Selain Atto 2, BYD M6 EV Bakal Pakai Blade Battery Generasi Kedua
16 Oktober 2026, 07:00 WIB
Tidak hanya insentif, kemudahan akses infrastruktur juga jadi daya tarik agar orang beralih ke motor listrik
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Selain harga, keterjangkauan infrastruktur kendaraan listrik jadi satu pertimbangan masyarakat sebelum membeli motor listrik.
Sayangnya belum semua baterai swap maupun stasiun pengisian daya motor listrik terstandar atau bisa digunakan berbagai jenis model.
Beberapa hanya bisa dipakai oleh model tertentu yang disiapkan oleh manufaktur kendaraan listrik tersebut.
Hal ini menjadi kendala baru buat konsumen Tanah Air. Karena akan sangat merepotkan apabila swap station dan stasiun pengisian daya ada dalam jumlah terbatas.
Padahal motor listrik mulai banyak digunakan oleh ojek online yang tentu perlu mengisi daya atau swap baterai dalam jangka waktu tertentu.
“Ini di Indonesia kenyataannya, 52 brand semua berbeda-beda baterainya. Ukuran juga berbeda,” kata Prov. Dr. rer. nat. Evvy Kartini, Founder National Battery Research Institute di Jakarta belum lama ini.
Menurut Prof. Evvy, dengan adanya standardisasi baterai pemilik kendaraan bisa leluasa melakukan pengecasan maupun swap baterai di stasiun disediakan.
Perluasan jaringan swap dan stasiun pengisian juga disebut akan lebih mudah, cepat menjangkau berbagai daerah jika ada standar ditetapkan.
“Kalau itu terjadi saya yakin orang pasti berpindah ke (kendaraan berbasis) baterai,” ucap Prof. Evvy.
Pada mobil listrik, ekosistemnya sudah mulai berkembang. Sementara di sektor motor listrik khususnya yang menggunakan sistem swap, infrastrukturnya belum tersebar merata.
Kemudian diharapkan manufaktur bisa bantu sediakan stasiun pengisian daya lintas merek. Pengguna motor listrik brand lain cukup membayar uang administrasi tambahan.
“Sama (seperti ATM), Kartu Mandiri, masuk ke BRI bayar Rp 6.500. Dibuat sederhana saja, jadi investasinya tidak terlalu banyak,” tegas Prof. Evvy.
Dalam kesempatan berbeda beberapa waktu lalu, Kemenperin (Kementerian Perindustrian) telah mengungkapkan niat untuk mencanangkan aturan standardisasi baterai motor listrik.
“Dengan ada standarisasi baterai listrik kami berharap ada banyak investor yang mau berinvestasi. Kemudian dari sisi konsumennya lebih mudah melakukan swap atau shifting,” ungkap Febri Hendri Antoni Arif, Juru Bicara Kemenperin.
Tak hanya memudahkan konsumen, standardisasi baterai diklaim bisa mendorong pelaku industri baterai dalam negeri semakin berkembang.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
16 Oktober 2026, 07:00 WIB
29 September 2026, 14:39 WIB
29 September 2026, 09:00 WIB
25 September 2026, 19:00 WIB
24 September 2026, 13:00 WIB
Terkini
16 Oktober 2026, 07:00 WIB
BYD M6 EV menjadi salah satu mobil listrik yang bisa melakukan pengisian daya super cepat hanya lima menit
15 Oktober 2026, 21:00 WIB
Marc Marquez harus merelakan podium tertinggi MotoGP Mandalika 2026 kemarin direbut oleh Marco Bezzecchi
15 Oktober 2026, 19:00 WIB
Blade baterai generasi kedua milik BYD akan mulai digunakan di sejumlah mobil-mobil listrik yang baru dipasarkan
15 Oktober 2026, 17:30 WIB
BYD, Jaecoo dan Wuling berhasil mengisi tiga besar merek mobil Cina terlaris di RI periode September 2026
15 Oktober 2026, 15:00 WIB
Stasiun pengisian daya BYD Flash Charging bisa dimanfaatkan untuk mobil BYD dengan baterai generasi pertama
15 Oktober 2026, 13:00 WIB
Asuransi Astra masuk usia 70 tahun, memperkuat layanan digital melalui myGarda, gardaoto.com, dan Garda Siaga
15 Oktober 2026, 11:00 WIB
Seri GIIAS kembali dilanjutkan, GIIAS Makassar 2026 bakal hadirkan 14 merek kendaraan penumpang ke konsumen
15 Oktober 2026, 09:06 WIB
Setelah menjadi perbincangan, BYD Atto 2 akhirnya dipajang dan dipamerkan kepada konsumen di Indonesia