Hyundai Stargazer Cartenz Jadi Idaman Baru, Penjualan Naik
23 September 2026, 09:00 WIB
Pengamat menilai pemerintah perlu kajian mendalam jika ingin menerapkan asuransi kendaraan TPL di Tanah Air
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Rencana pemerintah ingin menerapkan asuransi kendaraan TPL (Third Party Liability) terus menjadi bahasan hangat. Pro dan kontra pun bermunculan terkait wacana satu ini.
Sejumlah pihak menilai kalau asuransi pihak ketiga pada kendaraan cukup membebani. Apalagi jika melihat kondisi ekonomi Indonesia sekarang.
Banyak masyarakat yang terkena dampak pelemahan ekonomi. Sehingga rencana di atas dirasa belum tepat diterapkan dalam beberapa waktu ke depan.
“Kemudian penjualan kendaraan juga sekarang sedang tertekan. Jadi kebijakan ini perlu dikaji secara mendalam,” ungkap Yannes Martinus Pasaribu, pengamat otomotif sekaligus akademisi ITB (Institut Teknologi Bandung) kepada KatadataOTO, Senin (5/8).
Pengamat tersebut menjelaskan kalau pemerintah harus melihat lebih luas dampak jika asuransi kendaraan TPL diterapkan. Mulai dari sisi politik, ekonomi sampai sosial.
Hal ini agar tidak membebani serta mempersulit masyarakat di Tanah Air. Apalagi bagi warga dengan ekonomi menengah ke bawah ketika ingin membeli kendaraan.
“Libatkan berbagai pihak terkait termasuk akademisi, praktisi asuransi serta perwakilan rakyat. Intinya pemerintah perlu mempertimbangkan berbagai aspek secara matang sebelum memberlakukan kebijakan ini,” tegas Yannes.
Memang sebelumnya Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) meminta pemerintah buat tidak buru-buru menerbitkan aturan wajib asuransi TPL.
Pasalnya kebijakan tersebut membuat sejumlah konsumen mengurungkan niat membeli kendaraan baru. Ditakutkan berimbas ke pasar mobil di Tanah Air.
“Kalau bisa (aturan TPL) jangan diterapkan sekarang lah. Karena penjualan mobil lagi turun, intinya ke situ,” ujar Yohannes Nangoi, Ketua Umum Gaikindo.
Sebagai informasi, Gaikindo mencatat penjualan Wholesales atau dari pabrik ke diler pada semester satu 2024 mengalami penurunan. Hanya berhasil menyentuh angka 408.012 unit.
Angka tersebut terkoreksi 19,4 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu. Sebab di 2023 berhasil mencapai 506.427 mobil.
Kemudian produksi kendaraan roda empat di Tanah Air pun ikut terkena imbasnya. Pada semester satu 2024 hanya ada 561.772 unit.
Turun sekitar 20 persen dibandingkan periode serupa di 2023. Di tahun lalu produksi kendaraan roda empat menyentuh 702.144 mobil.
“Asuransi ini kan Third Party Liability dan semua mobil yang dicicil serta pakai Leasing Company sudah terdaftar asuransi. Masalahnya setelah selesai kredit mereka harus ikut asuransi atau tidak,” Nangoi menutup perkataannya.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
23 September 2026, 09:00 WIB
22 September 2026, 20:01 WIB
17 September 2026, 17:00 WIB
17 September 2026, 15:00 WIB
17 September 2026, 11:00 WIB
Terkini
28 September 2026, 06:00 WIB
Para pengguna mobil pribadi yang hendak melintas jalan protokol Ibu Kota, simak titik Ganjil Genap Jakarta
28 September 2026, 06:00 WIB
Perpanjangan masa berlaku bisa dilakukan dengan mudah di SIM keliling Jakarta, berikut biaya dan lokasinya
28 September 2026, 06:00 WIB
Kepolisian menghadirkan SIM keliling Bandung lagi untuk memudahkan masyarakat mengurus dokumen berkendara
27 September 2026, 23:38 WIB
Dengan pengalaman selama tiga dekade, Suzuki memberikan tampilan baru salah satu diler mereka di Pulo Gadung
27 September 2026, 22:55 WIB
Meskipun terlahir dengan DNA yang sama yakni SUV tangguh, namun kedua kendaraan memiliki karakter berbeda
27 September 2026, 21:23 WIB
SUV legendaris Mitsubishi yakni All-new Pajero kembali hadir, mobil ini mendapat respon baik di Indonesia
27 September 2026, 20:20 WIB
Pada bulan ini harga motor matic 150 cc tidak mengalami kenaikan, jadi kesempatan buat Anda membeli kendaraan
27 September 2026, 19:45 WIB
Kontes modifikasi Customaxi 2026 Yamaha digelar di Bandung, Jawa Barat karena memiliki daya tarik tersendiri