2 Lokasi SIM Keliling Bandung Hari Ini, 11 Agustus 2026
11 Agustus 2026, 06:00 WIB
KNKT mendesak pemerintah mendirikan sekolah khusus sopir truk dan bus demi meningkatkan kompetensi mereka
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Kecelakaan bus dan truk di Indonesia masih terus berulang. Biasanya salah satu penyebab insiden tersebut adalah kelalaian pengemudi.
Mulai dari tidak menguasai medan jalan, tak mengenal kendaraannya dengan baik dan lalai dalam melakukan perawatan kendaraan.
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mengatakan, kecelakaan truk serta bus yang berulang disebabkan karena kemampuan dasar mengemudi kurang baik.
“Tidak kompetennya (sopir) juga ditemukan pada sebagian besar pengemudi bus dan truk lain,” ungkap Ahmad Wildan, Investigator Senior KNKT saat dihubungi KatadataOTO, Selasa (09/09).
Lebih jauh Wildan menjelaskan saat KNKT menelusuri akar masalahnya, kedua hal di atas tidak ditemui dalam Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) pengemudi.
Selanjutnya mereka juga tidak menemukan peningkatan kompetensi dalam proses pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) B1 dan B2.
Tidak heran jika banyak sopir truk serta bus yang memiliki kemampuan pas-pasan. Sebab mereka memaksakan untuk menjadi pengemudi karena tuntutan ekonomi.
“Penelusuran lebih jauh lagi (KNKT) menemukan bahwa hampir semua pengemudi truk dan bus di Indonesia tidak pernah terdidik juga terlatih dengan baik secara terstruktur,” Wildan melanjutkan.
Menurut dia, berbagai temuan tersebut menjadi tanda bahwa berbagai kecelakaan di Tanah Air dikarenakan kemampuan sopir bus maupun truk yang kurang.
Sehingga KNKT menekankan pentingnya pemerintah untuk segera membuat sekolah mengemudi khusus kedua profesi di atas.
Mengingat sudah berulang kali kecelakaan yang melibatkan truk juga bus terjadi. Tentu hal tersebut sangat merugikan masyarakat.
Sebab banyak kendaraan masyarakat maupun fasilitas umum yang rusak. Bahkan tidak jarang nyawa melayang akibat kelalaian.
“Oleh sebab itu kebutuhan akan sekolah mengemudi kendaraan besar menjadi sangat urgent, jika kita ingin memutus mata rantai kecelakaan bus dan truk di Indonesia,” tegas Wildan.
Di sisi lain Wildan menyebut pemerintah juga wajib menyiapkan kurikulum jika ingin membuat sekolah mengemudi khusus sopir truk serta bus.
Seperti pengetahuan dasar sistem rem maupun lampu, pengetahuan dasar jalan, teknik mengemudi (defensive drive) hingga pemeriksaan kendaraan sebelum beroperasi (pre trip inspection).
Tak ketinggalan masyarakat yang menggeluti profesi ini juga harus memahami teknik emergency handling jika menghadapi kondisi darurat. Jadi mengetahui apa yang harus dilakukan saat ada bahaya di depan.
Terakhir yang tidak kalah penting adalah pemahaman tentang peraturan lalu lintas. Jadi bisa lebih taat saat berada di jalan.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
11 Agustus 2026, 06:00 WIB
11 Agustus 2026, 06:00 WIB
10 Agustus 2026, 06:37 WIB
07 Agustus 2026, 06:00 WIB
07 Agustus 2026, 06:00 WIB
Terkini
11 Agustus 2026, 20:06 WIB
Kaca film untuk mobil listrik harus yang mampu memberikan perlindungan pada sistem elektronik dari panas
11 Agustus 2026, 20:00 WIB
Daihatsu menorehkan banyak prestasi dan penghargaan selama ikut serta dalam pameran GIIAS 2026 di ICE BSD
11 Agustus 2026, 19:42 WIB
Produsen otomotif asal Tiongkok Beijing Automobile Works hadir di GIIAS 2026 segera rilis M8 tantang Denza D9
11 Agustus 2026, 12:37 WIB
Wuling menuai respons positif selama GIIAS 2026, produk teranyar mereka yakni Aira ev jadi kontributor utama
11 Agustus 2026, 06:00 WIB
Hari ini SIM keliling Bandung melayani masyarakat sejak pagi untuk mengurus dokumen berkendara di dua tempat
11 Agustus 2026, 06:00 WIB
Ganjil Genap Jakarta dimulai sejak pukul 06.00 pagi hingga 10.00 WIB, lalu berlanjut kembali pada jam 4 sore
11 Agustus 2026, 06:00 WIB
Beroperasi di lima tempat terbatas, SIM keliling Jakarta dapat melayani prosedur perpanjangan SIM dengan mudah
10 Agustus 2026, 20:44 WIB
Marco Bezzecchi kini sukses menempatkan diri di posisi kedua klasemen sementara MotoGP 2026 dengan 209 poin