Produsen Mobil Cina Catat Pendapatan Rp 26 Triliun, BYD Terbanyak
28 Januari 2026, 15:00 WIB
Tarif impor akan naik dari 25 persen jadi 100 persen, mobil listrik China semakin dipersulit masuk AS
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Belum lama ini pemerintahan Amerika Serikat meresahkan kehadiran mobil listrik China yang berpotensi mengganggu industri otomotif dalam negeri.
Imbas hal tersebut, Sherrod Brown, Ketua Komite Perbankan Senat AS mengatakan bahwa mobil listrik China merupakan ancaman eksistensi industri terkait di Amerika.
Ia bahkan sempat menyarankan Presiden untuk tidak sekadar berlakukan tarif, tapi melarang sepenuhnya mobil listrik China dijual di pasar Amerika.
“Amerika harus melarang mobil listrik China sekarang dan menghentikan masifnya mobil subsidi pemerintah China yang dapat mengancam lapangan pekerjaan otomotif Ohio serta keamanan negara,” tegas Brown dalam suratnya kepada Presiden Joe Biden.
Terbarunya, AS resmi akan berlakukan tarif impor baru buat mobil listrik China ditambah pajak untuk komponen lain seperti semikonduktor. Menurut sejumlah sumber internal kebijakan itu bakal diterapkan pekan ini.
Untuk diketahui tarif impor mobil listrik China naik jadi 100 persen, sebelumnya di angka 25 persen.
Apabila tarif ataupun larangan nanti resmi diberlakukan, artinya kompetitor kuat Tesla seperti BYD dan Geely tidak bisa ekspansi ke pasar otomotif AS.
Selain mengganggu pasar, pihak pemerintahan AS yakin mobil listrik China dengan teknologi mumpuni bisa mengakses data personal dan berpotensi membahayakan keamanan nasional.
Hal tersebut menuai beragam reaksi. Wu Shuocheng, pengamat industri otomotif China mengungkapkan tindakan itu adalah cerminan politisasi ekstrem masalah perdagangan AS dengan Tiongkok.
Ia menegaskan kebijakan tarif maupun larangan merupakan distorsi terhadap persaingan sehat.
“Tidak masuk akal kalau bilang kendaraan buatan China punya risiko ganggu keamanan nasional, karena jumlah mobil China yang diimpor ke AS terbatas,” ucap Shuocheng dilansir dari The Street, Senin (13/5).
Sementara itu, Lin Jian, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China meminta AS untuk tidak menahan pertumbuhan ekonomi Tiongkok.
“(Kebijakan itu) hanya akan menggoyahkan industri global dan rantai suplai, mengganggu tatanan perdagangan internasional dan berakhir merugikan kepentingan sendiri,” tegas Lin Jian.
Tidak terbatas pada kendaraan listrik saja, dikabarkan tarif impor tambahan akan berlaku untuk komponen energi bersih lain seperti solar panel dan sejumlah mineral.
Ini menjadi respon terhadap laporan bahwa China berencana membanjiri pasar global dengan produk harga terjangkau.
Pemberlakuan tarif terkhusus untuk mobil listrik China yang murah diprediksi bakal berkontribusi dalam penurunan penjualan secara keseluruhan.
Kemudian memperlambat upaya dan komitmen presiden terhadap pengurangan emisi karbon pada penggunaan transportasi.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
28 Januari 2026, 15:00 WIB
27 Januari 2026, 13:00 WIB
27 Januari 2026, 12:10 WIB
27 Januari 2026, 07:00 WIB
26 Januari 2026, 17:01 WIB
Terkini
28 Januari 2026, 20:00 WIB
Toyota mengunggah bocoran mobil terbaru mereka, siluet SUV berukuran besar diyakini versi produksi dari bZ5X
28 Januari 2026, 19:00 WIB
Yamaha akan segera menjajal motor balap dengan mesin V4 berkubikasi 850 cc untuk berlaga di MotoGP 2027
28 Januari 2026, 18:00 WIB
Astra UD Trucks akan melakukan perawatan armada PT Pertamina Patra Niaga di berbagai wilayah strategis
28 Januari 2026, 17:00 WIB
Audi enggan mengikuti tren-tren mobil baru yang mengusung layar infotaiment dan panel meter berukuran besar
28 Januari 2026, 16:01 WIB
Jaecoo Indonesia terus berinovasi dengan menghadirkan sejumlah layanan, terbaru mereka membuka diler di Serpong
28 Januari 2026, 15:00 WIB
BYD sukses menjadi produsen mobil Cina paling laris pada 2025 usai membukukan penjualan sampai 4,6 juta unit
28 Januari 2026, 14:00 WIB
Lepas L8 bakal bersaing dengan semakin banyak merek mobil Cina yang akan debut di Indonesia tahun ini
28 Januari 2026, 13:00 WIB
One way dan contraflow masih menjadi andalan kepolisian dalam memperlancar arus lalu lintas mudik Lebaran 2026