Desain BYD Atto 3 Facelift Terdaftar di Indonesia, Makin Sporti
26 Maret 2026, 13:00 WIB
Meningkatnya harga BBM karena perang Iran, mendorong masyarakat beralih menggunakan mobil listrik saat ini
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Perang di Timur Tengah masih berkecamuk. Situasi ini mulai membawa efek domino bagi negara di belahan dunia lain.
Apalagi setelah Iran memilih menutup jalur perdagangan strategis dunia, yakni Selat Hormuz dari lalu lintas kapal.
Alhasil distribusi minyak mentah pun terhenti. Membuat beberapa negara mulai mengalami krisis BBM.
Selain itu harga BBM di sejumlah negara turut melambung cukup tinggi. Sehingga para pemilik mobil dan motor kian terhimpit.
"Penutupan Selat Hormuz dapat memberikan perubahan besar bagi pasar mobil listrik," ungkap David Brown, Direktur Penelitian Transisi Energi diWood Mackenzie, seperti dikutip dari South China Morning Post pada Kamis (26/03).
Menurut Brown, kenaikan harga BBM mampu mendorong masyarakat beralih menggunakan kendaraan roda empat listrik.
Sehingga konsumen dapat menghemat pengeluaran, terutama untuk membeli bahan bakar kendaraan.
Bila dilihat lebih jauh, maka ini menjadi kesempatan bagi BYD dan sejumlah merek EV Cina global untuk memanfaatkan kesempatan yang ada.
Para jenama asal Cina tersebut dapat menggoda banyak konsumen di seluruh belahan dunia, lalu meraup keuntungan lebih besar.
Hal senada turut dilaporkan oleh CNN, mereka menyebut bahwa mobil listrik asal Tiongkok akan semakin digandrungi.
"Ada potensi bagi merek-merek Tiongkok untuk menembus pasar Asia secara besar-besaran berkat kenaikan harga bensin," tutur Tu Le, Direktur Pelaksana di Sino Auto Insights.
Dengan kondisi yang ada sekarang, BYD dan kawan-kawan diharapkan dapat memanfaatkan peluang secara maksimal.
Apalagi pasar mobil listrik domestik mereka tengah mengalami kelesuan akibat adanya revisi insentif yang diberikan oleh pemerintah.
Jadi seluruh produsen kendaraan roda empat di Tiongkok, diperkirakan bakal membanjiri pasar ekspor.
Ditambah ekspor mobil listrik Cina tanpa dampak perang Iran, diprediksi melonjak melampaui 50 persen atau menjadi 3,7 juta unit pada 2026.
“Pasar otomotif menghadapi tekanan pertumbuhan yang luar biasa pada 2026,” tutur Cui Dongshu, Sekretaris Jenderal China Passenger Car Association (CPCA) dalam kesempatan berbeda.
Melihat berbagai fakta di atas, bukan tidak mungkin ekspor EV asal Negeri Tirai Bambu bakal melesat dari angka perkiraan.
Menjadi sebuah berkah bagi BYD, Chery maupun Geely guna mendapatkan banyak keuntungan imbas perang Iran, Amerika Serika serta Israel.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
26 Maret 2026, 13:00 WIB
26 Maret 2026, 11:00 WIB
20 Maret 2026, 13:31 WIB
16 Maret 2026, 11:00 WIB
16 Maret 2026, 09:00 WIB
Terkini
26 Maret 2026, 17:00 WIB
Mitsubishi Xpander Hybrid facelift resmi meluncur di Thailand dengan beragam ubahan dari sisi teknologi dan fitur
26 Maret 2026, 15:00 WIB
Kepolisian ungkap masih banyak pemudik belum kembali ke Jakarta yang berpotensi sebabkan kemacetan di akhir pekan
26 Maret 2026, 13:00 WIB
Desain mobil identik dengan BYD Atto 3 Facelift terdaftar di laman DJKI, ada sejumlah ubahan eksterior
26 Maret 2026, 11:00 WIB
Kebijakan WFH yang akan dijalankan disebut bisa mengurangi konsumsi BBM hingga 20 persen di tengah perang Iran
26 Maret 2026, 09:00 WIB
Kepolisian akhirnya resmi hentikan operasi Ketupat 2026 yang sudah dilaksanakan selama 13 tanpa henti
26 Maret 2026, 07:00 WIB
Sekitar 60 ribu unit SUV Hyundai Palisade ditarik kembali atau recall karena ada kendala pada power seat
26 Maret 2026, 06:00 WIB
Aturan ganjil genap Jakarta tetap diberlakukan meski pemerintah tengah menerapkan Work From Anywhere
26 Maret 2026, 06:00 WIB
Ada lima lokasi SIM keliling Jakarta yang beroperasi hari ini, simak persyaratan dan biaya untuk mendapatkannya