Proses Ekspor Toyota Terhambat Imbas Perang Iran dan Amerika
09 Maret 2026, 07:14 WIB
Ada berbagai upaya yang bisa dipilih pemerintah Indonesia untuk mengantisipasi kenaikan harga BBM di Tanah Air
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Memanasnya hubungan antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi membawa dampak negatif. Terutama bagi harga minyak mentah dunia.
Jika hal tersebut sampai terjadi, maka banderol bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah negara, termasuk Indonesia akan terkerek.
Untuk itu pemerintah Indonesia harus mengantisipasi situasi ini. Hal tersebut agar para pengendara di dalam negeri tetap bisa membeli BBM dengan harga terjangkau.
“Nampaknya pemerintah perlu memperkuat koordinasi fiskal dan moneter guna menjaga stabilitas ekonomi makro kita,” ucap Yannes Martinus Pasaribu, pengamat otomotif serta akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) kepada KatadataOTO beberapa waktu lalu.
Yannes menjelaskan bahwa penyesuaian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga harus dilakukan.
Sehingga dapat mengantisipasi pembengkakan subsidi BBM di Tanah Air pada 2026, imbas konflik Amerika Serikat serta Iran.
“Sambil menahan penyesuaian harga BBM subsidi selama harga minyak global masih di bawah 100 dolar Amerika Serikat per barel,” lanjut dia.
Dengan begitu dampak dari gejolak di Timur Tengah, tidak langsung membebani masyarakat atau pengendara di Tanah Air.
Selain itu, kondisi tersebut juga tidak membawa dampak negatif bagi perekonomian negara. Sebab beberapa waktu belakangan situasinya memang sedang tidak stabil.
“Lalu segera percepat diversifikasi sumber pasokan minyak dengan percepatan produksi energi domestik melalui peningkatan lifting sumur eksisting,” Yannes menambahkan.
Pemerintah turut disarankan untuk mengembangkan energi baru terbarukan (EBT), agar dapat menurunkan ketergantungan impor yang masih tinggi semaksimal mungkin.
Dia mengungkapkan, fokus utama pemerintah harus memperkuat ketahanan energi di dalam negeri. Dengan begitu konflik antara Amerika Serikat serta Iran tidak terlalu terasa.
“Menjaga stabilitas fiskal dan mengurangi ketergantungan impor,” tegas Yannes.
Sebagai informasi Donald Trump, Presiden Amerika Serikat sempat melontarkan ancaman tindakan yang sangat kuat terhadap Iran.
Ancaman serangan ini muncul menyusul laporan mengenai pembantaian massal yang dilakukan rezim Teheran terhadap warga mereka sendiri.
Menurut laporan The Economist, jika serangan Negeri Paman Sam benar-benar terjadi maka opsi akan diambil Washington adalah serangan terbatas.
Targetnya berupa pemenggalan politik untuk menggulingkan kekuasaan para petinggi Iran telah berkuasa selama 47 tahun.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
09 Maret 2026, 07:14 WIB
05 Maret 2026, 16:00 WIB
04 Maret 2026, 15:00 WIB
01 Maret 2026, 18:00 WIB
01 Maret 2026, 08:26 WIB
Terkini
09 Maret 2026, 07:14 WIB
Toyota saat ini tengah mempelajari rute-rute baru untuk mengapalkan produk mereka sampai ke Timur Tengah
09 Maret 2026, 06:00 WIB
Pengendara mobil dan motor bisa memanfaatkan kehadiran SIM keliling Bandung untuk mengurus dokumen hari ini
09 Maret 2026, 06:00 WIB
Lima lokasi SIM keliling Jakarta kembali dibuka seperti biasa hari ini, simak persyaratan dan biayanya
09 Maret 2026, 06:00 WIB
Pembatasan ganjil genap Jakarta kembali dilakukan di sejumlah ruas untuk atasi kemacetan lalu lintas di Ibu Kota
08 Maret 2026, 15:00 WIB
VinFast menerima pemesanan 20.000 unit mobil listrk dari dua perusahaan transportasi yang akan dikirim hingga 2028
08 Maret 2026, 13:00 WIB
Toyota Astra Motor berhasil mencatatkan pangsa pasar sampai 31,2 persen di dalam negeri sepanjang tahun lalu
08 Maret 2026, 09:00 WIB
Main dealer motor Honda, Wahana Makmur Sejati perkenalkan lini produk aditif bahan bakar ramah lingkungan
07 Maret 2026, 15:00 WIB
Kehadiran Volvo ES90 dipercaya dapat menambah opsi mobil listrik di segmen premium bagi konsumen di Indonesia