Hyundai Ioniq Punya Desain Nyentrik di Cina
06 Juni 2026, 08:54 WIB
Tingginya sumber daya dan jumlah penduduk jadi daya tarik bagi pabrikan mobil listrik Cina untuk berinvestasi
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Penjualan mobil listrik Cina ataupun Electric Vehicle (EV) secara keseluruhan tengah mengalami perlambatan.
Penurunan minat terhadap kendaraan bertenaga listrik sebenarnya sudah mulai terlihat.
Padahal dalam lima tahun belakangan, pabrikan mobil listrik Cina terbilang sangat agresif dalam melakukan ekspansi pasar dan investasi di berbagai negara.
Angka penanaman modal rantai pasok mobil listrik mencapai titik tertingginya di 2023.
Namun karena berbagai tantangan dan kebijakan seperti tarif impor, tidak dapat dipungkiri banyak manufaktur menarik diri dari pasar Eropa dan Amerika Serikat.
“Ada banyak proyek (mobil listrik di Eropa) kemudian dibatalkan,” kata Armand Meyer, Senior Research Analyst Rhodium China Data Services Rodhium Group dikutip dari Nikkei Asia, Rabu (02/10).
Regulasi di beberapa wilayah terkhusus AS dan Eropa memaksa manufaktur Cina memindahkan rantai pasok mereka keluar dari Tiongkok.
Meskipun Eropa awalnya jadi prioritas utama untuk investasi merek Cina, manufaktur mulai mengalihkan pengeluarannya ke pasar Asia dan Timur Tengah.
Menariknya Indonesia menjadi negara dengan penerimaan produk Cina dalam jumlah cukup besar.
Ketersediaan sumber daya mental seperti nikel menjadi daya tarik bagi perusahaan Tiongkok.
Haslinya, banyak tambang nikel di dalam negeri merupakan milik manufaktur asal Cina.
“Indonesia bisa memproduksi material serta sel baterai. Tetapi Indonesia juga merupakan pasar yang sangat besar, jadi sekarang ada rencana (pembangunan) fasilitas perakitan," kata Meyer.
Dengan ketatnya kebijakan dari pemerintah Cina terkait investasi di negara lain, kecil kemungkinan pabrikan memberikan lisensi teknologi produksi mereka ke pihak asing.
Jadi seluruh aset tersebut akan dimiliki oleh manufaktur Cina. Termasuk di Indonesia.
Perlu diketahui salah satu raksasa otomotif Tiongkok yakni BYD juga tengah dalam proses pembangunan pabrik di dalam negeri.
Fasilitas itu memiliki kapasitas produksi 150.000 unit per tahun dan bakal merakit seluruh model yang sudah dipasarkan di Indonesia secara bertahap.
Hal itu merupakan bagian dari pemenuhan persyaratan penerima insentif mobil listrik impor. Per 2026, seluruh merek yang mengikuti program itu harus sudah merakit kendaraannya di Tanah Air.
Di masa mendatang, tampaknya gempuran mobil listrik Cina masih akan terus berlanjut. Apalagi mengetahui pihak Tiongkok melihat besarnya potensi investasi di sini.
Sehingga opsi mobil listrik sampai tahun depan bakal tetap didominasi EV Cina, sedangkan Jepang masih berfokus pada alternatif lain seperti mobil hybrid.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
06 Juni 2026, 08:54 WIB
05 Juni 2026, 17:00 WIB
04 Juni 2026, 11:00 WIB
02 Juni 2026, 07:00 WIB
31 Mei 2026, 19:57 WIB
Terkini
09 Juni 2026, 21:30 WIB
Penjualan GWM kembali mengalami penurunan drastis di Mei 2026, secara retail hanya tembus 176 unit mobil
09 Juni 2026, 06:01 WIB
Aturan ganjil genap Jakarta diberlakukan untuk mengatur arus lalu lintas pada jam sibuk dan diawasi ETLE
09 Juni 2026, 06:00 WIB
Fasilitas SIM keliling Jakarta menjadi alternatif tempat perpanjangan masa berlaku SIM, ada di lima tempat
08 Juni 2026, 20:00 WIB
Kawasaki Brusky 125 digadang-gadang akan meluncur dan dipasarkan ke konsumen di ajang Jakarta Fair 2026
08 Juni 2026, 19:00 WIB
Audi Q5 Sportback teranyar meramaikan opsi mobil premium buat konsumen Tanah Air, simak spesifikasinya
08 Juni 2026, 18:00 WIB
Yadea Indonesia bakal berikan potongan harga khusus pameran hingga Rp 10 juta di Pekan Raya Jakarta 2026
08 Juni 2026, 17:00 WIB
Marc Marquez berhasil membukukan 108 poin pada papan klasemen sementara MotoGP 2026 usai seri di Hungaria
08 Juni 2026, 16:36 WIB
Penjualan Daihatsu secara retail menunjukkan tren positif di Mei 2026, segmen komersial terus mendominasi