10 Mobil Listrik Terlaris Juli 2026, Wuling Aira ev Moncer
15 Agustus 2026, 20:53 WIB
Insentif atau subsidi dari pemerintah memainkan peran penting mendongkrak angka penjualan mobil listrik
Oleh Serafina Ophelia
KatadataOTO – Penjualan mobil listrik ternyata masih mengandalkan insentif untuk menggaet konsumen. Tidak hanya di Indonesia, ini juga berlaku di negara-negara lain termasuk Amerika Serikat.
Tanpa adanya subsidi dari pemerintah, lembaga survey J.D. Power memprediksi penjualan mobil listrik di Oktober jeblok 60 persen dibandingkan September.
Penurunan ini terjadi imbas diberhentikannya insentif dari pemerintah Amerika Serikat.
Perlu diketahui sebelumnya insentif mobil listrik dari pemerintah bernilai 7.500 USD atau sekitar Rp 124,5 jutaan dalam kurs rupiah.
Mobil listrik bekas juga kebagian dengan nilai 4.000 USD (Rp 66,4 jutaan).
Penjualan retail mobil listrik di AS per Oktober 2025, menurut J.D. Power dan GlobalData diprediksi 54.673 unit.
Meskipun terlihat cukup tinggi, capaian itu turun 43,1 persen dari penjualan retail mobil listrik AS di Oktober 2024 yakni 96.085 unit.
“Industri otomotif tengah melalui (fase) pertimbangan ulang yang signifikan di segmen kendaraan listrik,” kata Tyson Jominy, J.D. Power Data Analyst dikutip dari Carscoops, Selasa (28/10).
Lebih lanjut dia menjelaskan, absennya insentif mobil listrik akan berdampak sangat besar terhadap penjualan.
Kemudian ada perubahan minat dari konsumen yang mulai terlihat belakangan ini.
“Koreksi di pasar mobil listrik belakangan menggarisbawahi satu pelajaran penting, konsumen lebih suka jika ada banyak opsi powertrain,” kata Jominy.
Seiring pemberhentian insentif dan berkurangnya pembeli, harga mobil listrik secara umum justru disebut kerap mengalami kenaikan.
Namun berbagai merek berusaha untuk memberikan diskon sendiri kepada para konsumen sehingga harga mobil listrik yang ditawarkan semakin atraktif.
Di Indonesia, mobil listrik yang memenuhi persyaratan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) minimal 40 persen masih mendapatkan insentif pajak dari pemerintah.
Dengan insentif pun, penjualan mobil listrik belum bisa dibilang stabil dan kerap mengalami penurunan.
Apalagi dengan bervariasinya model mobil hybrid ditawarkan di Indonesia. Konsumen disuguhkan berbagai opsi yang fleksibel dan tidak sepenuhnya mengandalkan infrastruktur pengisian daya.
Di sisi lain, insentif buat mobil listrik impor disetop di akhir 2025. Ini juga berlaku untuk merek mobil listrik terlaris di dalam negeri yakni BYD.
Artinya BYD perlu mulai merakit lokal mobilnya di 2026. Jika tidak maka harga produk mereka berpotensi naik dan bank guarantee-nya hangus.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
15 Agustus 2026, 20:53 WIB
12 Agustus 2026, 19:55 WIB
12 Agustus 2026, 09:00 WIB
11 Agustus 2026, 20:06 WIB
08 Agustus 2026, 07:12 WIB
Terkini
15 Agustus 2026, 20:53 WIB
Mobil listrik masih menunjukkan tren positif, model anyar seperti Wuling Aira ev catatkan wholesales tinggi
15 Agustus 2026, 18:57 WIB
Suzuki XL7 Facelift yang baru diluncurkan beberapa pekan lalu, sudah mendapat ribuan pemesanan dari konsumen
15 Agustus 2026, 07:21 WIB
Presiden Prabowo berambisi agar Indonesia memiliki mobil listrik nasional serta memajukan industri otomotif
14 Agustus 2026, 20:50 WIB
Fabio Quartararo mengatakan bahwa ia berniat meninggalkan Yamaha saat melakoni pengujian di Sirkuit Valencia
14 Agustus 2026, 20:48 WIB
Farizon V8E resmi diproduksi di pabrik Handal Indonesia Motor (HIM), kemudian disusul dengan model F3E
14 Agustus 2026, 11:00 WIB
Merek mobil mewah memperlihatkan tren negatif di periode Juli 2026, BMW masih memimpin disusul Mercedes-Benz
14 Agustus 2026, 09:00 WIB
Penjualan BMW disebut positif selama perhelatan GIIAS 2026, tuai respons positif terhadap BMW iX3 Neue Klasse
14 Agustus 2026, 07:00 WIB
Motor listrik nasional baru saja diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto dengan menggandeng Indika