Penjualan Meroket, BYD Sebut Minat Masyarakat ke EV Meningkat
15 Mei 2026, 21:21 WIB
Bekal bertahan dalam jangka waktu panjang, merek Jepang dinilai harus terus ikut perkembangan mobil listrik
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Pasar mobil listrik saat ini bisa dibilang lebih didominasi oleh manufaktur asal Tiongkok. Berkat inovasi terkini dan harga kompetitif, produknya cukup populer di Indonesia.
Di sisi lain, merek-merek Jepang justru masih berhati-hati di tengah gempuran elektrifikasi. Memang ada beberapa hal melatarbelakangi strategi tersebut.
Misal, keterbatasan infrastruktur yang membuat konsumen masih ragu beralih ke mobil listrik.
Hasilnya, pabrikan Jepang menghadirkan alternatif seperti mobil hybrid. Sebab menawarkan efisiensi penggunaan bahan bakar tanpa ketergantungan infrastruktur.
Sedangkan pabrik Tiongkok mulai mempopulerkan kembali Plug-in Hybrid Electric Vehicle, memungkinkan mobil diisi bensin dan di-charge layaknya mobil listrik.
Pengamat menilai kehati-hatian merek-merek asal Negeri Sakura berakar dari kultur Jepang yang kaku. Kemudian budaya korporat di sana sangat memperhatikan risiko-risiko dan data dari lapangan.
Sejauh ini, baru satu pabrikan Jepang memutuskan buat merakit lokal mobil listriknya yaitu Toyota.
Dalam waktu dekat, Toyota bZ4X teranyar sudah akan berstatus Completely Knocked Down (CKD) dan berpeluang turun harga.
Sisanya, Suzuki masih fokus mobil ICE dan hybrid lalu berencana memboyong Suzuki e Vitara tahun depan.
Daihatsu baru ikut terjun ke segmen mobil hybrid di 2025 melalui Rocky. Sedangkan Honda e:N1 hanya sebatas disewakan.
“Di luar sana, pergeseran (ke arah) Electric Vehicle (EV) bukan tren lagi tetapi arah industri otomotif global,” kata Yannes Martinus Pasaribu, pengamat sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) kepada KatadataOTO beberapa waktu lalu.
Dia melanjutkan, dampak dari lambatnya transisi merek Jepang ke arah elektrifikasi total bakal terlihat di masa mendatang. Bisnis mereka dinilai dapat tergerus apabila tidak memikirkan persaingan yang semakin kuat di segmen elektrifikasi.
“Kalau pasar mulai beralih ke EV dan Jepang tidak punya produk kompetitif baik dari harga, teknologi maupun ketersediaan, maka konsumen akan mencari alternatif,” kata Yannes.
Yannes menegaskan Jepang berhadapan dengan merek Cina dan juga Korea jika bicara soal mobil listrik.
Meskipun dampak tersebut kemungkinan tidak terlihat dalam jangka waktu dekat ini, merek Jepang tetap perlu bersiap menghadapi pasar yang semakin berkembang.
Hal ini agar pasar dari brand Jepang tidak turun dalam waktu lima sampai 10 tahun ke depan.
“Bukan karena kualitasnya jelek, tetapi pasar bergerak dan Jepang tidak bergerak bersama dengan perubahan itu sendiri,” tegas Yannes.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
15 Mei 2026, 21:21 WIB
13 Mei 2026, 19:15 WIB
12 Mei 2026, 12:54 WIB
11 Mei 2026, 19:00 WIB
10 Mei 2026, 18:48 WIB
Terkini
16 Mei 2026, 20:46 WIB
Alex Marquez tidak terbendung dalam memenangkan sesi sprint race MotoGP Catalunya 2026 di Sirkuit Barcelona
16 Mei 2026, 17:00 WIB
Komunitas JMC bersama Yamaha Indonesia baru saja menggelar touring jarak jauh dari Jakarta ke Lampung
16 Mei 2026, 14:36 WIB
BYD Atto 1 mendapatkan penyegaran dan tambahan fitur, lalu turut hadir varian anyar dengan harga Rp 199 juta
15 Mei 2026, 21:21 WIB
BYD menilai kesadaran masyarakat terhadap kendaraan elektrifikasi atau EV mulai menunjukkan tren positif
15 Mei 2026, 21:20 WIB
Jorge Martin berpeluang melanjutkan tren positifnya dalam balapan MotoGP Catalunya 2026 akhir pekan ini
14 Mei 2026, 20:18 WIB
Hyundai baru saja menggelar pengundian program FIFA World Cup 2026 Test Drive Campaign untuk periode April
14 Mei 2026, 14:52 WIB
Apresiasi Sung Kang di RI, Maxdecal dukung kolaborasinya dengan Kemenekraf dan hadirkan art print spesial
14 Mei 2026, 11:31 WIB
Omoway semakin siap meluncurkan produk pertamanya dengan subsidi mandiri untuk menggoda konsumen Indonesia