Gaikindo Tanggapi Kesulitan Neta Bertahan di Pasar RI
16 Februari 2026, 11:00 WIB
Sejumlah mobil listrik yang diimpor utuh masih memperoleh insentif, namun hanya sampai Desember 2025
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Sejumlah produk mobil listrik impor yang memenuhi persyaratan berhak menerima insentif dari pemerintah. Sehingga bisa dijual dengan harga kompetitif.
Subsidi pajak tersebut sekarang dinikmati oleh beberapa merek yakni BYD, GAC Aion, Geely sampai Citroen.
Insentif memang terbukti jadi daya tarik buat para konsumen. BYD sebagai pendatang baru mampu mencatatkan penjualan memuaskan sepanjang 2025 berkat bantuan itu.
Hanya saja per 2026 BYD sudah harus mulai melakukan perakitan lokal dan mengantongi Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 40 persen.
Sayangnya hingga saat ini BYD disebut belum menemui kesepakatan dengan penyedia komponen otomotif lokal.
Pengamat menilai jika tahun depan para penerima insentif mobil listrik impor tidak memenuhi persyaratan, maka seluruh produk itu dapat dikenakan beban biaya impor dan pajak penuh.
“Sehingga harga on the road-nya melonjak. Di Indonesia, mayoritas volume (penjualan) berada di bawah Rp 500 juta dan sangat price-sensitive,” kata Josua Pardede, Chief Economist Permata Bank kepada KatadataOTO belum lama ini.
Sebagai contoh, salah satu produk terlaris BYD adalah Multi Purpose Vehicle (MPV) M6, dilego Rp 300 jutaan sampai Rp 400 jutaan.
Mayoritas mobil listrik Cina menggunakan baterai LFP yang diklaim menjadi salah satu kunci di balik harga kompetitif. Sebab banderolnya lebih murah dibandingkan baterai bermaterial lithium-ion.
Hilangnya insentif berpeluang membuat masyarakat enggan membeli karena harga berada di luar jangkauan, tidak sekompetitif saat masih mendapatkan potongan pajak.
“Ini berpotensi memicu substitusi balik ke Hybrid Electric Vehicle (HEV/mobil hybrid) atau Internal Combustion Engine (ICE/mobil bensin),” lanjut dia.
Dia menyorot tanpa adanya transisi, penjualan mobil listrik yang saat ini menunjukkan tren positif berpeluang turun tajam tahun depan apabila merek terkait belum melakukan perakitan lokal.
Sebagai informasi, pada periode Januari-Juli 2025 wholesales (penyaluran dari pabrik ke diler) mobil listrik tembus 42.178 unit.
Jika dibandingkan, angka itu nyaris mendekati jumlah wholesales mobil listrik Januari-Desember 2024 yakni 43.188 unit.
BYD masih menempati posisi pertama. Per Juli 2025, wholesales-nya adalah 16.427 unit mencakup berbagai model mencakup Seal, Dolphin, Atto 3 sampai M6, sementara Denza 6.256 unit.
Tanpa ada insentif, jika dihitung secara kasar harga on the road mobil listrik impor bisa naik ratusan juta.
Misalnya BYD Atto 1 yang ditawarkan Rp 195 jutaan ke atas. Dibebankan biaya bea masuk 50 persen maka ada peluang banderol Atto 1 tembus Rp 367,5 jutaan.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
16 Februari 2026, 11:00 WIB
15 Februari 2026, 19:00 WIB
15 Februari 2026, 16:00 WIB
15 Februari 2026, 10:00 WIB
14 Februari 2026, 20:24 WIB
Terkini
16 Februari 2026, 11:00 WIB
DFSK Indonesia siapkan model baru di pertengahan 2026 untuk menjangkau pasar yang lebih luas dibanding sekarang
16 Februari 2026, 11:00 WIB
Per Januari 2026 wholesales dan retail sales Neta nol unit, tidak ada rencana peluncuran produk baru
16 Februari 2026, 09:00 WIB
Penjualan LCGC Daihatsu di Indonesia tergerus karena sejumlah faktor yang termasuk yang mempengaruhi
16 Februari 2026, 07:00 WIB
Jetour T2 PHEV dipastikan akan meluncur dan dipasarkan ke konsumen di Indonesia pada semester kedua tahun ini
16 Februari 2026, 06:09 WIB
Perpanjangan masa berlaku SIM dapat dilakukan di layanan SIM keliling Jakarta hari ini, simak informasinya
16 Februari 2026, 06:08 WIB
Kepolisian tetap menghadirkan layanan SIM keliling Bandung agar masyarakat dapat mengurus dokumen berkendara
16 Februari 2026, 06:00 WIB
Ganjil genap Jakarta ditiadakan dua hari untuk menyambut libur Imlek yang berlangsung hari ini dan besok.
15 Februari 2026, 21:30 WIB
Ipone meluncurkan berbagai produk terbaru dan sejumlah games selama pameran otomotif IIMS 2026 berlangsung