Honda Sebut EV Murah Belum Bisa Gantikan Peran LCGC
22 September 2026, 13:00 WIB
Honda gandeng GS Yuasa bangun pabrik baterai untuk kendaraan listrik senilai Rp43 triliun guna kejar ketertinggalan
Oleh Adi Hidayat
TRENOTO – Honda gandeng GS Yuasa Corp untuk bekerja sama dalam mengembangkan dan memproduksi baterai mobil listrik. Langkah ini diharapkan bisa membantu perusahaan otomotif asal Jepang tersebut agar menjadi salah satu pemain utama di segmen kendaraan elektrifikasi.
Tak tanggung-tanggung, mereka menggelontorkan dana sebesar 400 miliar Yen atau setara Rp43.3 triliun. Jumlah tersebut digunakan untuk membangun pabruk baru di Jepang yang ditargetkan mampu memproduksi setidaknya 20 gigawatt hours (GWh).
Sebuah perusahaan gabungan yang diumumkan sejak Januari 2023 akan menjadi pemain utama untuk mengembangkan serta mengelola insvestasi. Langkah ini diharapkan bisa mendorong Honda dan pabrikan mobil Jepang lain membuat EV di masa depan.
Terlebih Kementerian Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang menegaskan siap memberi subsidi sebesar 150 miliar yen atau Rp16.1 triliun guna pembangunan pabrik. Sayangnya mereka tidak menjelaskan secara terperinci apakah subsidi tersebut bisa digunakan untuk apa saja.
Sebelumnya diberitakan bahwa Honda telah mengakui bahwa pihaknya tertinggal oleh pabrikan mobil asal China dalam mengembangkan kendaraan listrik. Oleh karena itu sejumlah strategi akan dilakukan guna mengejar ketertinggalannya.
“Mereka berada di depan, lebih dari yang diperkirakan. Cara melawan balik sedang dipikirkan karena bila tidak maka kami akan kalah dari kompetisi ini,” Toshihiro Mibe, CEO Honda.
Ia pun menegaskan bahwa pihaknya hendak meluncurkan beragam model baru, memperbaiki ketahanan baterai, mengembangkan teknologi perangkat lunak hingga mendesain ulang kabin kendaraan. Selain itu ia juga berambisi membangun fasilitas produksi khusus mobil listrik.
Ketegasan tersebut disampaikan setelah dirinya melihat Shanghai Auto Show 2023 yang dipenuhi oleh merek lokal dengan beragam EV canggih. Hal ini merupakan sebuah pukulan keras bagi Honda serta pabrikan Jepang lain.
Padahal Honda telah berambisi menghentikan produksi pembakaran internal pada 2040. Di tahun tersebut mereka akan fokus memasarkan kendaraan listrik hingga hidrogen yang dikenal ramah lingkungan.
Mereka juga berencana meningkatkan kapasitas produksi agar bisa menjual setidaknya 2 juta unit kendaraan listrik dan Feul Cell secara global di 2030. Sedangkan mobil bermesin bensin serta hybrid tetap dijual namun keuntungannya digunakan untuk pengembangan teknologi masa depan.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
22 September 2026, 13:00 WIB
22 September 2026, 07:00 WIB
21 September 2026, 11:16 WIB
20 September 2026, 21:41 WIB
19 September 2026, 21:00 WIB
Terkini
23 September 2026, 09:00 WIB
Hyundai Stargazer Cartenz diklaim mendapat sambutan positif usai HMID menerapkan strategi baru di Indonesia
23 September 2026, 07:00 WIB
Carro resmi rambah bisnis mobil baru, kolaborasi dengan Omoda Jaecoo dan buka diler pertama di Harapan Indah
23 September 2026, 06:00 WIB
SIM keliling Bandung bisa menjadi salah satu opsi terbaik dalam mengurus dokumen berkendara berbentuk kartu
23 September 2026, 06:00 WIB
Lima lokasi SIM keliling Jakarta tersedia hari ini, layani perpanjangan masa berlaku SIM yang belum kedaluwarsa
22 September 2026, 21:27 WIB
Pameran IMHAX berhasil mencatatkan rekor baru dalam hal penjualan maupun pengunjung yang datang langsung
22 September 2026, 20:01 WIB
Salah satu pameran otomotif, yakni Gaikindo Auto Week (GAW 2026) akan berlangsung pada akhir November
22 September 2026, 13:00 WIB
Honda meyakini LCGC punya pasarnya sendiri terkhusus untuk pembeli mobil pertama, belum tergantikan EV murah
22 September 2026, 11:35 WIB
Changan mencatatkan penjualan retail 305 unit sepanjang periode 2026, masih berusaha naik di Agustus 2026