Modal Chery Q Gaet Konsumen RI, Hadirkan Fitur Lengkap Fungsional
07 September 2026, 21:43 WIB
Bekal bertahan dalam jangka waktu panjang, merek Jepang dinilai harus terus ikut perkembangan mobil listrik
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Pasar mobil listrik saat ini bisa dibilang lebih didominasi oleh manufaktur asal Tiongkok. Berkat inovasi terkini dan harga kompetitif, produknya cukup populer di Indonesia.
Di sisi lain, merek-merek Jepang justru masih berhati-hati di tengah gempuran elektrifikasi. Memang ada beberapa hal melatarbelakangi strategi tersebut.
Misal, keterbatasan infrastruktur yang membuat konsumen masih ragu beralih ke mobil listrik.
Hasilnya, pabrikan Jepang menghadirkan alternatif seperti mobil hybrid. Sebab menawarkan efisiensi penggunaan bahan bakar tanpa ketergantungan infrastruktur.
Sedangkan pabrik Tiongkok mulai mempopulerkan kembali Plug-in Hybrid Electric Vehicle, memungkinkan mobil diisi bensin dan di-charge layaknya mobil listrik.
Pengamat menilai kehati-hatian merek-merek asal Negeri Sakura berakar dari kultur Jepang yang kaku. Kemudian budaya korporat di sana sangat memperhatikan risiko-risiko dan data dari lapangan.
Sejauh ini, baru satu pabrikan Jepang memutuskan buat merakit lokal mobil listriknya yaitu Toyota.
Dalam waktu dekat, Toyota bZ4X teranyar sudah akan berstatus Completely Knocked Down (CKD) dan berpeluang turun harga.
Sisanya, Suzuki masih fokus mobil ICE dan hybrid lalu berencana memboyong Suzuki e Vitara tahun depan.
Daihatsu baru ikut terjun ke segmen mobil hybrid di 2025 melalui Rocky. Sedangkan Honda e:N1 hanya sebatas disewakan.
“Di luar sana, pergeseran (ke arah) Electric Vehicle (EV) bukan tren lagi tetapi arah industri otomotif global,” kata Yannes Martinus Pasaribu, pengamat sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) kepada KatadataOTO beberapa waktu lalu.
Dia melanjutkan, dampak dari lambatnya transisi merek Jepang ke arah elektrifikasi total bakal terlihat di masa mendatang. Bisnis mereka dinilai dapat tergerus apabila tidak memikirkan persaingan yang semakin kuat di segmen elektrifikasi.
“Kalau pasar mulai beralih ke EV dan Jepang tidak punya produk kompetitif baik dari harga, teknologi maupun ketersediaan, maka konsumen akan mencari alternatif,” kata Yannes.
Yannes menegaskan Jepang berhadapan dengan merek Cina dan juga Korea jika bicara soal mobil listrik.
Meskipun dampak tersebut kemungkinan tidak terlihat dalam jangka waktu dekat ini, merek Jepang tetap perlu bersiap menghadapi pasar yang semakin berkembang.
Hal ini agar pasar dari brand Jepang tidak turun dalam waktu lima sampai 10 tahun ke depan.
“Bukan karena kualitasnya jelek, tetapi pasar bergerak dan Jepang tidak bergerak bersama dengan perubahan itu sendiri,” tegas Yannes.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
07 September 2026, 21:43 WIB
06 September 2026, 01:22 WIB
02 September 2026, 15:00 WIB
02 September 2026, 07:00 WIB
31 Agustus 2026, 09:00 WIB
Terkini
08 September 2026, 19:00 WIB
Robot humanoid AiMOGA yang dikembangkan oleh Chery Group sudah masuk ke pasar internasional hingga 60 negara
08 September 2026, 16:50 WIB
SUV masih jadi salah satu favorit konsumen, Xpeng GX tuai respons positif sejak debut di RI beberapa waktu lalu
08 September 2026, 09:00 WIB
Daihatsu Kumpul Sahabat Batam menjadi menyuguhkan banyak kegiatan menarik yang mencuri perhatian masyarakat
08 September 2026, 07:00 WIB
Pameran otomotif GIIAS Bandung 2026 akan menampilkan sekitar 42 kendaraan yang bisa dicoba langsung pengunjung
08 September 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Jakarta beroperasi seperti biasa di lima tempat berbeda hari ini, simak lokasi dan biayanya
08 September 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Bandung menjadi salah satu fasilitas yang bisa dimanfaatkan oleh para pengendara motor dan mobil
07 September 2026, 21:43 WIB
Chery Q menjadi mobil listrik pendatang baru yang menawarkan berbagai fitur kekinian kepada para konsumen
07 September 2026, 12:34 WIB
Gelaran Daihatsu Kumpul Sahabat Batam menjadi wadah untuk anak bersama keluarga menikmati akhir pekan