Periklindo Sebut Kendaraan Niaga Listrik Juga Butuh Insentif
26 Oktober 2026, 11:00 WIB
Muncul wacana insentif mobil hybrid, realisasinya berpeluang menambah angka penjualan lini kendaraan HEV
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Insentif mobil hybrid menjadi salah satu faktor yang dapat berperan penting dalam mendorong penjualan kendaraan. Hal ini terbukti pada subsidi mobil listrik beberapa tahun lalu.
Dengan adanya insentif, harga jual mobil hybrid bisa ditekan. Namun ada usulan lain dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) agar lebih banyak keuntungan diberikan.
Misalnya, mobil hybrid bisa ikut terbebas dari kebijakan ganjil genap. Ini merupakan insentif nonfiskal yang telah diberikan pada mobil listrik.
Kemudian ketersediaan lahan parkir yang lebih banyak dan mudah diakses oleh para pengguna mobil hybrid.
Lalu insentif juga diberlakukan tak hanya untuk mobil hybrid konvensional, tetapi juga Plug-in Hybrid (PHEV) dan Range-Extender (REEV).
Pengamat menilai apabila diterapkan, dampaknya mungkin memang tidak akan semasif yang terjadi di mobil listrik.
“Karena tanpa insentif barupun, wholesales HEV sudah tumbuh sekitar 42 persen jadi hampir 66 ribu unit hingga September 2026,” kata Yannes Martinus Pasaribu, pengamat otomotif dan akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) kepada KatadataOTO belum lama ini.
Ia menegaskan, apabila insentif yang diberikan signifikan maka ini bisa efektif menjadi jembatan transisi buat konsumen jika ingin beralih ke mobil hybrid.
“Efektivitasnya akan optimal, bila insentif ini benar-benar menarik konsumen mobil bensin untuk beralih ke kendaraan elektrifikasi. Bukan justru menggeser calon pembeli BEV ke hybrid,” tegas dia.
Yannes mengungkapkan, insentif lebih berpotensi menambah pertumbuhan penjualan mobil hybrid saat ini alih-alih memicu lonjakan baru.
Bicara soal dampaknya terhadap REEV, Yannes mengatakan saat ini REEV masih berada di tahap yang sangat awal di Indonesia.
Teknologi ini tergolong baru, modelnya masih terbatas sehingga volumenya belum akan signifikan.
“Sehingga insentif untuk REEV sendiri lebih berfungsi menyiapkan pasar ke depan daripada mendongkrak penjualan dalam waktu dekat,” kata Yannes.
Hanya saja pemerintah perlu segera memastikan juknis (petunjuk teknis) maupun juklak (petunjuk pelaksanaan) insentif mobil hybrid. Sebab wacana yang tak kunjung terealisasi dapat membuat sejumlah konsumen melakukan penundaan.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
26 Oktober 2026, 11:00 WIB
22 Oktober 2026, 09:00 WIB
21 Oktober 2026, 22:50 WIB
21 Oktober 2026, 11:00 WIB
19 Oktober 2026, 10:11 WIB
Terkini
28 Oktober 2026, 07:00 WIB
Kepolisian coba mengantisipasi penumpukan kendaraan di sejumlah titik saat ada Demo Mahasiswa 28 Oktober 2026
27 Oktober 2026, 21:00 WIB
Sejumlah pembalap disebut menolak untuk melakoni MotoGP Qatar 2026 pekan depan karena masalah keamanan
27 Oktober 2026, 18:59 WIB
Marquez memiliki peluang besar untuk menjadi pemenang dan mendulang poin sempurna di MotoGP Malaysia 2026
27 Oktober 2026, 13:00 WIB
Try Mandala Putra menjadi konsumen yang berhasil memenangkan hadiah utama Daihatsu Mid Year Surprise Deals
27 Oktober 2026, 11:00 WIB
Piaggio Indonesia menawarkan banyak model Vespa matic, sesuai dengan kebutuhan dan minat para konsumen
27 Oktober 2026, 09:00 WIB
Setelah Phillip Island MotoGP Australia akan beralih ke Adelaide Circuit, trek jalan raya alias street circuit
27 Oktober 2026, 07:00 WIB
Kia Carens EV dibuka keran pemesanannya dan prediksi harganya mulai dari Rp 300 jutaan hingga Rp 400 jutaan
26 Oktober 2026, 17:17 WIB
PT CSI mulai melakukan distribusi mobil listrik Chery Q, tuai respons positif sejak debutnya di GIIAS 2026