Ikut Pertamina, Vivo Juga BP Kompak Naikan Harga BBM RON 92 dan 95
10 Juni 2026, 14:57 WIB
Ada berbagai upaya yang bisa dipilih pemerintah Indonesia untuk mengantisipasi kenaikan harga BBM di Tanah Air
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Memanasnya hubungan antara Iran dan Amerika Serikat berpotensi membawa dampak negatif. Terutama bagi harga minyak mentah dunia.
Jika hal tersebut sampai terjadi, maka banderol bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah negara, termasuk Indonesia akan terkerek.
Untuk itu pemerintah Indonesia harus mengantisipasi situasi ini. Hal tersebut agar para pengendara di dalam negeri tetap bisa membeli BBM dengan harga terjangkau.
“Nampaknya pemerintah perlu memperkuat koordinasi fiskal dan moneter guna menjaga stabilitas ekonomi makro kita,” ucap Yannes Martinus Pasaribu, pengamat otomotif serta akademisi Institut Teknologi Bandung (ITB) kepada KatadataOTO beberapa waktu lalu.
Yannes menjelaskan bahwa penyesuaian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) juga harus dilakukan.
Sehingga dapat mengantisipasi pembengkakan subsidi BBM di Tanah Air pada 2026, imbas konflik Amerika Serikat serta Iran.
“Sambil menahan penyesuaian harga BBM subsidi selama harga minyak global masih di bawah 100 dolar Amerika Serikat per barel,” lanjut dia.
Dengan begitu dampak dari gejolak di Timur Tengah, tidak langsung membebani masyarakat atau pengendara di Tanah Air.
Selain itu, kondisi tersebut juga tidak membawa dampak negatif bagi perekonomian negara. Sebab beberapa waktu belakangan situasinya memang sedang tidak stabil.
“Lalu segera percepat diversifikasi sumber pasokan minyak dengan percepatan produksi energi domestik melalui peningkatan lifting sumur eksisting,” Yannes menambahkan.
Pemerintah turut disarankan untuk mengembangkan energi baru terbarukan (EBT), agar dapat menurunkan ketergantungan impor yang masih tinggi semaksimal mungkin.
Dia mengungkapkan, fokus utama pemerintah harus memperkuat ketahanan energi di dalam negeri. Dengan begitu konflik antara Amerika Serikat serta Iran tidak terlalu terasa.
“Menjaga stabilitas fiskal dan mengurangi ketergantungan impor,” tegas Yannes.
Sebagai informasi Donald Trump, Presiden Amerika Serikat sempat melontarkan ancaman tindakan yang sangat kuat terhadap Iran.
Ancaman serangan ini muncul menyusul laporan mengenai pembantaian massal yang dilakukan rezim Teheran terhadap warga mereka sendiri.
Menurut laporan The Economist, jika serangan Negeri Paman Sam benar-benar terjadi maka opsi akan diambil Washington adalah serangan terbatas.
Targetnya berupa pemenggalan politik untuk menggulingkan kekuasaan para petinggi Iran telah berkuasa selama 47 tahun.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
10 Juni 2026, 14:57 WIB
10 Juni 2026, 07:00 WIB
01 Juni 2026, 19:22 WIB
04 Mei 2026, 11:50 WIB
01 Mei 2026, 16:20 WIB
Terkini
10 Juni 2026, 17:00 WIB
Yamaha Classy Modifest 2026 perdana di Surabaya sukses diikuti oleh puluhan modifikator di Jawa Timur
10 Juni 2026, 15:00 WIB
Honda menghadapi tantangan, terdepak dari lima besar merek mobil terlaris Mei 2026 secara wholesales
10 Juni 2026, 14:57 WIB
Sejumlah SPBU swasta melakukan penyesuaian harga BBM RON 92 serta 95, kebijakan ini berlaku mulai Rabu (10/06)
10 Juni 2026, 13:00 WIB
Konsumen disebut melakukan penundaan pembelian imbas ketidakpastian ekonomi, penjualan mobil terdampak
10 Juni 2026, 11:00 WIB
BYD kembali memantik pembicaraan soal keterlibatannya di ajang balap bergengsi Formula 1 pasca GP Monako
10 Juni 2026, 09:00 WIB
Massimo Rivola menilai kalau Jorge Martin tidak seharusnya melakukan kesalahan yang membuat kecelakaan
10 Juni 2026, 07:00 WIB
Pertamina Patra Niaga melakukan penyesuaian harga bbm non-subsidi, mulai dari Pertamax hingga Green 95
10 Juni 2026, 06:00 WIB
Kepolisian hari ini menghadirkan SIM keliling Bandung di dua tempat, hal ini agar memaksimalkan pelayanan