Honda Akui Penjualan Motor Listriknya Masih Stagnan
21 Juli 2026, 09:47 WIB
Tidak hanya insentif, kemudahan akses infrastruktur juga jadi daya tarik agar orang beralih ke motor listrik
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Selain harga, keterjangkauan infrastruktur kendaraan listrik jadi satu pertimbangan masyarakat sebelum membeli motor listrik.
Sayangnya belum semua baterai swap maupun stasiun pengisian daya motor listrik terstandar atau bisa digunakan berbagai jenis model.
Beberapa hanya bisa dipakai oleh model tertentu yang disiapkan oleh manufaktur kendaraan listrik tersebut.
Hal ini menjadi kendala baru buat konsumen Tanah Air. Karena akan sangat merepotkan apabila swap station dan stasiun pengisian daya ada dalam jumlah terbatas.
Padahal motor listrik mulai banyak digunakan oleh ojek online yang tentu perlu mengisi daya atau swap baterai dalam jangka waktu tertentu.
“Ini di Indonesia kenyataannya, 52 brand semua berbeda-beda baterainya. Ukuran juga berbeda,” kata Prov. Dr. rer. nat. Evvy Kartini, Founder National Battery Research Institute di Jakarta belum lama ini.
Menurut Prof. Evvy, dengan adanya standardisasi baterai pemilik kendaraan bisa leluasa melakukan pengecasan maupun swap baterai di stasiun disediakan.
Perluasan jaringan swap dan stasiun pengisian juga disebut akan lebih mudah, cepat menjangkau berbagai daerah jika ada standar ditetapkan.
“Kalau itu terjadi saya yakin orang pasti berpindah ke (kendaraan berbasis) baterai,” ucap Prof. Evvy.
Pada mobil listrik, ekosistemnya sudah mulai berkembang. Sementara di sektor motor listrik khususnya yang menggunakan sistem swap, infrastrukturnya belum tersebar merata.
Kemudian diharapkan manufaktur bisa bantu sediakan stasiun pengisian daya lintas merek. Pengguna motor listrik brand lain cukup membayar uang administrasi tambahan.
“Sama (seperti ATM), Kartu Mandiri, masuk ke BRI bayar Rp 6.500. Dibuat sederhana saja, jadi investasinya tidak terlalu banyak,” tegas Prof. Evvy.
Dalam kesempatan berbeda beberapa waktu lalu, Kemenperin (Kementerian Perindustrian) telah mengungkapkan niat untuk mencanangkan aturan standardisasi baterai motor listrik.
“Dengan ada standarisasi baterai listrik kami berharap ada banyak investor yang mau berinvestasi. Kemudian dari sisi konsumennya lebih mudah melakukan swap atau shifting,” ungkap Febri Hendri Antoni Arif, Juru Bicara Kemenperin.
Tak hanya memudahkan konsumen, standardisasi baterai diklaim bisa mendorong pelaku industri baterai dalam negeri semakin berkembang.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
21 Juli 2026, 09:47 WIB
19 Juli 2026, 14:00 WIB
14 Juli 2026, 22:00 WIB
09 Juli 2026, 21:00 WIB
09 Juli 2026, 19:20 WIB
Terkini
21 Juli 2026, 23:36 WIB
Fitur V2L pada Chery Tiggo 9 CSH bisa berguna saat rumah tengah mengalami pemadaman listrik secara massal
21 Juli 2026, 21:23 WIB
Changan Deepal S05 resmi dipasarkan untuk para konsumen di Indonesia, mobil ini dipasarkan dalam dua varian
21 Juli 2026, 13:00 WIB
Helm pembalap tampil semakin istimewa dan mudah dikenali dengan penambahan livery maupun corak khusus
21 Juli 2026, 11:00 WIB
Mitsubishi XForce Hybrid tidak disarankan menggunakan BBM dengan RON 90 atau setara Pertalite dari Pertamina
21 Juli 2026, 09:47 WIB
Penjualan motor listrik Honda disebut masih stagnan, adopsinya di masyarakat belum bisa dibilang maksimal
21 Juli 2026, 07:00 WIB
SUV kompak Geely Coolray masuk Indonesia secara impor, namun jumlahnya terbatas mengikuti permintaan konsumen
21 Juli 2026, 06:00 WIB
Ganjil genap Jakarta hari ini masih berlaku untuk memecah kebuntuan pada arus lalu lintas Ibu Kota di jam padat
21 Juli 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Bandung hadir untuk melayani masyarakat yang ingin mengurus masa berlaku dokumen berkendara