Tanpa Subsidi, Permintaan Motor Listrik Bisa Meningkat Kembali
12 Januari 2026, 10:00 WIB
IBC terus melalukan berbagai cara guna mendorong standarisasi baterai motor listrik, salah satunya melalui BAMS
Oleh Satrio Adhy
TRENOTO – IBC (Indonesia Battery Corporation) terus mendorong standarisasi baterai motor listrik. Salah satunya dengan meluncurkan platform BAMS (Battery Asset Management Service).
Menurut Dilo Seno, Direktur Pengembangan Usaha dan Portofolio MIND ID, BAMS adalah wadah kendaraan roda dua setrum. Mulai dari menyediakan baterai, swapping & charging station lalu aplikasi yang bisa digunakan berbagai merek.
“IBC mengambil langkah inovatif dengan menyeragamkan semua ekosistem motor listrik melalui BAMS,” kata Dilo di katadata.
Lebih jauh Dilo menuturkan kalau penampung daya merupakan salah satu komponen utama untuk kendaraan listrik. Pasalnya memiliki porsi sekitar 35 persen dari total biaya dikeluarkan
Baterai menjadi komponen kunci dalam industri kendaraan elektrik, terutama terkait kapasitas penyimpanan. Namun sekarang ada kekhawatiran soal ketersediaan infrastruktur pengisian daya dan banyaknya spesifikasi.
Maka IBC terus mendorong standarisasi baterai motor listrik. Dalam langkah anyarnya mereka menggandeng sejumlah pihak.
Sebut saja seperti Gesits, Volta, Alva, Viar dan United. Selain itu ada juga bengkel konversi seperti Bintang Racing Team hingga Spora EV.
Sementara itu, dua pemain global motor listrik dari Cina yang akan masuk ke Indonesia, yakni Sunra sama Goda, juga turut memberikan komitmennya guna berpartisipasi dalam ekosistem BAMS.
Di sisi lain Jeffrie Korompis selaku Direktur Operasi dan Pengembangan IBC mengatakan, BAMS bakal dikembangkan lebih lanjut. Hal ini bertujuan untuk mengkomersialisasi solusi berbasis Battery Swapping Station berdasarkan model bisnis anyar, yakni konsep decoupling atau pemisahan baterai dari kendaraan listrik.
“Dengan demikian, sebagai ekosistem baru, BAMS akan berfungsi sebagai platform guna kolaborasi para pelaku industri kendaraan listrik, seperti produsen atau penyedia energi, produsen baterai, pengembang teknologi dan operator battery swapping station,” ungkapnya.
Di tempat berbeda, Luhut Binsar Panjaitan selaku Menko Maritim dan Investasi mengungkapkan kalau kekhawatiran masyarakat sudah bukan pada jarak tempuh, tetapi pada ketersediaan infrastruktur.
Ini termasuk Stasiun Penukaran Baterai (Swap Station) maupun Stasiun Pengisian Listrik (Charging Station). Oleh karenanya, diperlukan kerja sama serta inovasi dalam menciptakan solusi yang efisien juga efektif.
“Kami menyambut baik hal ini sebagai bagian dari program transisi energi,” ucapnya.
Dengan begitu diharapkan BAMS dapat memberikan solusi manajemen baterai yang efisien serta terjamin.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
12 Januari 2026, 10:00 WIB
10 Januari 2026, 15:00 WIB
07 Januari 2026, 18:00 WIB
07 Januari 2026, 16:00 WIB
07 Januari 2026, 10:00 WIB
Terkini
16 Januari 2026, 07:00 WIB
Aprilia Racing jadi tim MotoGP ketiga yang merilis motor balap baru Marco Bezzecchi dan Jorge Martin
16 Januari 2026, 06:24 WIB
BYD punya sirkuit all-terrain dengan fasilitas lengkap sebagai tempat pengetesan dan pamer ketangguhan New Energy Vehicle atau NEV
16 Januari 2026, 06:00 WIB
Meski ada libur nasional Isra Miraj hari ini, SIM keliling Bandung hadir guna memenuhi kebutuhan pengedara
15 Januari 2026, 19:00 WIB
FIM menetapkan aturan baru terkait prosedur menyalakan motor pasca kecelakaan di tengah balapan MotoGP
15 Januari 2026, 17:00 WIB
Valentino Rossi percaya Desmosedici milik Ducati masih akan kompetitif usai peraturan MotoGP 2027 dijalankan
15 Januari 2026, 16:00 WIB
Insiden mobil listrik terbakar tidak semata-mata disebabkan oleh baterai, berikut analisa EVSafe Indonesia
15 Januari 2026, 15:00 WIB
Menurut informasi yang dihimpun, Toyota Innova Zenix paling murah dipasarkan dengan banderol Rp 437,3 jutaan
15 Januari 2026, 14:00 WIB
Harga Hyundai Ioniq 5 langsung terkerek tinggi dibandingkan tahun lalu, sehingga bisa memberatkan konsumen