Suzuki e Sky Terdaftar di Indonesia yang Tengah Ramai EV Mungil
17 September 2026, 13:00 WIB
Insentif atau subsidi dari pemerintah memainkan peran penting mendongkrak angka penjualan mobil listrik
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Penjualan mobil listrik ternyata masih mengandalkan insentif untuk menggaet konsumen. Tidak hanya di Indonesia, ini juga berlaku di negara-negara lain termasuk Amerika Serikat.
Tanpa adanya subsidi dari pemerintah, lembaga survey J.D. Power memprediksi penjualan mobil listrik di Oktober jeblok 60 persen dibandingkan September.
Penurunan ini terjadi imbas diberhentikannya insentif dari pemerintah Amerika Serikat.
Perlu diketahui sebelumnya insentif mobil listrik dari pemerintah bernilai 7.500 USD atau sekitar Rp 124,5 jutaan dalam kurs rupiah.
Mobil listrik bekas juga kebagian dengan nilai 4.000 USD (Rp 66,4 jutaan).
Penjualan retail mobil listrik di AS per Oktober 2025, menurut J.D. Power dan GlobalData diprediksi 54.673 unit.
Meskipun terlihat cukup tinggi, capaian itu turun 43,1 persen dari penjualan retail mobil listrik AS di Oktober 2024 yakni 96.085 unit.
“Industri otomotif tengah melalui (fase) pertimbangan ulang yang signifikan di segmen kendaraan listrik,” kata Tyson Jominy, J.D. Power Data Analyst dikutip dari Carscoops, Selasa (28/10).
Lebih lanjut dia menjelaskan, absennya insentif mobil listrik akan berdampak sangat besar terhadap penjualan.
Kemudian ada perubahan minat dari konsumen yang mulai terlihat belakangan ini.
“Koreksi di pasar mobil listrik belakangan menggarisbawahi satu pelajaran penting, konsumen lebih suka jika ada banyak opsi powertrain,” kata Jominy.
Seiring pemberhentian insentif dan berkurangnya pembeli, harga mobil listrik secara umum justru disebut kerap mengalami kenaikan.
Namun berbagai merek berusaha untuk memberikan diskon sendiri kepada para konsumen sehingga harga mobil listrik yang ditawarkan semakin atraktif.
Di Indonesia, mobil listrik yang memenuhi persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 40 persen masih mendapatkan insentif pajak dari pemerintah.
Dengan insentif pun, penjualan mobil listrik belum bisa dibilang stabil dan kerap mengalami penurunan.
Apalagi dengan bervariasinya model mobil hybrid ditawarkan di Indonesia. Konsumen disuguhkan berbagai opsi yang fleksibel dan tidak sepenuhnya mengandalkan infrastruktur pengisian daya.
Di sisi lain, insentif buat mobil listrik impor disetop di akhir 2025. Ini juga berlaku untuk merek mobil listrik terlaris di dalam negeri yakni BYD.
Artinya BYD perlu mulai merakit lokal mobilnya di 2026. Jika tidak maka harga produk mereka berpotensi naik dan bank guarantee-nya hangus.
Artikel Terpopuler
1
2
3
4
5
Artikel Terkait
17 September 2026, 13:00 WIB
15 September 2026, 13:00 WIB
15 September 2026, 09:00 WIB
14 September 2026, 18:01 WIB
10 September 2026, 07:00 WIB
Terkini
18 September 2026, 22:02 WIB
Automechanika 2026 akan digelar di Jakarta, diharapkan bisa gairahkan pasar komponen kendaraan di Indonesia
18 September 2026, 17:00 WIB
Jorge Martin mengaku siap untuk kembali bersaing dengan Marc Marquez di MotoGP Austria 2026 di akhir pekan
18 September 2026, 16:50 WIB
Penjualan Honda pulih di Agustus 2026, namun masih ada PR besar untuk kembali ke lima besar merek terlaris
18 September 2026, 09:36 WIB
Wuling Eksion PHEV hadir untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang tidak hanya bermobilitas di dalam kota
18 September 2026, 06:00 WIB
Mobil pribadi dengan pelat nomor yang tidak sesuai diharapkan tidak melintas area Ganjil Genap Jakarta
18 September 2026, 06:00 WIB
Menjelang akhir pekan, SIM keliling Jakarta masih tetap beroperasi di lima lokasi di sekitar ibu kota
18 September 2026, 06:00 WIB
Sebelum akhir pekan, SIM keliling Bandung tetap beroperasi untuk memudahkan para pengendara di Kota Kembang
17 September 2026, 22:00 WIB
Sejumlah motor matic murah dari Suzuki dan TVS mengalami kenaikan bervariasi pada periode September 2026