Diminati, BAIC T1 Akan Diproduksi di Purwakarta Akhir Tahun
19 Agustus 2026, 09:00 WIB
Meningkatnya harga BBM karena perang Iran, mendorong masyarakat beralih menggunakan mobil listrik saat ini
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Perang di Timur Tengah masih berkecamuk. Situasi ini mulai membawa efek domino bagi negara di belahan dunia lain.
Apalagi setelah Iran memilih menutup jalur perdagangan strategis dunia, yakni Selat Hormuz dari lalu lintas kapal.
Alhasil distribusi minyak mentah pun terhenti. Membuat beberapa negara mulai mengalami krisis BBM.
Selain itu harga BBM di sejumlah negara turut melambung cukup tinggi. Sehingga para pemilik mobil dan motor kian terhimpit.
"Penutupan Selat Hormuz dapat memberikan perubahan besar bagi pasar mobil listrik," ungkap David Brown, Direktur Penelitian Transisi Energi diWood Mackenzie, seperti dikutip dari South China Morning Post pada Kamis (26/03).
Menurut Brown, kenaikan harga BBM mampu mendorong masyarakat beralih menggunakan kendaraan roda empat listrik.
Sehingga konsumen dapat menghemat pengeluaran, terutama untuk membeli bahan bakar kendaraan.
Bila dilihat lebih jauh, maka ini menjadi kesempatan bagi BYD dan sejumlah merek EV Cina global untuk memanfaatkan kesempatan yang ada.
Para jenama asal Cina tersebut dapat menggoda banyak konsumen di seluruh belahan dunia, lalu meraup keuntungan lebih besar.
Hal senada turut dilaporkan oleh CNN, mereka menyebut bahwa mobil listrik asal Tiongkok akan semakin digandrungi.
"Ada potensi bagi merek-merek Tiongkok untuk menembus pasar Asia secara besar-besaran berkat kenaikan harga bensin," tutur Tu Le, Direktur Pelaksana di Sino Auto Insights.
Dengan kondisi yang ada sekarang, BYD dan kawan-kawan diharapkan dapat memanfaatkan peluang secara maksimal.
Apalagi pasar mobil listrik domestik mereka tengah mengalami kelesuan akibat adanya revisi insentif yang diberikan oleh pemerintah.
Jadi seluruh produsen kendaraan roda empat di Tiongkok, diperkirakan bakal membanjiri pasar ekspor.
Ditambah ekspor mobil listrik Cina tanpa dampak perang Iran, diprediksi melonjak melampaui 50 persen atau menjadi 3,7 juta unit pada 2026.
“Pasar otomotif menghadapi tekanan pertumbuhan yang luar biasa pada 2026,” tutur Cui Dongshu, Sekretaris Jenderal China Passenger Car Association (CPCA) dalam kesempatan berbeda.
Melihat berbagai fakta di atas, bukan tidak mungkin ekspor EV asal Negeri Tirai Bambu bakal melesat dari angka perkiraan.
Menjadi sebuah berkah bagi BYD, Chery maupun Geely guna mendapatkan banyak keuntungan imbas perang Iran, Amerika Serika serta Israel.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
19 Agustus 2026, 09:00 WIB
18 Agustus 2026, 14:00 WIB
18 Agustus 2026, 09:00 WIB
16 Agustus 2026, 09:00 WIB
15 Agustus 2026, 20:53 WIB
Terkini
19 Agustus 2026, 17:30 WIB
OLXmobbi mengklaim bahwa selama pameran GIIAS 2026, penjualan mobil bekas meningkat dibandingkan tahun lalu
19 Agustus 2026, 15:12 WIB
Wholesales mobil hybrid yang mencakup PHEV dan HEV turun di periode Juli 2026, Toyota masih terlaris
19 Agustus 2026, 11:00 WIB
Saat ini insentif motor listrik belum dicairkan kepada masyarakat karena masih menunggu penerbitan PMK
19 Agustus 2026, 09:00 WIB
Menurut rencana mobil listrik BAIC T1 akan diproduksi di Purwakarta dengan memanfaatkan fasilitas Handal
19 Agustus 2026, 06:00 WIB
Seperti biasa, fasilitas SIM keliling Jakarta tersedia di lima lokasi berbeda hari ini 19 Agustus 2026
19 Agustus 2026, 06:00 WIB
Ganjil Genap Jakarta masih menjadi andalan pemerintah Ibu Kota dalam mengurai kemacetan jalan Ibu Kota
19 Agustus 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Bandung menjadi salah satu opsi terbaik buat Anda yang ingin mengurus dokumen berkendara
18 Agustus 2026, 22:30 WIB
Federal Oil sebagai produsen pelumas kendaraan bermotor kembali dipercaya untuk kategori 2-Wheel Engine Lubricants