Lepas Pamerkan L4 dan L6 di Ajang Beijing Auto Show 2026
25 April 2026, 11:00 WIB
Tingginya sumber daya dan jumlah penduduk jadi daya tarik bagi pabrikan mobil listrik Cina untuk berinvestasi
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Penjualan mobil listrik Cina ataupun Electric Vehicle (EV) secara keseluruhan tengah mengalami perlambatan.
Penurunan minat terhadap kendaraan bertenaga listrik sebenarnya sudah mulai terlihat.
Padahal dalam lima tahun belakangan, pabrikan mobil listrik Cina terbilang sangat agresif dalam melakukan ekspansi pasar dan investasi di berbagai negara.
Angka penanaman modal rantai pasok mobil listrik mencapai titik tertingginya di 2023.
Namun karena berbagai tantangan dan kebijakan seperti tarif impor, tidak dapat dipungkiri banyak manufaktur menarik diri dari pasar Eropa dan Amerika Serikat.
“Ada banyak proyek (mobil listrik di Eropa) kemudian dibatalkan,” kata Armand Meyer, Senior Research Analyst Rhodium China Data Services Rodhium Group dikutip dari Nikkei Asia, Rabu (02/10).
Regulasi di beberapa wilayah terkhusus AS dan Eropa memaksa manufaktur Cina memindahkan rantai pasok mereka keluar dari Tiongkok.
Meskipun Eropa awalnya jadi prioritas utama untuk investasi merek Cina, manufaktur mulai mengalihkan pengeluarannya ke pasar Asia dan Timur Tengah.
Menariknya Indonesia menjadi negara dengan penerimaan produk Cina dalam jumlah cukup besar.
Ketersediaan sumber daya mental seperti nikel menjadi daya tarik bagi perusahaan Tiongkok.
Haslinya, banyak tambang nikel di dalam negeri merupakan milik manufaktur asal Cina.
“Indonesia bisa memproduksi material serta sel baterai. Tetapi Indonesia juga merupakan pasar yang sangat besar, jadi sekarang ada rencana (pembangunan) fasilitas perakitan," kata Meyer.
Dengan ketatnya kebijakan dari pemerintah Cina terkait investasi di negara lain, kecil kemungkinan pabrikan memberikan lisensi teknologi produksi mereka ke pihak asing.
Jadi seluruh aset tersebut akan dimiliki oleh manufaktur Cina. Termasuk di Indonesia.
Perlu diketahui salah satu raksasa otomotif Tiongkok yakni BYD juga tengah dalam proses pembangunan pabrik di dalam negeri.
Fasilitas itu memiliki kapasitas produksi 150.000 unit per tahun dan bakal merakit seluruh model yang sudah dipasarkan di Indonesia secara bertahap.
Hal itu merupakan bagian dari pemenuhan persyaratan penerima insentif mobil listrik impor. Per 2026, seluruh merek yang mengikuti program itu harus sudah merakit kendaraannya di Tanah Air.
Di masa mendatang, tampaknya gempuran mobil listrik Cina masih akan terus berlanjut. Apalagi mengetahui pihak Tiongkok melihat besarnya potensi investasi di sini.
Sehingga opsi mobil listrik sampai tahun depan bakal tetap didominasi EV Cina, sedangkan Jepang masih berfokus pada alternatif lain seperti mobil hybrid.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
25 April 2026, 11:00 WIB
23 April 2026, 19:17 WIB
23 April 2026, 17:39 WIB
22 April 2026, 15:00 WIB
20 April 2026, 21:19 WIB
Terkini
25 April 2026, 13:00 WIB
Changan memperkenalkan teknologi BlueCore Hybrid yang memiliki efisiensi dalam penggunaan bahan bakar
25 April 2026, 11:00 WIB
Lepas membawa beberapa produk unggulan dalam ajang Beijing Auto Show 2026, masing-masing adalah L4 dan L6
25 April 2026, 09:01 WIB
Marc Marquez dan Francesco Bagnaia mempunyai catatan apik meraih kemenangan dalam ajang MotoGP Spanyol 2026
25 April 2026, 08:56 WIB
Cargloss Group memasuki usia 40 tahun dan berganti kepemimpinan menuju masa depan lebih terintegrasi
24 April 2026, 20:33 WIB
Jetour Zongheng G700 jadi salah satu kandidat SUV PHEV baru di RI, mengisi kelas yang sama dengan Denza B5
24 April 2026, 17:30 WIB
Jetour G700 dan T2 i-DM dicoba oleh seluruh jurnalis dan influencer yang mengikuti ajang test drive eksklusif
24 April 2026, 15:00 WIB
Peraturan baru mengenai insentif EV tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor 900.1.13.1/3764/SJ
24 April 2026, 13:00 WIB
Changan Group baru saja mengumumkan strategi besarnya untuk pasar global untuk meningkatkan penjualan