Wholesales Motor Baru Bertumbuh 1,6 Persen di Februari 2026
09 Maret 2026, 17:00 WIB
Menggunakan oli palsu bisa merusak berbagai komponen mesin motor, sehingga berujung merugikan konsumen
Oleh Denny Basudewa
KatadataOTO – Pasar oli di Indonesia masih dihantui produk palsu. Hal ini tentunya merugikan konsumen, terutama para pengguna kendaraan bermotor.
Oli palsu secara umum dibuat tidak sesuai dengan spesifikasi pabrikan. Mulai dari kandungan base oil hingga aditif yang disematkan tidak diketahui takaran asli.
Lebih jauh peredaran oli palsu semakin merajalela di Tanah Air. Bahkan jumlah pelumas palsu cukup besar.
“Di Indonesia oli palsu kalau berdasarkan hasil survei kita sudah mencapai 30 persen kurang lebih. Itu untuk semua brand khususnya untuk sepeda motor,” ucap Novianto Kurniawan, Manager Part Operation Division PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) di Jakarta (17/12).
Bahkan pembuat oli palsu kerap dilakoni oleh industri rumahan. Tidak jarang material dasarnya menggunakan pelumas bekas pakai.
Oleh karena itu Yamaha Indonesia semakin menggencarkan kampanye memberantas pelumas palsu.
Ia menjelaskan jika pembuatan oli dimulai dari base oil yang terdiri dari mineral dan full sintetis. Lalu untuk mendapatkan pelumas semi sintetis, didapatkan dari campuran mineral dan full sintetis.
Kemudian proses pembuatan pelumas terdapat penambahan aditif 10 sampai 20 persen.
“Harus ada unsur aditifnya, karena kalau hanya base oil sekadar melumasi. Tidak bisa tahan lama dan juga melindungi dari penguapan,” ujar Novianto.
Dikatakan jika penggunaan oli mesin pasti terjadi penguapan. Hal tersebut memungkinkan terjadi dikarenakan adanya panas dari jantung pacu.
Kemudian adapula kemungkinan pelumas tercampur dengan BBM (Bahan Bakar Minyak). Sehingga bisa mengurangi kualitas oli.
Oleh karena itu dirinya menyarankan konsumen untuk melakukan penggantian secara berkala atau teratur.
Oli baru yang disematkan pada mesin bakar, kualitas produk akan menurunkan seiring pemakaian kendaraan.
Pelumas pada mesin harus bisa melumasi dan melindungi berbagai komponen. Sehingga dapur pacu menjadi lebih awet.
Dikarenakan pelumas bekerja keras untuk melindungi, melumasi dan masih banyak lagi. Lalu memasuki fase tertentu, disebutkan sudah masuk titik akhir untuk harus diganti.
“Oli hitam itu sebenarnya belum tentu jelek. Karena dia bekerja untuk melumasi. Paling penting adalah timing ganti olinya,” jelas Novianto.
Interval penggantian pelumas mengacu pada buku servis. Hal tersebut untuk mencegah risiko seperti disebutkan di atas.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
09 Maret 2026, 17:00 WIB
03 Maret 2026, 07:24 WIB
02 Maret 2026, 10:00 WIB
01 Maret 2026, 10:00 WIB
28 Februari 2026, 09:28 WIB
Terkini
17 Maret 2026, 19:00 WIB
Pasar mobil LCGC alami peningkatan sampai 6,7 persen pada Februari 2026 jika dibandingkan dengan awal tahun
17 Maret 2026, 17:00 WIB
Masyarakat diimbau untuk mengatur waktu keberangkatan mudik Lebaran 2026 agar tidak terjebak macet panjang
17 Maret 2026, 15:50 WIB
Piaggio berikan penyegaran pada lima model Vespa andalan, mesin jadi 180 cc ditambah ubahan desain dan warna
17 Maret 2026, 13:00 WIB
Jelang Lebaran 28 persen kendaraan di Jakarta diklaim mulai bergerak meninggalkan Ibu Kota buat mudik
17 Maret 2026, 11:00 WIB
Terdapat beberapa kelebihan pada Mitsubishi Destinator yang memberikan kenyamanan bagi seluruh keluarga
17 Maret 2026, 09:00 WIB
Ada etika berkendara yang patut jadi perhatian seluruh pengguna mobil, termasuk di area parkir sekalipun
17 Maret 2026, 07:00 WIB
Deretan mobil mewah di Indonesia mencatatkan hasil penjualan retail yang positif sepanjang Februari 2026
17 Maret 2026, 06:00 WIB
Sebelum mudik Lebaran 2026, Anda bisa mengunjungi SIM keliling Bandung untuk mengurus dokumen berkendara