Tren Baru Mobil Listrik, Dimensi Kompak dan Berlimpah Fitur
26 Mei 2026, 19:13 WIB
Sebuah studi dari J.D. Power ungkap keluhan konsumen bahwa kualitas mobil listrik China menurun sejak 2023
Oleh Serafina Ophelia
EREV merupakan salah satu jenis kendaraan yang terbilang cukup populer di Tiongkok. Cara kerjanya mirip mobil hybrid, dibekali generator untuk mengisi daya baterai.
Hal itu membuatnya diklaim unggul ketimbang PHEV karena tidak butuh charging kemudian konsumsi bahan bakar serta emisi gas buang jauh lebih baik.
Mesin bensin disematkan pada mobil EREV berfungsi sebagai Booster. Komponen elektrik lain membantu kendaraan bekerja ketika membawa beban berat.
Mudahnya ini merupakan kebalikan dari Mild Hybrid di mana teknologi tersebut justru menjadi Booster buat mesin bensin. Sedangkan pada HEV biasa, sistem hybrid bekerja menggantikan mesin ketika kendaraan melaju dalam kecepatan tertentu.
Di 2024, kualitas EREV memimpin karena beragam faktor termasuk performa mesin yang baik serta fitur pintar di dalamnya.
Kendala terkait Driving Assistance ini mencakup kamera mundur atau kamera parkir memiliki resolusi rendah, lensa mudah kotor dan peringatan radar atau sensor terlalu keras.
Sedangkan bicara Infotainment masalah ada di Voice Recognition tidak akurat, layar sentuh tidak responsif serta navigasi tidak akurat.
Aroma kabin tidak baik dan kabin kurang kedap merupakan dua kendala yang paling sering ditemukan, bahkan selalu ada selama enam tahun berturut-turut.
Namun apabila dibandingkan tahun lalu angkanya justru berkurang masing-masing 2,2 PP100 dan 1,8 PP100.
Generasi muda kelahiran setelah 1995 banyak merasa senang dengan desain kendaraan. Namun kepuasan terhadap kualitas mobil justru berkurang, poin utamanya yakni kendali setir, grip ban mobil sampai pengaturan suspensi.
Saat ini kehadiran mobil listrik China semakin marak di Indonesia. Bermula dari Wuling Air ev sampai kemudian BYD yang bawa tiga model tahun ini, konsumen disuguhkan beragam pilihan dengan harga mulai Rp 200 jutaan.
Bukan rahasia bahwa masih ada konsumen meragukan kualitas mobil buatan China karena pengalaman di masa lampau. Namun sejauh ini para produsen mampu membuktikan ketahanannya.
Banyak manufaktur menjanjikan jaminan seperti garansi komponen baterai berlaku seumur hidup guna menambah ketenangan konsumen.
Kemudian komitmen mendirikan diler berstatus 3S (Sales, Services, Sparepart) sehingga kendala mobil listrik China bisa ditangani dengan mudah.
Sebagai informasi, responden studi ini adalah 9.791 pemilik BEV, PHEV atau EREV yang membeli periode Juli 2023-Januari 2024. Sampelnya 105 model dari 48 merek, sementara studi dilakukan mulai Desember 2023 sampai Maret 2024 di 81 kota di China.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
26 Mei 2026, 19:13 WIB
25 Mei 2026, 09:00 WIB
24 Mei 2026, 19:00 WIB
24 Mei 2026, 15:13 WIB
22 Mei 2026, 11:00 WIB
Terkini
26 Mei 2026, 21:00 WIB
Tiga wanita binaan Rifat Sungkar akan membela Simpati Woman Rally Team dalam berkompetisi di ajang nasional
26 Mei 2026, 20:30 WIB
GIIAS 2026 siap digelar akhir Juli mendatang dengan menampilkan 6 merek baru dari berbagai jenis kendaraan
26 Mei 2026, 19:45 WIB
Etape kelima Maxi Tour Boemi Nusantara 2026 terasa spesial karena menyuguhkan keindahan alam selatan Jawa
26 Mei 2026, 19:13 WIB
Mobil listrik di Indonesia mengalami pergeseran tren dari sebelumnya, kini banyak orang mencari EV kompak
26 Mei 2026, 18:56 WIB
Dalam penyelenggaraan ketiga ini, Mix Matic Day 2026 berhasil diikuti hingga 248 motor dari berbagai daerah
26 Mei 2026, 15:38 WIB
Yamaha NMAX Turbo memiliki sejumlah fitur andalan yang jadi daya tarik tersendiri bagi para penggunanya
26 Mei 2026, 15:37 WIB
Skutik Yamaha NMAX ramaikan Mangkunegaran Run 2026 yang berlangsung di Solo, jadi opsi mobilitas pilihan
26 Mei 2026, 11:00 WIB
Jetour T1 i-DM bakal mengisi segmen di bawah T2 yang sudah dijual di Indonesia, jadi PHEV perdana Jetour