang seperti Pham Nhat Vuong, Chairman kami yang sangat berdedikasi. Ia bahkan telah menggelontorkan dana USD 17 miliar untuk pengembangan kendaraan,” ungkap Pham Sanh Chau, CEO VinFast Asia.
Menurutnya, Pham Nhat Vuong membawa VinFast bukan untuk bisnis saja tapi jadi kebanggaan bangsa. Oleh sebab itu industri lokal juga dilibatkan guna memperkuat posisinya negara mereka.
Kemudian banyaknya lini bisnis Vin Group juga memberi keuntungan tersendiri. Karena masing-masing perusahaan diminta untuk berinvestasi ke VinFast sehingga perkembangan industri bisa optimal.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
03 September 2026, 07:00 WIB
15 Juli 2026, 07:00 WIB
08 Juli 2026, 17:07 WIB
30 Juni 2026, 15:00 WIB
10 Mei 2026, 06:01 WIB
Terkini
28 September 2026, 06:00 WIB
Para pengguna mobil pribadi yang hendak melintas jalan protokol Ibu Kota, simak titik Ganjil Genap Jakarta
28 September 2026, 06:00 WIB
Perpanjangan masa berlaku bisa dilakukan dengan mudah di SIM keliling Jakarta, berikut biaya dan lokasinya
28 September 2026, 06:00 WIB
Kepolisian menghadirkan SIM keliling Bandung lagi untuk memudahkan masyarakat mengurus dokumen berkendara
27 September 2026, 23:38 WIB
Dengan pengalaman selama tiga dekade, Suzuki memberikan tampilan baru salah satu diler mereka di Pulo Gadung
27 September 2026, 22:55 WIB
Meskipun terlahir dengan DNA yang sama yakni SUV tangguh, namun kedua kendaraan memiliki karakter berbeda
27 September 2026, 21:23 WIB
SUV legendaris Mitsubishi yakni All-new Pajero kembali hadir, mobil ini mendapat respon baik di Indonesia
27 September 2026, 20:20 WIB
Pada bulan ini harga motor matic 150 cc tidak mengalami kenaikan, jadi kesempatan buat Anda membeli kendaraan
27 September 2026, 19:45 WIB
Kontes modifikasi Customaxi 2026 Yamaha digelar di Bandung, Jawa Barat karena memiliki daya tarik tersendiri