BMW iX3 Siap Debut di GIIAS 2026, Dijual Terbatas
19 Maret 2026, 11:34 WIB
BMW menilai dengan diterapkan PPN 12 persen dan opsen PKB juga BBNKB jadi kesempatan untuk membantu negara
Oleh Satrio Adhy
KatadataOTO – Sejumlah kebijakan baru di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menjadi polemik. Seperti penerapan PPN 12 persen di awal 2025.
Kemudian masih ada opsen PKB (Pajak Kendaraan Bermotor) dan BBNKB (Bea Balik Nama Kendaraan) yang direncanakan berjalan pada 5 Januari mendatang.
Hal tersebut memicu semua orang bersuara. Termasuk para pabrikan otomotif, mereka merasa dua kebijakan di atas cukup memberatkan.
Sebab berpotensi membuat harga mobil baru terkerek tahun depan. Dengan begitu bakal berdampak pada daya beli masyarakat.
Lalu akan membuat penjualan kendaraan roda empat kembali lesu. Sehingga industri otomotif di Tanah Air sulit untuk bangkit.
Akan tetapi nada berbeda justru dilontarkan oleh BMW Astra. Menurut mereka adanya PPN 12 persen dan opsen PKB maupun BBNKB tidak terlalu berdampak.
Apalagi BMW Astra menyasar konsumen dengan segmentasi kelas menengah ke atas atau premium. Dinilai kalau para calon pembeli lebih mudah memahami kebijakan anyar dari pemerintah.
“Kami mengemas kepada pelanggan kita dengan mengatakan ini adalah kesempatan para konsumen di segmen premium, yang notabene punya rezeki berlebih untuk berbagi ke masyarakat Indonesia, dengan cara yang benar yaitu melalui pajak,” ujar Teguh Widodo, Manajer Operasional BMW Astra saat ditemui di Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.
Teguh menilai penerapan PPN 12 persen serta opsen BBNKB dan PKB justru jadi kesempatan bagi konsumen BMW buat turut andil dalam pembangunan negara.
Dengan begitu diharapkan para konsumen mau mengerti maupun membantu menjalani peraturan baru dari pemerintah.
“Rasanya semua masyarakat pasti setuju bahwa yang bisa membeli BMW kan duitnya banyak. Jadi wajar kalau berbagi, kira-kira seperti itu,” lanjut dia.
Lebih jauh dia mengaku kalau BMW Astra justru memetik hasil positif dari wacana penerapan PPN 12 persen maupun opsen.
Satu di antaranya adalah kenaikan jumlah SPK (Surat Pemesanan Kendaraan) mobil-mobil BMW selama beberapa bulan terakhir, terutama di Desember 2024.
“Ada (kenaikan SPK), saya kan ngeliat data serta sejumlah konsumen bertemu saya bilang tolong ya diproses. Mereka tidak mau kena PPN 12 persen,” tegas Teguh.
Menurut dia hal tersebut cukup normal terjadi, sebab sebagai langkah antisipasi masyarakat agar bisa membeli kendaraan roda empat asal benua biru sebelum ada kenaikan banderol.
Sekadar mengingatkan sebelumnya Presiden Prabowo mengatakan bahwa PPN 12 persen bakal diterapkan dengan selektif. Seperti hanya untuk mobil, rumah serta apartemen mewah saja.
Artikel Terpopuler
Artikel Terkait
19 Maret 2026, 11:34 WIB
17 Maret 2026, 07:00 WIB
16 Maret 2026, 09:00 WIB
20 Februari 2026, 15:00 WIB
19 Februari 2026, 14:00 WIB
Terkini
03 April 2026, 06:00 WIB
Sebelum akhir pekan, SIM keliling Jakarta masih dibuka di lima tempat berbeda tersebar di sekitar Ibu Kota
03 April 2026, 06:00 WIB
Meski menjelang akhir pekan, SIM keliling Bandung tetap dihadiri demi memudahkan pengendara di Kota Kembang
02 April 2026, 17:00 WIB
PLN ungkap jumlah pemakaian SPKLU saat libur Lebaran 2026 alami peningkatan dibanding periode serupa tahun lalu
02 April 2026, 16:47 WIB
Wuling Darion Plug-in Hybrid dilengkapi spesifikasi mumpuni dan irit, cocok dibawa berkendara jarak jauh
02 April 2026, 13:00 WIB
Desain mobil baru VinFast identik dengan VF 7, namun ada sejumlah perbedaan terlihat pada eksteriornya
02 April 2026, 11:00 WIB
Presiden Prabowo bertemu dengan petinggi Toyota dan Mitsubishi di Jepang demi membahas kelanjutan investasi
02 April 2026, 09:00 WIB
Yadea bakal meluncurkan motor listrik terbarunya di Indonesia dan kendaraan tersebut memiliki teknologi pintar
02 April 2026, 07:57 WIB
Pada awal April 2026, seluruh pabrikan nampak tidak menaikan harga mobil LCGC mereka di pasar Indonesia