Nio Firefly Setir Kanan Meluncur, Calon Rival Honda Super One
27 Maret 2026, 20:00 WIB
Bekal bertahan dalam jangka waktu panjang, merek Jepang dinilai harus terus ikut perkembangan mobil listrik
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Pasar mobil listrik saat ini bisa dibilang lebih didominasi oleh manufaktur asal Tiongkok. Berkat inovasi terkini dan harga kompetitif, produknya cukup populer di Indonesia.
Di sisi lain, merek-merek Jepang justru masih berhati-hati di tengah gempuran elektrifikasi. Memang ada beberapa hal melatarbelakangi strategi tersebut.
Misal, keterbatasan infrastruktur yang membuat konsumen masih ragu beralih ke mobil listrik.
Hasilnya, pabrikan Jepang menghadirkan alternatif seperti mobil hybrid. Sebab menawarkan efisiensi penggunaan bahan bakar tanpa ketergantungan infrastruktur.
Sedangkan pabrik Tiongkok mulai mempopulerkan kembali Plug-in Hybrid Electric Vehicle, memungkinkan mobil diisi bensin dan di-charge layaknya mobil listrik.
Pengamat menilai kehati-hatian merek-merek asal Negeri Sakura berakar dari kultur Jepang yang kaku. Kemudian budaya korporat di sana sangat memperhatikan risiko-risiko dan data dari lapangan.
Sejauh ini, baru satu pabrikan Jepang memutuskan buat merakit lokal mobil listriknya yaitu Toyota.
Dalam waktu dekat, Toyota bZ4X teranyar sudah akan berstatus Completely Knocked Down (CKD) dan berpeluang turun harga.
Sisanya, Suzuki masih fokus mobil ICE dan hybrid lalu berencana memboyong Suzuki e Vitara tahun depan.
Daihatsu baru ikut terjun ke segmen mobil hybrid di 2025 melalui Rocky. Sedangkan Honda e:N1 hanya sebatas disewakan.
“Di luar sana, pergeseran (ke arah) Electric Vehicle (EV) bukan tren lagi tetapi arah industri otomotif global,” kata Yannes Martinus Pasaribu, pengamat sekaligus akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) kepada KatadataOTO beberapa waktu lalu.
Dia melanjutkan, dampak dari lambatnya transisi merek Jepang ke arah elektrifikasi total bakal terlihat di masa mendatang. Bisnis mereka dinilai dapat tergerus apabila tidak memikirkan persaingan yang semakin kuat di segmen elektrifikasi.
“Kalau pasar mulai beralih ke EV dan Jepang tidak punya produk kompetitif baik dari harga, teknologi maupun ketersediaan, maka konsumen akan mencari alternatif,” kata Yannes.
Yannes menegaskan Jepang berhadapan dengan merek Cina dan juga Korea jika bicara soal mobil listrik.
Meskipun dampak tersebut kemungkinan tidak terlihat dalam jangka waktu dekat ini, merek Jepang tetap perlu bersiap menghadapi pasar yang semakin berkembang.
Hal ini agar pasar dari brand Jepang tidak turun dalam waktu lima sampai 10 tahun ke depan.
“Bukan karena kualitasnya jelek, tetapi pasar bergerak dan Jepang tidak bergerak bersama dengan perubahan itu sendiri,” tegas Yannes.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
27 Maret 2026, 20:00 WIB
27 Maret 2026, 09:00 WIB
26 Maret 2026, 20:07 WIB
20 Maret 2026, 13:31 WIB
16 Maret 2026, 11:00 WIB
Terkini
27 Maret 2026, 20:00 WIB
Nio Firefly akan mengisi kelas yang sama dengan salah satu calon mobil listrik baru di RI, Honda Super One
27 Maret 2026, 17:53 WIB
Marc Marquez memiliki peluang besar dan modal penting dalam menjalani MotoGP Amerika 2026 di akhir pekan
27 Maret 2026, 15:00 WIB
2,3 juta kendaraan diklaim sudah kembali ke Ibu Kota dan jumlahnya akan terus meningkat jelang akhir pekan
27 Maret 2026, 11:00 WIB
One way lokal di tol Trans Jawa mulai dilaksanakan guna kurangi kemacetan lalu lintas yang terjadi sejak pagi
27 Maret 2026, 09:00 WIB
Permintaan fleet untuk kendaraan niaga jadi salah satu faktor pendorong penjualan mobil di Februari 2026
27 Maret 2026, 07:31 WIB
Salah satu yang dilakukan Veda Ega Pratama adalah dengan bermain game MotoGP demi mengenali karakteristik COTA
27 Maret 2026, 06:00 WIB
Mendekati akhir pekan, fasilitas SIM keliling Jakarta masih melayani permohonan perpanjangan masa berlaku SIM
27 Maret 2026, 06:00 WIB
Pembatasan ganjil genap Jakarta kembali diterapkan saat akhir pekan untuk atasi kemacetan lalu lintas